Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hadapi Dampak Kebijakan Tarif Impor AS
Mandiri Dan BNI Pede Kinerja Tetap Kinclong
Senin, 14 April 2025 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank pelat merah optimistis kinerja tahun ini tetap kinclong di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat bayang-bayang rencana Amerika Serikat (AS) mengerek tarif impor. Sebab, prospek bisnis sektor manufaktur di dalam negeri masih bagus alias tumbuh.
Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk M Ashidiq Iswara mengatakan, industri keuangan akan tetap memperkuat optimisme terhadap stabilitas makroekonomi di dalam negeri. Khususnya di tengah berbagai gejolak dunia yang akhir-akhir ini kembali memanas.
Pihaknya meyakini, melalui strategi pengelolaan likuiditas valas (valuta asing) yang prudent, fleksibel, serta didukung oleh diversifikasi sumber dana yang solid, Bank Mandiri tetap berada dalam posisi yang kuat.
“Bank Mandiri tetap kuat untuk menjaga kestabilan dan kecukupan likuiditas secara berkelanjutan,” ucap Ashidiq kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Selanjutnya, Ashidiq yakin, daya saing industri, khususnya sektor manufaktur berpotensi tumbuh meski terjadi penerapan tarif resiprokal sebesar 32 persen oleh Pemerintah AS.
“Sub industri tekstil merupakan bagian dari sektor pengolahan (manufaktur), yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia,” ujar Ashidiq.
Bank Mandiri, papar dia, secara umum memandang sektor manufaktur masih memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan, khususnya pada industri bernilai tambah tinggi.
Sektor ini tetap menjadi target strategis dalam penyaluran kredit perseroan. “Ini sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional secara berkelanjutan,” beber Ashidiq.
Baca juga : Indonesia Patok Tarik Investasi Rp 57 Triliun
Dalam menyalurkan kredit ke sektor manufaktur, tegasnya, Bank Mandiri mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan memperhatikan aspek kapasitas produksi, prospek permintaan pasar, efisiensi operasional dan tata kelola perusahaan.
“Kami juga menilai, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dan keberlanjutan bisnis sebagai bagian dari proses evaluasi,” jelasnya.
Dia bilang, sejalan dengan komitmen Bank Mandiri dalam mendukung percepatan pertumbuhan industri nasional di tengah gejolak ekonomi global, perusahaan terus mendorong akselerasi sektor manufaktur melalui sinergi antara pembiayaan, advisory.
“Dan penyediaan solusi keuangan berbasis kebutuhan industri,” tuturnya.
Hingga akhir Februari 2025, penyaluran kredit Bank Mandiri ke sektor manufaktur termasuk tekstil tercatat sebesar Rp 182,9 triliun atau sekitar 14 persen dari total portofolio kredit.
Bank Mandiri tetap meyakini, pada 2025, tren penyaluran kredit menunjukkan arah yang positif. Ke depan, Bank Mandiri berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan pelaku industri, regulator, dan mitra strategis lainnya guna mendorong pertumbuhan sektor manufaktur secara inklusif dan berdaya saing tinggi.
Perketat Mitigasi Risiko
Senada, Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Okki Rushartomo memastikan, perusahaan terus menjaga kinerja positif perusahaan dengan meningkatkan kehati
Baca juga : Cerai Bukan Karena Masalah Keyakinan
hatian dalam penyaluran kredit berdenominasi valas, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Okki menyebut, perseroan telah dan akan terus menerapkan langkah-langkah mitigasi risiko secara ketat, untuk meredam dampak negatif dinamika ekonomi global.
“BNI secara berkala terus menerapkan manajemen risiko yang ketat,” ungkap Okki kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Salah satunya dengan melakukan stress test terhadap kondisi makro ekonomi. Termasuk pergerakan nilai tukar guna mengantisipasi agar tidak berdampak terhadap kualitas aset.
Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, sambung Okki, BNI lebih berhati-hati menyalurkan kredit valas. Di mana kredit yang diberikan lebih ditujukan kepada debitur yang memiliki natural hedge dalam bisnis model mereka.
Okki juga menjelaskan, likuiditas dalam mata uang dolar AS masih berada pada level yang sangat memadai.
“BNI menjaga kecukupan likuiditas di atas rasio yang ditetapkan oleh regulator,” tegasnya.
“BNI juga memiliki posisi alat likuid dalam bentuk dolar AS yang mencukupi dan dijaga pada level lebih tinggi dari risk appetite internal bank,” ungkap Okki.
Baca juga : Evakuasi Sementara, Bukan Relokasi Permanen: Indonesia Sayang Warga Gaza
Dengan pengelolaan risiko yang disiplin serta posisi likuiditas yang kuat, BNI optimistis dapat menjaga stabilitas kinerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah kondisi pasar global yang penuh tantangan.
“Hal ini mencerminkan kesiapan BNI dalam menghadapi potensi tekanan likuiditas, yang mungkin timbul akibat dinamika nilai tukar dan gejolak global yang terjadi,” ucapnya.
Terpisah, Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk atau BCA David Sumual melihat, ketidakpastian kebijakan tarif Trump penyebab penurunan indeks saham. Termasuk saham perbankan dalam negeri.
“Pengetatan likuiditas global trennya sudah terjadi dalam dua tahun terakhir. Dengan adanya ketidakpastian tersebut, likuiditas bisa terpengaruh,” kata David kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut David, kondisi global yang ditandai dengan penguatan dolar ditambah, ketidakpastian geopolitik global dan harga komoditas yang melemah, telah mempersempit ruang likuiditas perbankan.
Kondisi ini, katanya, bisa mendorong tingkat imbal hasil surat berharga Pemerintah AS tenor 10 tahun masih tetap tinggi.
“Hal ini bisa menekan imbal hasil obligasi Indonesia, dan membatasi penurunan suku bunga kredit,” tutup David.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya