Dark/Light Mode

Pemerintah Optimistis Investasi Rp 1.900 Triliun Tercapai

Indonesia Masih Jadi Tujuan Utama Investor

Minggu, 4 Mei 2025 07:00 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah ketegangan geopolitik dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin panas, Pemerintah optimistis target investasi sebesar Rp 1.900 triliun tahun ini bakal tercapai.

Keyakinan ini didukung oleh tren positif realisasi investasi dan perbaikan iklim usaha nasional sejak awal tahun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, komitmen investasi yang terus berjalan menunjukkan sinyal kuat terhadap pencapaian target tersebut.

“Insya Allah, target Rp 1.900 triliun bisa kita capai sampai ak­hir 2025. Bahkan, harapannya bisa lebih. Komitmen yang sedang berjalan sangat menjanjikan,” ujar Rosan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Menurutnya, stabilitas nasional dan kepastian regulasi menjadi dua faktor kunci yang mendorong kepercayaan investor global untuk menanamkan modal di Indonesia.

“Pelaku usaha menyampaikan bahwa stabilitas adalah ukuran utama bagi mereka. Maka dari itu, iklim investasi harus terus kita sempurnakan,” ucapnya.

Baca juga : DKI Berpotensi Kantongi Retribusi Ratusan Miliar

Pemerintah, kata Rosan, juga terus menyempurnakan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna menyederhanakan serta mempercepat proses perizinan.

“Alhamdulillah, prosesnya sedang berjalan. Dalam waktu dekat, sistem yang mempermudah perizinan akan terealisasi,” imbuhnya.

Rosan menegaskan, Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi global, khususnya di sektor teknologi tinggi.

“Indonesia dipercaya sebagai pusat produksi dan ekspor berteknologi tinggi. Ini akan memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global, sekaligus menciptakan lapangan kerja,” ucapnya.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu juga mengatakan, Pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Su­bianto, terus memperluas kerja sama dengan mitra strategis yang mendorong hilirisasi industri dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menambahkan, stabilitas ekonomi menjadi faktor penting yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi yang kompetitif, di tengah ketidakpastian global.

Baca juga : Bologna Vs Juventus, Si Nyonya Tua Keropos

“Investor global sedang mencari tempat yang aman. Indonesia termasuk dalam daftar pilihan mereka,” kata Sri Mulyani, Rabu (30/4/2025).

Menurutnya, stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta inflasi yang rendah menjadi kekuatan utama. Yield (imbal hasil) Surat Berharga Negara (SBN) juga tetap terkendali.

Dalam asumsi APBN 2025, yield SBN diproyeksikan sebesar 7 persen. Namun realisasi pada Januari–Maret 2025 justru lebih rendah, yaitu 6,98 persen.

“Ini menunjukkan kepercayaan pasar. Biaya dana juga masih sangat terkendali,” ujarnya.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko menilai, capaian investasi sebesar Rp 465,2 triliun pada kuartal I-2025, tumbuh 15,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan optimisme pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

“Investasi ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan ker­ja. Sebanyak 594.104 orang terserap ke dunia kerja dalam tiga bulan pertama 2025,” sebut Christian.

Baca juga : Final Madrid Open 2025, Jack Draper Ngebet Juara

Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan modal penting untuk mengejar target Rp 1.900 triliun. Sekaligus memperkuat konsumsi rumah tangga, tulang punggung ekonomi nasional.

Direktur Eksekutif Center of Eco­nomic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meng­­­i­ngatkan Pemerintah agar tak fokus pada angka nominal investasi, melainkan juga kualitasnya.

“Yang jadi pekerjaan rumah adalah mendorong investasi padat karya. Kalau tidak menyerap tenaga kerja, dampaknya tidak maksimal,” ujar Bhima.

Menurut data Celios, pada 2020 setiap Rp 1 triliun investasi asing menyerap 1.320 tenaga kerja. Namun pada 2024, daya serapnya menurun menjadi 1.091 orang per Rp 1 triliun investasi.

“Investasi sekarang cenderung padat modal. Padahal kita masih menghadapi 4,4 juta angkatan kerja baru setiap tahun. Insentif ke depan harus diarahkan ke sektor padat karya,” saran Bhima. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.