Dark/Light Mode

Penyaluran KUR BRI Capai 76,44 Persen Senilai Rp 126,12 Triliun Per Agustus 2024

Senin, 23 September 2024 17:54 WIB
BRI terus memperluas akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku UMKM di Indonesia. (Foto: Dok. BRI)
BRI terus memperluas akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku UMKM di Indonesia. (Foto: Dok. BRI)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 126,12 triliun kepada 2,6 juta debitur pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) hingga akhir Agustus 2024.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pihaknya optimistis di tahun ini dapat menyalurkan KUR sesuai dengan kuota yang telah diberikan oleh Pemerintah.

Penyaluran KUR BRI hingga akhir Agustus 2024 setara dengan 76,44 persen dari total target penyaluran di tahun 2024 sebesar Rp 165 triliun.

“BRI optimistis dapat memenuhi target penyaluran KUR dari Pemerintah di tahun ini,” katanya di Jakarta, Senin (23/9/2024).

Jika dirinci, mayoritas penyaluran KUR BRI didominasi oleh sektor produksi sebesar 59,41 persen. Sektor produksi ini diantaranya sektor pertanian, perikanan, industri dan jasa lainnya.

Baca juga : Naik 20 Persen, KAI Logistik Angkut 17 Juta Ton Barang Per Agustus 2024

Sementara itu, BRI juga berhasil menjaga kualitas KUR yang disalurkan. Hal ini tercermin dari rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) KUR yang berada di kisaran 2,31 persen. BRI juga telah menyiapkan berbagai strategi.

Pihaknya akan terus menyalurkan KUR secara selektif, mendorong peningkatan recovery rate, serta melakukan monitoring pinjaman secara ketat, baik secara offline maupun online.

Supari mengatakan, secara umum, strategi BRI untuk segmen mikro dan ultra mikro hingga akhir tahun 2024 yakni menerapkan penyaluran kredit yang selektif (selective growth).

“BRI juga akan memperkuat positioning bisnis mikronya dalam masyarakat dengan konsep ecosystem centric dan strategi,” ucapnya.

Terpisah, Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan, perseroan telah memiliki strategi dalam memberdayakan UMKM sehingga layak dilirik oleh perbankan dan mendapatkan pembiayaan serta naik kelas.

Baca juga : Generali Indonesia Bayarkan Klaim Nasabah Hingga Rp 866,5 M Per Agustus 2024

UMKM itu katanya, lebih membutuhkan edukasi daripada advokasi. Kenapa demikian? Kalau advokasi sebenarnya menempatkan UMKM di bawah. Di bawah bank, di bawah lembaga pembiayaan.

“Kalau diedukasi sebenarnya menempatkan UMKM sejajar dengan bank sebagai mitra,” tuturnya.

Menurut Sunarso terdapat lima hal yang perlu diedukasi kepada UMKM. Pertama, tentang spirit atau semangat kewirausahaan.

“Itu yang harus kita educate kepada UMKM. Karena pelaku UMKM sangat banyak sehingga masih beragam level-nya,” imbaunya.

Kedua, yaitu tentang kemampuan mereka melakukan administrasi dan manajerial. Ia mengatakan, hal tersebut merupakan pekerjaan rumah yang penting. Sebab kedua hal tersebut masih merupakan area yang sangat luas untuk dikerjakan.

Baca juga : Kinerja Moncer & Penyaluran Kredit Capai 17,4 Triliun, Nobu Bank Raih Penghargaan

Ketiga, tentang aksesibilitas UMKM terhadap informasi, pasar, teknologi dan pendanaan.

Keempat, Sunarso mengatakan UMKM juga harus diedukasi soal keberlanjutan. Baik itu tentang keberlanjutan bisnis terlebih juga keberlanjutan lingkungan.

Terakhir, Sunarso menekankan pentingnya edukasi soal prinsip Good Corporate Governance kepada UMKM.

“Kita perlu educate UMKM untuk menjalankan bisnis dengan prinsip-prinsip GCG dengan baik. Itulah yang akan menjadikan UMKM bertumbuh dan berkembang berkelanjutan,” pungkas Sunarso.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.