Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
PORELIT, Pembersih Organik Eco-enzyme Limbah Tempe: Inovasi Produk Berkelanjutan
Jumat, 11 Juli 2025 12:34 WIB
Latar Belakang Masalah
Meskipun berbagai inisiatif dilakukan untuk mengatasi dampak perubahan iklim, permasalahan limbah organik masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2024, timbunan limbah organik masih mendominasi, mencapai angka 62% dari total limbah di Indonesia.
Dalam konteks ini, industri tempe dan keripik tempe di Sanan, Kota Malang, turut menyumbang volume limbah organik yang signifikan. Meskipun daerah tersebut menjadi kawasan produsen tempe terbesar di Jawa Timur dan keripik tempe merupakan oleh-oleh khas Malang yang mendorong perekonomian lokal serta menciptakan lapangan pekerjaan, tingginya angka produksi masih berbanding lurus dengan limbah yang dihasilkan. Industri ini mampu memproduksi 20-30 ton keripik tempe, dengan limbah yang dihasilkan mencapai 91.000 liter limbah cair dan 5 ton limbah padat setiap harinya.
Masyarakat setempat telah melakukan inisiatif dalam mengelola limbah padat sebagai pakan ternak. Akan tetapi, hanya 50% dari 500 pengrajin tempe dan keripik tempe yang memiliki hewan ternak. Artinya, inisiatif tersebut belum mampu mengatasi seluruh volume limbah yang dihasilkan.
Akibatnya, sisa limbah padat maupun cair dibuang begitu saja. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap serta mencemari air dan tanah, tetapi juga secara langsung berkontribusi dalam meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang semakin memperburuk perubahan iklim.
Dampak Negatif Pembersih Rumah Tangga Berbahan Kimia
Bukan hanya limbah organik, pembersih rumah tangga berbahan kimia yang biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari juga menjadi penyebab kerusakan lingkungan. Di balik, klaim akan keamanan produk tersebut, tersimpan bahaya yang mengancam lingkungan dan kesehatan. Kandungan senyawa kimia seperti klorofluorokarbon (CFC), amonia, klorin, dan ftalat dapat mencemari air dan tanah. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2024 pencemaran air terjadi di 11.019 desa akibat dari limbah kimia. Tidak hanya itu, klorofluorokarbon dapat merusak lapisan ozon yang berfungsi untuk melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet.
Baca juga : Di Forum BRICS, Menko AHY Bicara Pembangunan Kota Inklusif & Berkelanjutan
Dampak negatif pembersih kimia tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan. Kandungan tersebut dapat memicu iritasi pada kulit, mata dan saluran pernapasan. Oleh karena itu, pembersih berbahan dasar organik merupakan alternatif yang sangat direkomendasikan. Pembersih organik menggunakan bahan alami yang mudah terurai sehingga tidak menimbulkan kerusakan lingkungan serta lebih aman bagi kesehatan. Salah satu contoh pembersih organik adalah eco-enzyme, terbuat dari fermentasi limbah organik seperti buah, sayuran dan sampah organik lainnya. Sayangnya, potensi dari limbah organik untuk diolah menjadi pembersih ramah lingkungan belum begitu optimal.
Isi/Pembahasan
PORELIT (Pembersih Organik Eco-enzyme Limbah Tempe): Solusi Efektif dalam Mengelola Limbah Industri Tempe
Bertolak dari permasalahan limbah tempe dan dampak negatif penggunaan pembersih kimia, timbul inisiatif untuk mengelola limbah tempe menjadi produk pembersih ramah lingkungan yang kemudian disebut PORELIT (Pembersih Organik Eco-enzyme Limbah Tempe). Limbah padat dan cair dari proses produksi tempe mempunyai potensi signifikan sebagai bahan baku pembuatan eco-enzyme. Limbah padat tempe terdiri dari kulit ari kedelai yang memiliki kandungan senyawa organik seperti selulosa, hemiselulosa, protein kasar berkisar antara 20-25%, lemak nabati, karbohidrat kompleks, serta isoflavon yang memiliki sifat antimikroba dan antioksidan. Kandungan senyawa organik tersebut memiliki manfaat sebagai substrat yang ideal bagi mikroorganisme fermentatif.
Sementara itu, limbah cair tempe yang berasal dari sisa pencucian, perendaman dan perebusan kedelai memiliki kandungan asam amino, vitamin B kompleks serta asam laktat dan asetat. Seluruh senyawa organik tersebut mendukung aktivitas mikroba seperti bakteri asam laktat dalam menghasilkan enzim pembersih seperti amilase, protease dan lipase. Selama proses fermentasi, senyawa-senyawa tersebut diubah menjadi komponen aktif yang bersifat antibakteri, penghilang bau, serta dapat mengurai lemak dan kotoran.
Implementasi PORELIT
PORELIT memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk komersial yang aman bagi kesehatan dan lingkungan. Supaya produk ini dapat terealisasi sesuai dengan harapan, maka dibutuhkan beberapa tahapan, mulai dari proses produksi, penggunaan, hingga pengembangan produk, berikut penjelasan dari tahapan-tahapan tersebut:
- Tahapan pertama, melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada warga Sanan, untuk meningkatkan kesadaran tentang potensi dan bahaya dari limbah tempe. Sehingga dapat mengubah pola pikir warga bahwa limbah dapat dimanfaatkan menjadi peluang ekonomi. Selanjutnya membekali keterampilan teknis tentang proses produksi dan distribusi produk.
- Selanjutnya mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan

- Untuk memastikan produk PORELIT dapat dikembangkan dengan baik dan menjadi produk pembersih organik komersial, serta mewujudkan inklusivitas perekonomian warga Sanan, dibutuhkan sistem kolaborasi ABCG (Academian, Business, Community, Government). Adapun skema dari kolaborasi ABCG dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini:
Gambar 1. Konsep kolaborasi ABCG - Selain bertujuan untuk konservasi lingkungan dan berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, output dari implementasi PORELIT memiliki dampak positif diberbagai aspek.

Baca juga : Le Minerale Transformasi Sampah PET Menjadi Produk Berkualitas
Analisis Pengembangan PORELIT Melalui SWOT (Strengths,Weaknesses,Opportunities, Threats)
PORELIT bertujuan untuk menghasilkan produk baru yang bernilai jual berbasis ekonomi kreatif. Analisis SWOT dibutuhkan untuk memastikan keberhasilan pengembangan dan implementasi PORELIT secara berkelanjutan serta mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
PORELIT dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Selain mewujudkan ekonomi kreatif dengan menciptakan produk baru dari limbah tempe yang memiliki nilai ekonomi, PORELIT juga mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Beberapa poin yang dapat dijangkau dari implementasi dan pengembangan PORELIT; Poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) mengurangi pencemaran air dari limbah tempe dan bahan kimia. Selain itu, dengan mendaur ulang limbah organik dan mengubah pola konsumsi masyarakat dari produk kimia ke produk ramah lingkungan PORELIT mewujudkan poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Pengembangan PORELIT menjadi produk komersial turut berkontribusi pada poin 13 ( Penanganan Perubahan Iklim ) karena menjaga konservasi lingkungan dari gas rumah kaca dan mendorong gaya hidup rendah karbon berbasis inovasi lokal.
Kesimpulan
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai target net zero emissions sebelum tahun 2050. PORELIT merupakan produk lokal berbasis ekonomi kreatif yang hadir sebagai inovasi hijau dan aksi nyata untuk mendorong terwujudnya tujuan tersebut. Produk ini tidak hanya menjadi solusi alternatif pembersih kimia, melainkan juga mengadopsi pengelolaan limbah berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, diversifikasi pendapatan serta pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Daftar Pustaka
Baca juga : Desa Energi Berdikari Pertamina Olah Limbah Ikan Jadi Produk Bernilai Jual
Afriyana, M. M. (2013). Pemanfaatan limbah cair industri tempe menjadi eco enzyme sebagai pembersih lantai ramah lingkungan (Skripsi, Universitas Brawijaya). Universitas Brawijaya Repository. https://repository.ub.ac.id/13218/
Badan Pusat Statistik Indonesia. (6 Februari 2025). Banyaknya Desa/Kelurahan Menurut Jenis Pencemaran Lingkungan Hidup, 2024 https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/OTU5IzI=/banyaknya-desa-kelurahan-menurut-jenis-pencemaran-lingkungan-hidup.html
Cundari, L., Amaliah, SP, Azzahra, F., Komariah, LN, & Afrah, BD (2024). Pengawet Organik Baru dari Eko-Enzim Limbah Tempe: Pengaruh Jenis Substrat dan Fermenter . https://doi.org/10.12912/27197050/176648
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2024). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). https://sipsn.kemenlh.go.id/sipsn/
Assyifa Putri Utami
Assyifa Putri Utami, Siswa SMA Negeri 2 Malang
Assyifa Putri Utami, Siswa SMA Negeri 2 Malang
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya