Dark/Light Mode

Pembangunan Ekonomi: Jangan Hanya Materi, Tapi Juga Hati

Rabu, 23 April 2025 22:01 WIB
Kawasan pemukiman warga di Bantaran Kali Ciliwung, Manggarai, Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Kawasan pemukiman warga di Bantaran Kali Ciliwung, Manggarai, Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

Pemerintah dari masa ke masa selalu punya satu tujuan besar: menyejahterakan rakyat melalui pembangunan ekonomi. Tapi, mengapa masih banyak yang miskin? Mengapa pengangguran tetap tinggi? Dan mengapa pembangunan yang digadang-gadang itu kadang hanya "dinikmati" segelintir orang?

Alternatif dari Islam: Membangun yang Membumi dan Langit

Kajian dalam Jurnal Justitia Islamica memperlihatkan bahwa ekonomi Islam hadir sebagai alternatif segar dalam menyelesaikan krisis pembangunanPrinsip-prinsip seperti keadilan distribusi, penguatan sumber daya manusia, pengelolaan zakat dan wakaf, serta pendekatan spiritual, menjadi pembeda mendasar.

Baca juga : Kemenag Terapkan Skema Murur dan Tanazul Sekaligus di Puncak Haji 2025

Dalam Islam, pembangunan bukan hanya soal gedung tinggi, jalan tol, atau angka pertumbuhan GDP. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang membentuk manusia seutuhnya--jasmani dan rohani.

Pembangunan Harus Melibatkan Semua

Islam menolak pembangunan yang elitis. Dalam paradigma ekonomi Islam, semua lapisan masyarakat diajak terlibat: mulai dari kebijakan publik, penyusunan anggaran, hingga realisasi pembangunan. Prinsip partisipasi dan tolong-menolong adalah nilai luhur yang memperkuat fondasi pembangunan Islami.

Baca juga : Prinsip Keberlanjutan, LPKR Kembangkan Proyek Dengan Material Ramah Lingkungan

Dan yang tak kalah penting: pembangunan harus berkelanjutan dan ramah lingkungan. Islam mengajarkan agar manusia sebagai khalifah tidak merusak bumi hanya demi keuntungan sesaat.

Jalan Menuju Ekonomi Rahmatan Lil ‘Alamin

Agar pembangunan bisa membawa kesejahteraan dunia dan akhirat, ekonomi Islam menekankan akuntabilitas spiritual. Artinya, setiap pelaku pembangunan bukan hanya bertanggung jawab pada rakyat, tapi juga pada Allah. "Bangunlah dengan hati, bukan hanya logika. Kelola ekonomi dengan nilai, bukan sekadar angka."

Baca juga : Kemenkop Dukung Pengembangan Ekonomi Di Pesantren Lewat Pembentukan Kopdeskel Merah Putih

Penutup

Membangun dengan semangat syariah berarti membumikan nilai-nilai langit, mewujudkan keseimbangan antara harta dan jiwa, antara pertumbuhan dan pemerataan. Mungkin, inilah saatnya kita menggeser paradigma: dari pembangunan yang hanya mengejar angka, menjadi pembangunan yang membentuk manusia—baik isi dompetnya, maupun isi hatinya.

Mohammad Haikal Khaliez
Mohammad Haikal Khaliez
Mahasiswa Universitas Pamulang Semester IV, Prodi Ekonomi Syari’ah

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.