Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Dari jantung Borneo, energi mengalir ke pusat negeri. Dua kontrak gas diteken, listrik tetap menyala, dan transisi energi terus dijaga.
Jakarta boleh sibuk bicara krisis energi dan target net zero emission, tapi Kalimantan sudah mengambil peran nyata.
Lewat tangan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE), gas bumi dari tanah Borneo siap menjaga pasokan listrik nasional.
Bukan sekadar simbol, tapi lewat dua Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang diteken di ajang The 49th Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition, di ICE BSD, Tangerang, Selasa (20/5/2025).
Penandatanganan yang difasilitasi oleh SKK Migas itu menegaskan komitmen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi untuk tetap hadir dalam upaya menjaga ketahanan energi dan transisi menuju energi yang lebih bersih.
Dua kontrak strategis itu melibatkan PT Pertamina EP dan KKKS East Kalimantan.
Baca juga : Cinta Laura, Nggak Masalah Nikah Usia Tua
Masing-masing akan memasok gas ke PT PLN (Persero) dan PT PLN Energi Primer Indonesia.
Volume pasokan dari kontrak pertama sebesar 5 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk periode 2022–2027.
Sementara kontrak kedua memasok antara 10 hingga 36 miliar british thermal unit per hari (BBTUD) hingga 2026.
Bagi Direktur Utama PHI Sunaryanto, ini bukan sekadar transaksi bisnis, tapi bagian dari amanat besar.
“Langkah konkret PHI untuk mendukung kemandirian energi nasional adalah dengan meningkatkan kinerja dan terus berinvestasi dalam pengeboran eksplorasi dan eksploitasi,” katanya.
Upaya itu ditujukan untuk menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan mempertahankan produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah mature.
Baca juga : Infrastruktur Penanggulanan Banjir Di Jakarta Nggak Mampu Hadapi Hujan Ekstrem
Sunaryanto juga menekankan pentingnya membangun rantai pasok energi yang efisien.
“Kami mendorong inovasi serta penerapan teknologi dalam operasi dan bisnis perusahaan,” ujarnya.
Langkah itu dijalankan berdasarkan praktik terbaik industri migas global, baik di lapangan onshore maupun offshore di wilayah Kalimantan.
Namun, kerja keras itu tak lepas dari prinsip keberlanjutan. PHI menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap lini operasinya.
Dalam aspek tata kelola (governance), mereka mengusung semangat Zero Tolerance on Bribery dengan mengimplementasikan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.
PHI sendiri merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola hulu migas di Regional 3 Kalimantan—meliputi Zona 8, 9, dan 10.
Baca juga : Swasembada Pangan Bukti Kemandirian Nasional
Sepanjang 2024, PHI mencatatkan produksi sebesar 58,4 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 621,2 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
Produksi itu dijalankan bersama anak perusahaan dan afiliasi, dalam koordinasi dengan SKK Migas.
Hari ini, ketika kota-kota besar seperti Jakarta tetap terang, sebagian energinya datang dari Kalimantan.
Dari ladang-ladang tua yang masih digarap penuh semangat, dan dari komitmen PHI yang tak pernah padam.
Energi dari Borneo terus mengalir—bukan hanya ke pipa, tapi ke masa depan Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya