Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dukung Tanget Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Kadin Luncurkan White Paper
Selasa, 26 November 2024 19:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia versi Arsjad Rasjid segera meluncurkan White Paper Usulan Strategi/Arah Pembangunan Bidang Ekonomi Tahun 2024-2029. White Paper ini merupakan dokumen strategis yang disusun Kadin Indonesia sebagai panduan serta rekomendasi kebijakan terkait arah pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Arsjad mengatakan, Kadin Indonesia adalah mitra strategis Pemerintah dalam membangun ekonomi Indonesia lima tahun ke depan. Dunia usaha nasional optimis dengan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan Presiden Prabowo tersebut.
"Kuncinya adalah kolaborasi dan alignment antara Pemerintah dan dunia usaha. Kadin Indonesia memainkan peran sebagai enabler yang menjembatani kedua belah pihak,” ucapnya, seperti keterangan yang diterima redaksi, Selasa (26/11/2024).
Menurut Arsjad, dokumen White Paper secara rinci menjelaskan tantangan/isu terkini disertai dengan inisiatif utama (bold moves) yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. "Sehingga White Paper relevan dengan kondisi Indonesia untuk lima tahun ke depan,” ucapnya.
Baca juga : Inovasi Penyembuhan Stunting, RSUD Tamansari Luncurkan Si-Terpenting
Menurut Arsjad, White Paper ini menjadi panduan sinergi dunia usaha dan pemerintah untuk membangun perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan. Dokumen ini menerjemahkan visi Asta Cita Presiden Prabowo ke dalam langkah konkret dan memberi fokus lebih mendetail pada sektor kunci pertumbuhan, seperti digitalisasi, industri, energi, dan UMKM.
“Pelaksanaan beberapa program ekonomi, seperti pengembangan industri dan digitalisasi, masih butuh pendekatan lebih konkret. White Paper ini menawarkan panduan implementasi yang konkret,” tuturnya.
Dalam White Paper ini, Kadin Indonesia merumuskan 4 pilar strategis, yaitu meningkatkan ketahanan, mendorong kesejahteraan, memperkuat inklusivitas, dan memajukan keberlanjutan, yang diturunkan dalam inisiatif utama sebagai panduan mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Inisiatif utama tersebut berpotensi meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hingga 7-8 persen per tahun.
Kadin juga melakukan proyeksi PDB berdasarkan tambahan kumulatif 450-500 miliar dolar AS dari seluruh inisiatif utama selama 2024-2029. Dari proyeksi itu, terdapat tujuh tema pertumbuhan teratas yang berpotensi memberikan kontribusi lebih dari 80 persen dari estimasi total dampak PDB di rentang 2024-2029. Tujuh prioritas tersebut berasal dari bidang infrastruktur kesehatan, ketahanan energi, UMKM, manufaktur, bisnis hijau dan berkelanjutan, serta ketahanan pangan.
Baca juga : Bantu Gen-Z yang Masih Bingung Tentukan Pilihan, Bijak Pilkada Luncurkan Website
White Paper ini disusun dengan kolaborasi bersama delapan mitra, yaitu 5P Global Movement, Boston Consulting Group, DayaLima, Hukum Online, Indonesian Business Council, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), McKinsey & Company, dan Universitas Gadjah Mada. White Paper menghimpun masukan melalui survei yang melibatkan 1.618 pengurus Kadin pusat dan daerah serta 48 Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 180 lebih pengurus Kadin pusat, 125 lebih Anggota Luar Biasa Kadin, dan 24 Kadin provinsi.
Director Policy and Program Indonesian Business Council, Prayoga Wiradisturi, menyampaikan bahwa tema yang disebutkan dalam White Paper terkait membangun pusat pengembangan bisnis hijau terbesar di dunia, menjadi usulan tema pertumbuhan strategis yang sejalan dengan pemikiran IBC. Salah satu langkahnya membuka perdagangan karbon untuk mendanai dekarbonisasi. Pembentukan Carbon Market Knowledge Center (CMKC) adalah langkah strategis yang diperlukan untuk merealisasikannya.
“Inisiatif ini bertujuan mendukung pertumbuhan inklusif dan keberlanjutan energi terbarukan untuk masa depan Indonesia yang lebih hijau,” kata Prayoga.
Chairperson 5P Global Movement Indonesia, William Sabandar, mengatakan bahwa penguatan inklusivitas penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui pendekatan di beberapa aspek, mulai sosial, politik dan tata kelola, ekonomi, ekologi dan keberlanjutan, budaya dan sosial, serta keamanan dan stabilitas. “Inklusivitas mendorong peran masyarakat segala lapisan, penting untuk pertumbuhan ekonomi,” kata Wiliam.
Baca juga : Kita Butuh Realisasi Investasi Rp 13.528 T
Sementara, Adrian Dimitri dari Boston Consulting Group mengatakan, Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar perlu memprioritaskan sektor strategis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pemetaan prioritas mencakup 20 subsektor dengan fokus pada penguatan pasar domestik, peningkatan ekspor, dan dukungan pemerintah melalui insentif serta infrastruktur,” tutup Dimitri.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya