Dark/Light Mode

FTA Dengan Eurasia Dikebut Desember

Airlangga Tancap Gas

Sabtu, 12 Juli 2025 07:05 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat mengadakan pertemuan secara daring dengan Member of the Board-Minister in Charge of Trade of the Eurasian Economic Commission (EEC) Andrey Slepnev, Kamis (9/7/2025). (Foto: Dok. Kementerian Perekonomian)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat mengadakan pertemuan secara daring dengan Member of the Board-Minister in Charge of Trade of the Eurasian Economic Commission (EEC) Andrey Slepnev, Kamis (9/7/2025). (Foto: Dok. Kementerian Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah semakin memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara mitra di tengah gejolak perdagangan global yang makin dinamis. Terbaru, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kembali mengadakan pertemuan virtual dengan Menteri Perdagangan Komisi Ekonomi Eurasia (EEC) Andrey Slepnev, Kamis (9/7/2025).

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari proses perundingan Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEUFTA).

Sebelumnya, keduanya telah bertemu dalam pertemuan bi­lateral di Jakarta pada 29 Mei 2025. Dan kembali berjumpa di sela agenda St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) pada 20 Juni 2025. Di sana, mereka menandatangani Joint Statement penyelesaian substansi perundingan FTA.

Keduanya kompak menyam­paikan apresiasi atas kerja keras Tim Perunding dari masing-masing negara. Termasuk komit­men kuat untuk segera masuk tahap proses hukum domestik yang dibutuhkan sebelum penandatanganan FTA resmi.

“Kami menyambut baik hasil yang telah dicapai oleh Tim Pe­runding. Ini menandai langkah penting menuju finalisasi I-EAEU FTA,” ujar Airlangga dikutip dari laman resmi Kemenko Perekono­mian, Jumat (11/7/2025).

Baca juga : Erick Usul Tambahan Anggaran Rp 454 M

Dukungan juga disampai­kan Slepnev. Dia menyatakan kesiapan internal pihak EAEU untuk segera menyelesaikan proses legal bersama negara-negara anggotanya.

“Tim kami siap menjalankan proses sesuai jadwal yang telah disepakati,” ujar Slepnev.

Kedua pihak menargetkan proses legal scrubbing tuntas da­lam waktu dekat agar perjanjian bisa ditandatangani resmi pada Desember 2025.

Di tengah isu proteksionisme global, justru hubungan dagang Indonesia dan EAEU terus melaju. Kuartal I-2025, total nilai perdagangan kedua pihak meroket 84,40 persen menjadi 1,57 miliar dolar AS. Dari sisi investasi, EAEU menggelontorkan 273,7 juta dolar AS ke Indonesia—dua kali lipat dari total investasi pada 2023.

Dengan populasi gabungan lebih dari 460 juta jiwa, kerja sama lewat FTA ini diyakini Airlangga bisa jadi pilar baru dalam diversifikasi pasar dan ketahanan ekonomi nasional.

Baca juga : Jakarta Lengser Dari List 10 Kota Termacet Di Dunia

Hal ini juga diamini oleh peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and Inter­national Studies (CSIS) Riandy Laksono.

Dia menilai, kemitraan ekono­mi dengan kawasan seperti Uni Eropa dan EAEU merupakan langkah strategis untuk mengu­rangi ketergantungan terhadap pasar tradisional seperti Amerika Serikat, yang kini diwarnai kebijakan tarif proteksionis.

“Walaupun sangat tersandera dengan kondisi sekarang, tapi peluang untuk diversifikasi pasar masih terbuka lebar,” ujar Ri­andy.

Dia menyoroti kecenderungan ekspor Indonesia yang masih banyak mengandalkan barang men­tah ke pasar AS. Padahal, menu­rutnya, pasar Eropa dan Eurasia memiliki potensi besar untuk produk unggulan Indonesia.

“Indonesia bisa mengalihkan produk-produk bernilai tambah ke Eropa dan Eurasia untuk mengurangi risiko kehilangan devisa,” kata Riandy.

Baca juga : Ranty Maria, Siapkan Intimate Wedding Di Pantai

Menurutnya, Crude Palm Oil (CPO), kakao dan karet sebagai komoditas utama yang menopang pendapatan negara. Diikuti produk tekstil seperti apparel, fabric dan yarn, serta komponen elektronik dan hasil perikanan seperti udang dan tuna.

Dia mengatakan, pasar Eropa dan Eurasia memiliki permintaan lebih besar terhadap ba­rang-barang tersebut dibanding Amerika Serikat. Terutama karena preferensi terhadap ke­berlanjutan dan rantai pasok yang lebih beragam.

Dengan perjanjian perdagangan bebas yang sedang difinalisasi bersama EAEU, serta peluang perjanjian dagang serupa dengan Uni Eropa melalui IEU–CEPA, Pemerintah Indonesia berada di jalur tepat untuk memper­luas pasar dan memperkuat po­sisi dagang di tengah tantangan geoekonomi global.

Untuk diketahui, hadir da­lam pertemuan virtual tersebut, antara lain Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moe­giarso, Deputi Bidang Koordi­nasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Wicaksono dan Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kemendag/Chief Negotiator IEU-CEPA Johni Martha.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.