Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
CAR Lebih Kuat Dari Singapura & Malaysia
Perbankan Kian Tahan Banting Hadapi Gejolak
Rabu, 12 Februari 2025 07:05 WIB
Sebelumnya
“Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan Indonesia berada di level 26,69 persen, lebih tinggi dibandingkan Malaysia dan Singapura,” ujarnya.
CAR perbankan di Brunei Darussalam yang mendekati Indonesia, yaitu berada di level 21,7 persen. Selanjutnya perbankan Thailand yang memiliki CAR sebesar 20,5 persen.
Menurut Mahendra, indikator likuiditas berada di atas threshold, dengan solvabilitas industri jasa keuangan terpantau solid.
“Dengan permodalan yang tinggi, OJK yakin, perbankan Indonesia bisa lebih tahan banting (resilient). Setidaknya, dalam menghadapi tekanan dan goncangan dunia tadi,” tegasnya.
Baca juga : DKI Siapkan Database Penjualan Gas Melon
Sepanjang 2025, OJK memproyeksi pertumbuhan kredit mampu mencapai kisaran 9-11 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 6-8 persen, dan penghimpunan di pasar modal sebesar Rp 220 triliun.
Acara PTIJK 2025 ini dihadiri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM) Muhaimin Iskandar, Wakil Menteri UMKM Helvi Y Moraza, dan beberapa wakil menteri Kabinet Merah Putih 2024-2029. Serta Ketua Komisi XI DPR Misbakhun.
Terlihat juga Direktur Utama (Dirut) BRI Sunarso, Dirut BNI Royke Tumilaar, Dirut BSI Hery Gunardi, Dirut PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja dan beberapa dirut bank lainnya serta dirut perusahaan dari Industri Keuangan Non Bank (IKNB).
Optimisme Perbankan
Baca juga : Shenina Cinnamon, Dinikahi Angga Di Pulau Dewata
Sunarso mengatakan, total kredit BRI tahun 2024 mencapai Rp 1.300 triliun, dan sekitar Rp 1.100 triliun di antaranya diberikan kepada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
“Di sanalah kami melihatnya sebagai optimisme,” katanya.
Sunarso juga meyakini target pertumbuhan kredit sebesar 9-11 persen oleh OJK, bakal dicapai oleh perbankan. “Kami mengikuti outlook dari OJK,” tegasnya.
Sedangkan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Royke Tumilaar mengatakan, yang diperlukan bank saat ini adalah likuiditas. Jika GWM (Giro Wajib Minimun) diturunkan, maka perbankan butuh likuiditas agar lebih agresif lagi di pasar.
Baca juga : Kawal Demokrasi, Peran Pers Tak Akan Tergantikan
“Misalnya untuk kredit korporasi, ke depan masih akan menjadi andalan. Mengingat program Pemerintah ke depan seperti hilirisasi dan ketahanan pangan, pasti banyak korporasi butuh funding,” kata Royke saat ditemui Rakyat Merdeka.
Dengan begitu, sambung Royke, target kredit tumbuh 9-11 persen, DPK 6-8 persen sudah sangat in-line dengan target BNI pada tahun ini.
“Dengan situasi global yang ada, yakinlah fundamental bank-bank di Indonesia bagus-bagus kok,” tutup Royke. DWI
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya