Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sumbang Kontribusi Rp 3.050 Triliun
Sektor Perumahan Motor Utama Ekonomi Nasional
Kamis, 10 Juli 2025 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pengembangan sektor perumahan memberikan multiplier effect besar terhadap dunia usaha. Kajian Bank Tabungan Negara (BTN) menyebutkan, sektor perumahan memberikan kontribusi mencapai Rp 3.050 triliun dalam menggerakkan perekonomian nasional pada 2024.
Angka itu merupakan hasil kajian Housing Finance Center BTN melalui Tabel Input-Output Nasional 2020.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan, BTN akan terus mendorong sektor perumahan sebagai motor utama perekonomian nasional.
“Sektor perumahan memiliki multiplier effect yang sangat besar, karena melibatkan rantai pasok luas hingga 185 sektor turunan,” kata Nixon dalam keterangan resmi, Rabu (9/7/2025).
Yakni, mulai dari industri material bangunan, logistik, jasa konstruksi, hingga sektor informal yang mendukung pembangunan hunian.
“Nilai Rp 3.050 triliun bukan sekadar angka, tetapi bukti nyata betapa strategisnya sektor perumahan dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional,” tegasnya.
Nixon menuturkan, nilai tersebut merupakan angka luar biasa besar, yang menunjukkan bahwa setiap rupiah yang disalurkan untuk perumahan menghasilkan dampak berlipat ganda.
Baca juga : Good Mining Practices Bukan Lagi Slogan, Tapi Harga Mati
Kontribusi terbesar datang dari sektor industri pengolahan bahan bangunan, jasa konstruksi, perdagangan, transportasi, hingga jasa keuangan.
“BTN aktif mendorong ekosistem ini melalui inovasi pembiayaan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), KPR Mikro, pembiayaan konstruksi, serta penguatan ekosistem perumahan terintegrasi,” beber Nixon.
Selain kontribusi ekonomi, sektor perumahan juga terbukti menyerap tenaga kerja hingga 12,5 juta orang pada 2024.
Dengan demikian, imbuh Nixon, perumahan tidak hanya mendukung kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat konsumsi domestik.
“Saat memperkuat sektor perumahan, sejatinya kita sedang membangun pondasi masa depan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Begitu juga dengan BTN, kata Nixon, yang terus memperkuat peran sebagai mitra utama Pemerintah dan developer dalam mendukung pembiayaan perumahan, khususnya KPR.
Penyaluran KPR BTN pada kuartal I-2025 tercatat sebesar Rp 286,5 triliun, tumbuh 7,8 persen secara tahunan.
Baca juga : Tak Kuat Hadapi Banjir, 10 Unit Pompa Ambyar
KPR subsidi tercatat sebesar Rp 179,70 triliun (naik 7,6 persen), sedangkan KPR non-subsidi tumbuh 8,1 persen menjadi Rp 106,80 triliun.
Ke depan, emiten berkode saham BBTN ini akan terus memperluas akses KPR, memperkuat sales force, dan memperluas jaringan Sales Center.
“Serta memperdalam kolaborasi strategis dengan developer dan Pemerintah,” jelasnya.
Semua langkah ini, tegas Nixon, untuk memastikan multiplier effect sektor perumahan tetap terjaga, dan memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional.
Kajian Housing Finance Center BTN juga mengungkapkan, kontribusi Rp 3.050 triliun pada 2024 menjadikan sektor perumahan sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi. Bahkan, melampaui kontribusi banyak sektor lainnya.
Nixon menegaskan, dengan peran strategis dan inovasi pembiayaan yang berkelanjutan, BTN optimistis dapat terus memperluas akses kepemilikan rumah, mendukung pemerataan pembangunan. Sekaligus berkontribusi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Terpisah, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mengamini, BTN sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Negara), memiliki kewajiban untuk menjalankan berbagai program perumahan untuk rakyat.
Baca juga : Chelsea Tegaskan Dominasi Eropa
“BTN memiliki peran kunci dalam ekosistem perumahan di Indonesia, terutama dalam penyaluran KPR. Maka, harus terus didukung,” kata Piter kepada Rakyat Merdeka, Rabu (9/7/2025).
Piter pun mengapresiasi BTN yang menguasai pangsa pasar KPR nasional, termasuk KPR subsidi, dan telah memberikan dampak signifikan pada perekonomian.
“BTN juga terus berinovasi dalam pembiayaan perumahan dan memperkuat ekosistem perumahan terintegrasi,” pujinya.
Apalagi, lanjut Piter, kebutuhan perumahan untuk kelompok masyarakat menengah ke bawah tidak sebanding dengan ketersediaan rumah (backlog).
Dengan kata lain, angka backlog-nya masih sangat tinggi, yaitu sekitar 15 juta unit.
“Maka perlu kontribusi dari perbankan, salah satunya BTN, yang memang punya core business di segmen tersebut,” tutup Piter.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya