Dark/Light Mode

BPOM Gandeng KBRI Jepang Kerek Daya Saing Industri Pangan

Senin, 9 September 2024 18:44 WIB
Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menyerahkan cendera mata kepada Duta Besar RI untuk Jepang, Heri Akhmadi, di Tokyo, Minggu (8/9/2024). (Foto: Ist)
Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menyerahkan cendera mata kepada Duta Besar RI untuk Jepang, Heri Akhmadi, di Tokyo, Minggu (8/9/2024). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar melaksanakan, courtesy call dengan Kedutaan Besar Indonesia untuk Jepang.

Hal ini sebagai bagian dari persiapan menghadiri 4th Asia Pacific USP Convention Regional Chapter Meeting, pada Minggu (8/9/2024). 

Pertemuan ini membahas berbagai isu strategis terkait sektor farmasi dan berbagai peluang memperkuat kerja sama di bidang pangan olahan. Pertemuan ini juga difokuskan pada persiapan untuk menyelenggarakan Indonesia-Japan Business Forum on Drug and Food Manufacturing, sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas dan daya saing produk Indonesia di pasar Jepang dan global.

Taruna mengatakan, melalui pertemuan ini, BPOM dan Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk Jepang sepakat untuk terus memperkuat kerja sama bilateral dalam rangka meningkatkan kualitas, keamanan, dan daya saing produk Indonesia. BPOM dan KBRI Jepang akan terus berkoordinasi erat, memfasilitasi dialog dengan pihak industri, serta mendorong pelaku usaha untuk menerapkan standar internasional yang lebih tinggi. 

"Hal ini diharapkan dapat meminimalisir hambatan-hambatan ekspor, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia di Jepang dan negara-negara lainnya," kata Taruna.

Baca juga : Terapkan Cofiring, PLTU Jeranjang Kerek Ekonomi Warga Lombok Dan Jaga Lingkungan

Karena itu, Taruna menegaskan, komitmen BPOM untuk berkolaborasi dengan Kedubes RI di Jepang dalam menuntaskan berbagai kendala yang dihadapi industri pangan. Apalagi BPOM memiliki peran krusial dalam pengawasan dan peningkatan kualitas produk pangan olahan di Indonesia. 

Dengan semakin kompleksnya regulasi keamanan pangan di berbagai negara, termasuk Jepang, BPOM siap mendampingi pelaku industri dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip GMP, GAP, serta standar keamanan pangan lainnya secara lebih efektif.

"Dengan semangat kerjasama yang kuat dan komitmen bersama, Indonesia siap menghadapi tantangan global dan terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam sektor farmasi dan pangan olahan," tegasnya.

Lebih lanjut, pakar neurologi science ini menyampaikan, bahwa forum kerja sama yang selama ini telah terjalin, seperti Indonesia-Japan Business Forum on Drug and Food Manufacturing, akan terus diperkuat. Forum ini menjadi wadah strategis untuk membahas berbagai tantangan dan peluang kerja sama dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk farmasi serta pangan olahan antara kedua negara. 

"Dengan komitmen bersama, diharapkan kolaborasi ini mampu memberikan solusi konkret untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapi oleh pelaku industri pangan, sekaligus meningkatkan ekspor produk Indonesia ke Jepang," sebutnya.

Baca juga : Mengenang Sosok Sederhana Faisal Basri

Selain itu, kata dia, pentingnya meningkatkan sinergi lintas lembaga melalui forum Indonesia-Japan Business Forum on Drug and Food Manufacturing. Forum ini telah menjadi platform penting untuk membahas isu-isu regulasi, standar mutu, serta peluang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Jepang, khususnya di sektor farmasi dan pangan. 

"Kolaborasi yang berkelanjutan antara BPOM, KBRI Jepang, dan para pelaku industri Indonesia merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa produk-produk farmasi dan pangan Indonesia tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar global," tegasnya. 

Dengan dukungan diplomasi ekonomi yang kuat, Taruna meyakini kerjasama ini akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui peningkatan ekspor produk-produk unggulan, baik di sektor farmasi maupun pangan olahan.

Di tempat yang sama, Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi menyampaikan, apresiasi atas kemajuan yang telah dicapai oleh industri farmasi Indonesia, terutama terkait penerapan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) dalam sistem penjaminan mutu produk obat. Menurutnya, implementasi GMP telah memastikan bahwa produk-produk farmasi dari Indonesia mampu memenuhi standar kualitas dan keamanan yang dipersyaratkan oleh pasar Jepang. 

"Sistem yang kuat ini telah membuka pintu bagi produk farmasi Indonesia untuk diterima secara luas di pasar internasional,"ujarnya. 

Baca juga : Teken Perjanjian Kerja Bersama 2024-2026, BRI dan Serikat Pekerja Perkuat Hubungan Industrial

Heri menekankan, keberhasilan dalam sektor farmasi ini perlu ditularkan ke sektor pangan. Toh masih banyak produk pangan ekspor dari Indonesia yang mengalami penolakan di pasar Jepang akibat belum terpenuhinya standar mutu dan keamanan yang diharapkan. 

Menurut dia, banyak produk yang tidak lulus uji karena belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip Good Agriculture Practice (GAP) dan GMP di sepanjang rantai produksinya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendorong implementasi standar-standar internasional ini pada produk pangan, guna memperkuat daya saingnya di pasar global. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.