Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Anindya Buka Peluang Kerja Sama dengan Pengusaha AS Garap Program Prabowo
Selasa, 12 November 2024 13:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie membuka peluang kerja sama dengan para pengusaha profesional Amerika Serikat (AS) untuk ikut dalam program pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yaitu pembangunan rumah murah 3 juta per tahun, program ketahanan pangan, dan ketahanan energi.
Hal itu disampaikan Anindya saat melakukan pertemuan bilateral dengan pimpinan US Chamber of Commerce (Kamar Dagang AS), di Kantor Pusat Kamar Dagang AS, yang berada tepat di depan Gedung Putih, Washington, DC, AS, Senin (11/11/2024) jelang siang waktu setempat.
“Kami bicara mengenai food security (ketahanan pangan), energy security (ketahanan energi), dan juga bicara mengenai 3 juta rumah murah. Kami juga bicara mengenai bagaimana relasi AS dan China, serta peran Indonesia untuk melanjutkan yang telah dibuat sebelumnya,” kata Anindya, seperti keterangan yang diterima redaksi, Selasa (12/11/2024).
Pertemuan itu berlangsung lebih dari satu jam. Selain tiga hal tadi, pertemuan juga membahas isu-isu hangat lain. Di antaranya perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dan penggunaan energi ramah lingkungan.
Baca juga : Di China, Anindya Gali Potensi Kerja Sama Program Rumah Murah & Bantu Nelayan
Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Presiden Senior wilayah Asia Kamar Dagang AS Charles Freeman, Direktur Eksekutif untuk Asia Tenggara John Goyer, Direktur Senior untuk Asia Tenggara Shannon Hayden, dan Associate Manager untuk Asia Tenggara James Llewellyn. Sementara, Anindya didampingi Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James Riady.
Anindya melanjutkan, pertemuan ini bukti konkret bahwa Kadin Indonesia selalu kerja sama dengan Kamar Dagang lain di luar negeri untuk membuka pasar, meningkatkan investasi, membuka kemampuan untuk ekspor. “Inilah yang kami coba buka bersamaan dengan jalan G to G (kerja sama antar-pemerintah) atas Kunjungan Kenegaraan Presiden Prabowo ke AS untuk bertemu Presiden Joe Biden,” jelas Anindya.
Dia melihat antusiasme para pengusaha AS untuk berinvestasi di Indonesia. Anindya mengakui, untuk itu diperlukan ekosistem investasi yang baik dan juga supply chain (rantai pasokan) yang nyaman, yaitu efisien dan efektif, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal.
“Isu yang selalu dikedepankan sama, yaitu mengenai kepastian hukum, tenaga kerja, dan juga kepastian dunia usaha untuk melanjutkan usahanya di Indonesia, terutama untuk Foreign Direct Investment (Penanaman Modal Asing Langsung) dan lain-lain,” tambah Anindya.
Baca juga : PLTP Patuha Buka Lapangan Kerja 20 Persen Dan Isi Kas Negara Rp 200 Miliar
Di dalam saat pertemuan, Anindya menjelaskan populasi penduduk usia produktif di Indonesia mencapai lebih separuh dari total 273 juta penduduk. Hal ini merupakan kekuatan demografis yang dimiliki Indonesia.
“Tenaga kerja muda kami tidak hanya berjumlah besar tetapi juga dinamis dan siap mendorong perubahan teknologi, inovasi, dan kemajuan sosial. Hal ini menghadirkan peluang unik untuk pertumbuhan ekonomi yang ingin kami jajaki bersama mitra kami di sini (AS),” terang Anindya.
Seperti diketahui, sasaran pertumbuhan ekonomi nasional bertahap mencapai 8 persen salah satunya akan dititikberatkan pada peningkatan masuknya penanaman modal asing langsung, khususnya di sektor-sektor yang berkelanjutan. AS secara konsisten telah menjadi salah satu negara investor besar di Indonesia dengan menyumbang sekitar 2,5 miliar dolar AS, tahun lalu.
“Sekarang, dengan komitmen Indonesia untuk mencapai net-zero pada tahun 2060, kami fokus pada energi terbarukan, mulai dari tenaga surya hingga panas bumi. Membangun infrastruktur ramah lingkungan akan membutuhkan sekitar 25 miliar dolar AS setiap tahunnya, dan kami mengundang mitra seperti AS untuk bergabung dengan kami” tambah Anindya.
Baca juga : Anindya Bakrie Sambut Kedatangan Presiden Prabowo di China
Dia menekankan, selain investasi asing, pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga menjadi prioritas Kadin Indonesia untuk membantu mereka berekspansi secara internasional. UMKM menyumbang 60 persen terhadap PDB Indonesia dan mempekerjakan hampir seluruh tenaga kerja di Indonesia.
Transformasi digital, lanjutnya, adalah bagian besar dari hal itu. Dengan pengalaman yang dimiliki, Kamar Dagang AS dapat bekerja sama untuk memberikan pelatihan dan teknologi kepada UMKM Indonesia agar siap memasuki pasar global. “Hal ini bukan hanya tentang meningkatkan ekspor, namun juga tentang menciptakan perekonomian yang lebih inklusif dan berketahanan,” ungkap Anindya.
Setelah Amerika Serikat, Anindya, yang juga merupakan Ketua APEC Business Advisory Council (ABAC), akan memimpin delegasi Indonesia ke KTT APEC di Lima, Peru, yang akan berlangsung hingga 16 November 2024, yang juga akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya