Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Melihat Kembali Arah Pertumbuhan Ekonomi: Perspektif Islam untuk Kesejahteraan
Jumat, 20 Juni 2025 22:44 WIB
Setiap negara dan masyarakat mendambakan pertumbuhan ekonomi. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: "pertumbuhan" seperti apa yang sebenarnya kita kejar? Apakah sekadar angka-angka statistik yang terus menanjak, atau ada tujuan yang lebih dalam dan lebih manusiawi?
Ternyata, ada dua kaca mata besar untuk melihat hal ini: kaca mata ekonomi konvensional dan kaca mata ekonomi Islam. Keduanya mungkin melihat objek yang sama, tetapi fokus dan tujuannya bisa sangat berbeda.
Beda Tujuan Akhir
Dalam pandangan ekonomi konvensional, pertumbuhan ekonomi pada umumnya ditujukan untuk meraih kesejahteraan materi. Fokusnya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas suatu negara untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa, yang diukur dari kenaikan Pendapatan Nasional Bruto (GNP). Sederhananya, "kue" ekonomi harus terus membesar.
Di sisi lain, Islam memandang pertumbuhan ekonomi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana penting untuk menegakkan keadilan sosial yang kekal. Ekonomi Islam memiliki orientasi ganda: tidak hanya mengejar kesejahteraan materi di dunia (duniawi), tetapi juga kebahagiaan batin dan spiritual (ukhrawi). Tujuannya adalah "pertumbuhan berkelanjutan atas hasil yang baik dan dapat berkontribusi bagi kesejahteraan seluruh umat manusia," tanpa memandang ras atau agama.
Baca juga : Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Pemprov DKI Beri Keringanan Pajak Hotel
Mesin Sama, "Bensin" Berbeda
Menariknya, baik ekonomi konvensional maupun Islam mengakui empat faktor utama yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Namun, Islam memberikan "bensin" nilai dan etika pada setiap faktornya.
- Investasi (Modal): Keduanya setuju bahwa investasi adalah bahan bakar untuk menggerakkan produksi. Namun, Islam menekankan bahwa sumber modal harus terhindar dari riba dan mengedepankan kerja sama yang adil.
- Sumber Daya Manusia (SDM): Manusia adalah aktor utama pertumbuhan. Islam menggarisbawahi bahwa seorang pekerja yang ideal tidak hanya butuh keahlian (profesionalisme), tetapi juga harus memiliki kualitas moral seperti kejujuran dan keikhlasan. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
- Jiwa Wirausaha (Entrepreneurship): Para wirausahawan adalah motor inovasi yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menjadi wirausahawan dan mencari rezeki yang halal, dengan motivasi meraih keuntungan sekaligus prestasi, selama semuanya tetap dalam koridor syariah.
- Kemajuan Teknologi: Teknologi diakui sebagai akselerator yang mampu meningkatkan efisiensi dan hasil produksi. Islam mendukung penuh pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan dan kesejahteraan manusia, sejalan dengan perintah Al-Qur'an untuk menggali hal-hal baru yang bermanfaat.
Cara Mengukur Sukses
Secara umum, pertumbuhan ekonomi diukur dengan Gross National Product (GNP). Rumusnya adalah: GNP = C (Konsumsi) + I (Investasi) + G (Belanja Pemerintah) + (E-M) (Ekspor Neto).
Ekonomi Islam menggunakan pengukuran yang sama, namun dengan satu tambahan penting: Zakat (Z). Rumusnya menjadi: GNP = C + I + G + (E-M) + Z.
Penambahan unsur Zakat ini bukan sekadar tambahan matematis. Ini adalah cerminan filosofi bahwa pertumbuhan ekonomi harus selaras dengan distribusi kekayaan dan kepedulian sosial.
Kesimpulan
Pada akhirnya, perspektif Islam mengajak kita untuk tidak sekadar mengejar pertumbuhan yang "maksimal", tetapi pertumbuhan yang "optimal". Pertumbuhan yang optimal adalah yang seimbang antara materi dan rohani, serta tidak memaksakan pengorbanan yang tidak wajar bagi manusia.
Baca juga : Hari Media Sosial: Apakah Ini Perayaan atau Pemakaman Kecerdasan Manusia?
Bagi ekonomi Islam, tingkat pertumbuhan yang lebih rendah namun diiringi distribusi pendapatan yang merata, jauh lebih baik daripada pertumbuhan yang tinggi tetapi timpang. Tentu, yang paling ideal adalah pertumbuhan tinggi yang disertai pemerataan.
Ini adalah seruan untuk membangun sebuah tatanan ekonomi yang tidak hanya menyejahterakan secara materi, tetapi juga menegakkan keadilan, menyebarkan berkah, dan pada akhirnya, menjadi wujud ibadah kepada Sang Pencipta
DINA FITRIA DWI YANTI
Mahasiswa Semester IV Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah
Mahasiswa Semester IV Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya