Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof Didik Beberin PR Prabowo: Perbaiki Ekonomi Kelas Menengah
Senin, 21 Oktober 2024 14:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Prof. Didik J. Rachbini, Rektor Universitas Paramadina, menyoroti tantangan ekonomi yang menjadi warisan Presiden Jokowi dan harus diselesaikan oleh pemerintahan Prabowo Subianto.
Isu ekonomi menjadi fokus utama yang menurut Didik sangat krusial, terutama terkait pertumbuhan kelas menengah yang menurun, sebagaimana ditemukan dalam survei Badan Pusat Statistik (BPS) dan penelitian Universitas Indonesia.
“Kelas menengah yang menurun mengindikasikan banyak hal, dan ini berdampak langsung pada melemahnya konsumsi sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Jika tidak ada kerja keras, mencapai target pertumbuhan 5 persen akan sulit, apalagi mencapai janji Prabowo untuk tumbuh 8 persen,” jelas Didik dalam Forum Insan Cita “Isu-isu Krusial yang Dihadapi Pemerintahan Parabowo Subianto: Bidang Ekonomi dan Pangan”, Minggu (20/10/2024).
Didik menambahkan, target pertumbuhan ekonomi 7-8 persen memang pernah tercapai pada era 1980-an, namun saat itu didukung oleh kebijakan ekonomi industri yang berorientasi ekspor dengan fokus pada daya saing internasional. “Kunci sukses pada masa itu adalah strategi ekonomi yang kuat, didukung oleh industri yang kompetitif serta investasi berkualitas, baik dari dalam maupun luar negeri,” katanya.
Baca juga : Profil Muhammad Herindra, Jebolan Terbaik Akmil Yang Dilantik Jadi Kepala BIN
Namun, kondisi saat ini berbeda. Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di angka 5 persen atau bahkan kurang dalam satu dekade terakhir. “Selama lima tahun terakhir, ekonomi kita tidak berkembang secara dinamis, peluang kerja menurun, dan tidak ada sektor unggulan yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi,” tambah Didik.
Ia juga menyebut, berdasarkan riset dari Continuum, indeks konsumen Indonesia menunjukkan kondisi yang lemah, mirip dengan kendaraan yang melaju dari 80 km/jam kemudian turun drastis ke 20 km/jam, sehingga membutuhkan upaya besar untuk mengembalikan kecepatan.
Dalam pandangannya, salah satu penyebab lemahnya ekonomi Indonesia adalah rendahnya tax ratio yang menurun selama masa pemerintahan Jokowi, dari sekitar 12 persen pada era SBY menjadi sekitar 8-9 persen. Kapasitas fiskal Indonesia juga dinilai masih kecil, sehingga kemampuan negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.
Didik juga membandingkan ekonomi Indonesia dengan negara tetangga, seperti Filipina dan Vietnam, yang kini melampaui Indonesia meskipun industri mereka sempat lemah pada awal 2000-an. “Vietnam lebih unggul dalam teknologi, dengan investasi gabungan dari sektor nasional dan internasional, sementara Indonesia masih bergantung pada pasar domestik tanpa daya saing kuat di pasar internasional,” ujarnya.
Baca juga : Pedagang Pasar Cemas Deflasi Pukul Penjualan
Menurutnya, tantangan terbesar bagi Prabowo adalah menciptakan strategi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, terutama dalam sektor industri yang harus didukung oleh teknologi tinggi. Didik menilai bahwa infrastruktur yang dibangun pada masa Jokowi memang menjadi keuntungan, tetapi tidak diikuti oleh strategi pertumbuhan yang jelas.
“Infrastruktur, pembangunan IKN, KCIC, dan tol laut adalah langkah adhoc, namun yang dibutuhkan adalah strategi ekonomi yang lebih fokus pada pengembangan industri unggulan,” ujarnya.
Selain itu, Didik juga menyoroti masalah pengangguran dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pengangguran terselubung di Indonesia masih menjadi masalah serius, dengan banyak pekerja hanya bekerja 4 jam per hari.
“Sementara, kualitas SDM kita tercermin dalam indeks PISA yang tidak bergerak selama 5-10 tahun terakhir, yang menunjukkan adanya masalah dalam penempatan kebijakan di kementerian terkait,” katanya.
Sebagai penutup, Didik meyakini bahwa Prabowo Subianto memiliki potensi besar untuk membawa perubahan, namun tantangan ekonomi yang diwariskan oleh Jokowi akan menjadi ujian tersendiri. “Jika strategi yang tepat tidak diterapkan, maka mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen seperti yang dijanjikan akan sangat sulit,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya