Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Targetkan Volume Transaksi 315 Ton, BSI Yakin Bank Emas Jadi New Game Changer Perbankan Syariah
Kamis, 6 Maret 2025 15:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Komitmen PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI sebagai bank emas (Bank Bulion) pertama di Indonesia, bakal dibuktikan dengan upaya BSI yang menargetkan potensi volume transaksi dalam lima tahun ke depan hingga 315 ton.
Selama tahun 2024, total emas kelolaan BSI tercatat mencapai 17,5 ton dengan volume transaksi mencapai 29,7 ton.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan, BSI memperkuat komitmen untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Terutama, pasca ditunjuk sebagai salah satu pengelola bisnis Bank Bulion pertama di Indonesia pada 26 Februari lalu.
“Emas menjadi komoditi yang akan terus dikembangkan perseroan sebagai new game changer di industri perbankan syariah,” katanya dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (5/3/2025) malam.
Anton menegaskan, potensi dan peluang pengembangan alternatif bisnis yang memberikan nilai investasi bagi masyarakat.
Baca juga : Dirut BRI Sebut Bank Emas Pegadaian Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Tercatat, hingga saat ini, BIS memiliki total emas kelolaan sebanyak 239 ton, total omzet bisnis emas sebanyak Rp 1.087 triliun, memiliki BSI Gold Karatase hingga 99,99 persen berlabel SNI dan sertifikasi halal, 30 ton smart vaults.
Ditambah, BSI juga memiliki jumlah customer hingga 21 juta, 100 ribu agen BSI, jaringan sebanyak 1.130, dan 8 juta pengguna Byond By BSI.
“Potensi volume transaksi hingga lima tahun ke depan ditargetkan bisa mencapai Rp 315 ton,” ujarnya.
Anton optimistis, bank emas akan memberikan daya tarik bagi para pelaku industri hulu hingga hilirisasi emas yang memberikan nilai tambah pada rantai produksi. Sebab, hilirisasi logam mulia meningkatkan nilai tambah bijih emas hingga 10 kali lipat.
“Bisnis bank emas berpotensi memberikan manfaat untuk masyarakat, industri, dan pertumbuhan perekonomian nasional melalui optimalisasi ekosistem ekonomi syariah,” ucapnya.
Baca juga : Diresmikan Presiden Prabowo, BSI Jadi Bank Emas Pertama Di Indonesia
Peluang untuk mengembangkan pasar emas Indonesia juga sangat besar. Karena permintaan emas per kapita Indonesia masih terendah di Asia Tenggara, 0,16 gram per orang.
Mengacu kajian McKinsey, emas yang beredar di masyarakat Indonesia mencapai 1.800 ton, dari sektor hulu ke hilir.
Sementara jumlah emas batangan diproyeksikan sebesar 321 ton yang merupakan aset yang dapat dimonetisasi.
Jumlah ini berpotensi untuk terus meningkat mengingat Indonesia memiliki potensi cadangan emas Indonesia nomor enam terbesar di dunia, setara dengan 2.600 ton.
“Indonesia termasuk dalam negara top 10 produsen emas global, yang memproduksi sekitar 100 ton emas pada tahun 2020,” kata Anton.
Baca juga : OJK Targetkan Roadmap Bisnis Bank Emas Rampung Agustus 2025
Menurut Anton, melalui usaha bank emas, BSI dapat menangkap nilai ekonomi di seluruh rantai pasok emas, memonetisasi aset emas yang kurang produktif, dan memberikan kemudahan alternatif investasi syariah.
Upaya ini, tambahnya, tak terlepas dari misi BSI melanjutkan arahan pemerintah sebagai lokomotif ekonomi syariah nasional.
"Juga untuk mendukung visi Pemerintah, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang yang diproyeksikan mencapai 8 persen pada 2029,"pungkas Anton.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya