Dark/Light Mode

Hasan Nasbi Sebut, Danantara Lahir untuk Akhiri Paradoks Indonesia

Senin, 24 Februari 2025 17:11 WIB
Kepala Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi (Foto: Umam/RM)
Kepala Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi (Foto: Umam/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah resmi membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Kepala Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menyatakan, Danantara sebagai salah satu instrumen percepatan pembangunan yang akan mengakhiri situasi paradoks di Indonesia.  

Hasan memaparkan, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, pemilik garis pantai terpanjang di dunia, dengan 17 ribu pulau, dan tutupan hutan tropis salah satu terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki sumber daya alam berlimpah, memiliki deposit nikel terbesar di dunia, penguasa pasar sawit dunia, dan kaya akan produk laut dan perikanan. Maka dari itu, bangsa Indonesia harus bisa makmur dan menjadi negara kaya.

“Ini ikhtiar Pemerintah untuk menyelesaikan paradoks Indonesia, seperti yang dituliskan Presiden Prabowo Subianto dalam buku beliau. Tidak perlu didebat lagi, bangsa kita kaya, harusnya kita lebih makmur," ucapnya, Senin (24/2/2025).

Baca juga : Puan Apresiasi Peluncuran Danantara, Harap Dongkrak Ekonomi Nasional

Kenyataannya, lanjut Hasan, sampai 80 tahun Indonesia berdiri, masih ada ketimpangan, masih ada masyarakat yang miskin, masih ada yang belum bisa makan, 

masih ada wilayah yang tertinggal pembangunan. "Ini semua harus segera diselesaikan. Paradoks Indonesia harus diselesaikan,” kata Hasan.

Dia mengatakan, dengan lahirnya Danantara, sebuah badan investasi yang mengkonsolidasikan kekuatan dan kekayaan negara, Indonesia akan lebih fokus menguasai industri strategis. 

Baca juga : Prabowo Bentuk Danantara, Haji Isam: Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas

Hasan menegaskan, penguasaan sumber daya alam merupakan mandat UUD 1945 Pasal 33. Ayat 3 pasal itu menegaskan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Sayangnya, tambah Hasan, selama ini sebagian besar sumber daya alam Indonesia diekspor secara mentah, sehingga nilai tambah dan keuntungannya tidak maksimal dinikmati bangsa Indonesia.

“Danantara nanti akan membiayai sendiri bidang industri strategis, antara lain untuk hilirisasi nikel, kobal, untuk mengembangkan kecerdasan buatan, untuk pembuatan kilang-kilang minyak dan industri pendukungnya, yang akan menopang bangsa Indonesia melompat sebagai negara maju dengan pertumbuhan ekonomi 8 persen,” ujar Hasan.  

Baca juga : Presiden Prabowo: Danantara Bukan Sekadar Badan Pengelola Dana Investasi

Dia menambahkan, peluncuran Danantara merupakan hadiah ulang tahun ke-80 Indonesia yang jatuh tahun ini. Dengan lahirnya Danantara, kekayaan dan kekuatan BUMN dikonsolidasikan dalam satu entitas badan pengelola investasi.

Danantara akan mengelola aset Indonesia sebesar Rp14 ribu triliun, menjadikan lembaga ini tidak sekadar lembaga pengelola investasi, tapi juga menjadi instrumen pendorong pembangunan tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045, negara yang maju dengan kesejahteraan merata.

“Hilirisasi adalah penunjang kemajuan. Ini instrumen percepatan pembangunan yang banyaknya atau titik beratnya ada pada sektor hilirisasi,” kata Hasan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.