Dark/Light Mode

Dampak Hilirisasi Di Era Pemerintahan Jokowi

Ekonomi Rakyat Meningkat, Pendapatan Daerah Melonjak

Senin, 23 September 2024 08:55 WIB
Presiden Jokowi meninjau proyek hilirisasi di Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Rabu (20/3/2024). (Foto: Setpres/Muchlis Jr)
Presiden Jokowi meninjau proyek hilirisasi di Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Rabu (20/3/2024). (Foto: Setpres/Muchlis Jr)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hilirisasi, sebagai salah satu program kebanggaan Pemerintah terbukti telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Pendapatan masyarakat, terutama di sekitar lokasi hilirisasi naik tajam. Pendapat Asli Daerah (PAD) juga melonjak. Hilirisasi juga telah menaikkan nilai tambah dalam negeri, dan membuka banyak lapangan pekerjaan. Masyarakat di sekitar hilirisasi memberikan testimoninya kepada Rakyat Merdeka.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ada dua provinsi yang mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi pada 2023 berkat hilirisasi. Keduanya adalah Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Di Maluku Utara, ada dua smelter pengolah bijih nikel, yaitu PT Wanatiara Persada dan Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) ANTAM. Selesai dibangun pada 2022, dan setelah beroperasi, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara melonjak menjadi 23,89 persen pada kuartal II-2023. Angka ini naik tajam dari 16,49 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Hamdani Abdul Rahim (22 tahun), warga Dusun I Desa Lelilef Woebulen, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang tinggal dekat smelter, merasakan manfaat hilirisasi. Daerahnya berkembang pesat. Yang paling nampak adalah masifnya pembangunan infrastruktur, menjamurnya pelaku UMKM, dan bisnis hunian tempat tinggal.

“Tingkat perekonomian meningkat. Usaha di sini juga jadi sangat banyak. Misalnya, kos-kosan dan warung sembako. Sampai lahan kosong pun hampir tidak ada, karena semua area dibangun,” tuturnya, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Di Sulawesi Tengah, juga ada dua smelter besar yang sudah beroperasi sejak 2022. Yaitu PT Tsingshan Steel Indonesia dan PT Sulawesi Mining Investment. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi 11,86 persen pada kuartal II-2023, di wilayah ini.

Baca juga : PKS Pede Nggak Akan Ditinggal Prabowo

Manfaat keberadaan smelter juga dirasakan oleh Sufran Tanan Tanadi, warga Desa Tompira, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Kampung halamannya berkembang pesat setelah proyek hilirisasi berjalan. Lapangan kerja di Morowali Utara terbuka, begitu juga dengan usaha-usaha baru di masyarakat. “Pendapatan masyarakat meningkat," ucap Sufran, dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka.

Di daerahnya juga berkembang pesat pembangunan bisnis. Mulai dari kelas UMKM, kos-kosan hingga hotel. “Seakan-akan sulap. Dulunya desa menjadi sebuah kota. Karena semua yang ada di kota, sekarang hampir ada di beberapa pelosok pedesaan yang bersentuhan dengan wilayah tambang,” tutur Sufran.

Berkah lainnya, banyak desa mendapat kucuran program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan tambang. Sehingga terjadi pemberdayaan masyarakat, dan menghidupkan nadi ekonomi wilayah. "Hadirnya hilirisasi begitu luar biasa. Meningkatkan perekonomian, pendapatan masyarakat juga meningkat, serta usaha-usaha baru tumbuh secara mandiri," tuturnya.

Bupati Morowali Utara Delis Julkarson Hehi mengatakan, hilirisasi di wilayahnya menjadi inti dari pertumbuhan ekonomi. “Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan,” katanya, kepada Rakyat Merdeka.

Menurutnya, ore atau bijih mentah hasil tambang, dulunya langsung diekspor ke China. Tapi sekarang, setelah Presiden Jokowi menggalakan program hilirisasi, bijih mentah hanya boleh diekspor setelah diolah. Sehingga hasil tambah harus masuk dulu ke smelter. Dampaknya, ternyata sangat signifikan untuk perekonomian masyarakat. Lapangan pekerjaan jadi terbuka lebar. Catatan Delis, industri pertambangan di wilayahnya, telah menyerap puluhan ribu angkatan kerja. Dan menjamurnya bisnis rakyat, seperti rumah-rumah kost, toko kebutuhan karyawan dan sentra-sentra UMKM yang dibangun masyarakat setempat.

“PAD (Pendapatan Asli Daerah) kami meroket. Bersumber dari bagi hasil sektor penambangan. Juga pendapatan dari pajak. Mulai dari pajak air permukaan, pajak air bawah tanah, hingga pajak galian C,” tutur Delis.

Baca juga : Soal Isu PDIP Masuk Pemerintahan, Koalisi Serahkan ke Prabowo

Saat Delis baru menjabat di 2021, PAD Morowali Utara berkisar di angka Rp 42 miliar sampai Rp 48 miliar per tahun. Ketika berhasil memaksimalkan sumber pendapatan lain yang erat kaitannya dengan tambang, PAD-nya tembus menjadi Rp 102 miliar. “Dalam enam bulan menjabat, alhamdulillah PAD naik lebih dari 100 persen,” ungkapnya.

Di tahun keduanya menjabat, kenaikan PAD Morowali Utara tembus Rp 135 miliar. Begitu juga dengan Dana Bagi Hasil (DBH). Saat awal menjabat, DBH hanya di Rp 69 miliar, tapi saat ini tembus Rp 335 miliar. “Kurang lebih 400-500 persen kenaikannya,” kata Delis.

Data Kementerian Perindustrian, sampai Maret 2024, ada 44 smelter yang beroperasi di bawah binaan Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE). Jumlah tersebut belum termasuk 19 smelter nikel yang sedang dalam tahap konstruksi dan tujuh lainnya dalam tahap studi kelayakan. Dengan demikian, total proyek smelter nikel di Indonesia per Maret 2024 mencapai 70 proyek.

Catatan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), kegiatan hilirisasi pertambangan terbukti menciptakan peluang tenaga kerja baru di wilayah sekitar. Hal ini sesuai upaya Pemerintah dalam rangka pemerataan ekonomi di Indonesia, khususnya di wilayah yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) tambang.

“Hilirisasi membentuk pertumbuhan ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja baru. Yang awalnya berprofesi sebagai pemetik kelapa atau serabutan, kemudian menjadi pekerja di industri,” kata Asisten Deputi Pertambangan Kemenko Marves Tubagus Nugraha.

Peralihan pekerjaan ini akan meningkatkan pendapatan, khususnya di tingkatan rumah tangga. Sendi-sendi perekonomian pun bergeliat.

Baca juga : Hilirisasi Banyak Membawa Berkah, Investasi Naik & Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), hilirisasi melecut kinerja industri logam. Pada kuartal I-2024, industri logam tumbuh 11-18 persen. Dan ekspor logam meningkat dari 8,74 persen menjadi 16,74 persen.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sangat senang. Berkat hilirisasi, Indonesia kini berhasil mengekspor 130 turbin angin ke Amerika Serikat. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Itu the first wind turbine yang akan dipasang di utara Long Island 15 sampai 20 mil, dengan kapasitas yang direncanakan sebesar sekitar 2,1 gigawatt. Jadi, ini sebuah terobosan juga dipasangnya di laut dan buatan pabrik Indonesia di Batam,” ucap Airlangga, bangga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.