Dark/Light Mode

Lindungi Kelas Menengah Untuk Indonesia Emas 2045

Jangan Sampai Penduduk Kita Menua Sebelum Kaya

Selasa, 3 September 2024 07:00 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah diingatkan membuat terobosan, memberikan insentif, serta meningkatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan mempermudah perizinan berusaha. Langkah ini penting seiring dengan menurunnya jumlah kelas menengah di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menilai, penurunan persentase kelas menengah di In­donesia tidak terlepas dari scar­ring effect pandemi Covid-19.

Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di hampir seluruh dunia turun dan dispari­tas kesejahteraan meningkat.

Baca juga : Miris, PAD DKI Masih Bocor Di Sana-Sini…

Meski kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi kondisi kelas menengah semakin memprihatinkan karena memi­liki informal sector yang sangat besar dengan kualitas tenaga kerja yang didominasi oleh unskilled workers.

“Penciptaan lapangan kerja berkualitas dan penyerapan tenaga kerja cenderung sangat lambat pasca pandemi Covid-19,” kata Shinta kepada Rakyat Merdeka, Senin (2/9/2024).

Menurut Shinta, kondisi ini seharusnya bisa diatasi dengan stimulus produktivitas ekonomi dengan menciptakan reformasi iklim usaha atau investasi yang dibutuhkan di dalam negeri agar tercipta kinerja usaha yang lebih tinggi, termasuk melalui ekspor dan investasi.

Baca juga : Mbappe Sukses Pecahkan Telor

Dia bilang, stimulus ini setidaknya menargetkan sektor-sektor vital pendukung pertum­buhan daya beli kelas menengah. Yakni pemberdayaan UMKM sebagai pemberi kerja terbesar di Indonesia, peningkatan produk­tivitas dan daya saing sektor manufaktur dan jasa, yang men­jadi leading sectors penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar nasional. Termasuk dukungan transformasi sektor ekonomi informal menjadi sek­tor ekonomi formal.

“Kunci utamanya ada pada simplifikasi regulasi usaha, peningkatan efisiensi dan peningkatan daya saing cost of do­ing business di Indonesia,” ujar Shinta yang juga Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan In­dustri (Kadin) Indonesia ini.

Dia meminta, sedapat mung­kin semua komponen cost usaha, termasuk biaya untuk memenuhi berbagai ketentuan dan izin usaha di Indonesia harus ditu­runkan ke level yang bersaing di kawasan.

Baca juga : Servis Buruk, Gauff Tergusur

Dia juga menekankan, eko­sistem pemberdayaan UMKM dan ekspor harus dipelihara dari sekarang agar industri na­sional berdaya saing ekspor. Serta memiliki kinerja usaha maksimal untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas yang lebih banyak.

Selain itu, adopsi teknologi in­dustri baru dan penciptaan green supply chain harus dipercepat. Ini penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional sehingga bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi kelas menengah.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.