Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
BI: Ekonomi Dan Keuangan Syariah 2024 Tumbuh Positif
Jumat, 21 Februari 2025 21:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) Indonesia terus menunjukkan tren positif sepanjang 2024 sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2024, capaian intermediasi perbankan syariah juga terus mencatat pertumbuhan positif, dan menunjukkan ketahanan industri keuangan syariah.
Tercermin dari pembiayaan perbankan syariah yang mencatatkan pertumbuhan 9,87 persen (yoy) pada Desember 2024 dan kinerja keuangan sosial syariah pada 2024 tumbuh 4,7 persen (yoy).
Di samping itu, Indeks Literasi Eksyar 2024 berdasarkan survei yang dilakukan BI juga meningkat menjadi 42,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 28,01 persen.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan, BI berkomitmen mendukung pengembangan eksyar melalui bauran kebijakan BI.
Baca juga : J Trust Bank Catatkan Kinerja Dan Pertumbuhan Positif Tahun 2024
“Pada 2025, kebijakan eksyar akan ditempuh sejalan dengan dukungan BI pada Asta Cita,” katanya dalam Peluncuran KEKSI dirangkaikan dengan kick off Bulan Pembiayaan Syariah dan seminar nasional Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2025 bertajuk ‘Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Memperkuat Stabilitas dan Transformasi Ekonomi Nasional,’ di Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Beberapa dukungan tersebut meliputi, pertama, penguatan operasi moneter syariah. Di antaranya, dari sisi instrumen, pelaku pasar, dan regulasi untuk memengaruhi kecukupan likuiditas di pasar uang dan pasar valas syariah (PUVA). Selaras dengan penerbitan Blueprint Pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valas (BPPU) 2030 yang juga mencakup pengembangan pasar uang syariah.
Kedua, BI menjaga kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) dan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) bank umum syariah untuk mendorong peningkatan likuiditas perbankan syariah, masing-masing sebesar 7,5 persen dan 3,5 persen, lebih longgar dibandingkan kewajiban pada bank umum konvensional sebesar 9 persen dan 5 persen.
“Selain itu, perbankan syariah juga turut memeroleh manfaat dari instrumen Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM),” ucapnya.
Destry menambahkan, ke depan, selaras dengan upaya mendukung Asta Cita, berbagai program penguatan ekosistem HVC melalui program pendampingan, pemberdayaan, maupun peningkatan literasi produk halal diharapkan mampu meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, serta mengembangkan industri kreatif.
Baca juga : Irwasum Polri: Sampaikan Kepada Masyarakat, Masuk Polisi Gratis
Sementara itu, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menyampaikan, capaian positif eksyar Indonesia perlu terus dilanjutkan di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian yang akan dihadapi di 2025.
Ekonomi nasional yang diprakirakan tetap tumbuh serta implementasi beberapa program prioritas nasional. Seperti, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan tiga juta perumahan dapat menjadi peluang bagi lembaga jasa keuangan syariah untuk berkontribusi lebih besar dalam mendukung perekonomian domestik.
“Untuk mengakselerasi pertumbuhan industri perbankan syariah nasional, pada 2025 OJK mengarahkan kebijakan pada lima aspek peningkatan kapasitas sekaligus keunikan model bisnis perbankan syariah,” ungkapnya.
Pertama, konsolidasi bank syariah dan penguatan UUS yang dilakukan dengan mendukung proses spin-off agar menghasilkan bank umum syariah dengan kapasitas besar, sehingga mendukung perbaikan struktur industri perbankan syariah.
Kedua, finalisasi pembentukan Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) untuk memperkuat tata kelola syariah dan mengakselerasi pertumbuhan industri. Ketiga, penyusunan berbagai pedoman produk perbankan syariah dan pelaksanaan pengembangan produk dengan kekhususan syariah (sharia-based products).
Baca juga : Perdagangan RI-KanadaTembus Rp 81,3 Triliun
Keempat, penguatan peran perbankan syariah dalam ekosistem ekonomi syariah. Kelima, peningkatan peran perbankan syariah di sektor UMKM dengan peningkatan akses dan pendampingan perbankan syariah bagi UMK yang unbankable.
Dalam momentum yang sama, Kick Off Bulan Pembiayaan Syariah 2025 menandai dimulainya kolaborasi dan sinergi seluruh mitra eksyar nasional guna mendorong linkage pembiayaan (komersial dan sosial) syariah.
Bulan Pembiayaan Syariah 2025 difokuskan untuk mendorong skema pembiayaan syariah inovatif integrasi komersial-sosial berbasis wakaf seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) dan/atau pembiayaan perumahan di atas tanah wakaf, untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan skema Sukuk Linked Wakaf (SLW).
Berbagai momentum eksyar yang dilaksanakan hari ini merupakan kolaborasi BI bersama OJK, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), serta berbagai pemangku kepentingan eksyar nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya