Dark/Light Mode

Biostay: Biopackaging Berbasis Limbah Lokal Inovasi Sirkular dan Digital Ekonomi

Sabtu, 12 Juli 2025 21:14 WIB
Biostay (Foto: Dok. Penulis)
Biostay (Foto: Dok. Penulis)

Pertumbuhan konsumsi produk siap saji di tengah laju urbanisasi era modern telah mendorong peningkatan penggunaan kemasan plastik sekali pakai, terutama berbasis styrofoam. Indonesia menempati posisi kedua sebagai penghasil sampah styrofoam dengan jumlah mencapai 187,2 ton per tahun. Ketika terkena panas, styrofoam dapat melepaskan stirena yang beracun, hal ini berpotensi menyebabkan kanker. Selain itu, styrofoam termasuk tidak dapat terurai secara hayati, sulit didaur ulang, dan mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat terakumulasi di lingkungan perairan (Utomo & Solin, 2024; Dalilah, 2021; Sulaiman et al, 2021). Menghadapi permasalahan tersebut, solusi kemasan ramah lingkungan menjadi urgensi global. 

BIOSTAY hadir sebagai alternatif untuk mengurangi limbah styrofoam yang sulit diurai. Kemampuan terurai secara alami dan lebih aman bagi lingkungan, BIOSTAY menawarkan kontribusi penting dalam mewujudkan sistem produksi berkelanjutan. Produk seperti ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi bertanggung jawab sera poin 8 terkait pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Solusi diperlukan tidak hanya sekedar ramah lingkungan, tetapi juga aplikatif dan berbasis potensi lokal. Salah satu pendekatan alternatif dengan memanfaatkan limbah biomassa lokal seperti sekam padi, eceng gondok, dan kulit jeruk sebagai solusi kemasan ramah lingkungan.

BIOSTAY hadir menjadi inovasi yang dikembangkan sebagai respons terhadap persoalan tersebut. Produk ini merupakan biopackaging berbahan dasar limbah lokal seperti sekam padi, eceng gondok, dan limbah kulit jeruk yang diformulasi menjadi kemasan ramah lingkungan dengan kekuatan mekanik dan daya simpan yang baik. Inovasi ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dari bahan-bahan organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal yaitu sekam padi, eceng gondok, dan kulit jeruk.

BIOSTAY dirancang sebagai solusi kemasan makanan ramah lingkungan berbasis tiga limbah utama: sekam padi, eceng gondok, dan kulit jeruk. Sekam padi yang dihasilkan dari proses pertanian padi di Indonesia jumlahnya mencapai 54 juta ton per tahun, menjadikannya sumber lignoselulosa potensial (Salem et al., 2020).

Kandungan lignin, selulosa, dan hemiselulosa dalam sekam padi memungkinkan pemanfaatannya sebagai bahan utama penyusun struktur biopackaging. Namun, lignin harus dihilangkan terlebih dahulu melalui proses delignifikasi agar interaksi molekul menjadi lebih efektif dan kemasan yang dihasilkan memiliki kekuatan mekanik yang baik. Sementara itu, eceng gondok (Eichhornia crassipes), meskipun sering dianggap gulma air, mengandung hingga 60% selulosa. Selulosa dari eceng gondok digunakan sebagai bahan pengikat alami untuk memperkuat struktur kemasan.

Pemanfaatannya sekaligus membantu pengendalian populasi eceng gondok di perairan Indonesia yang mencapai 2,2 juta ton per tahun, serta menurunkan beban pencemaran air. Komponen ketiga yaitu kulit jeruk, mengandung senyawa antioksidan alami seperti flavonoid. Kandungan ini menjadikan kulit jeruk cocok sebagai bahan aditif antibakteri dalam kemasan aktif. Penambahan antioksidan ini membuat kemasan memiliki daya simpan lebih lama dan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme pada makanan, tanpa perlu pengawet sintetis (Naufala & Pandebesie, 2015; Ballesteros et al., 2018; Admojo & Setyawan, 2018).

Proses pembuatan BIOSTAY dilakukan melalui beberapa tahap dimulai delignifikasi sekam padi dengan larutan NaOH 5% untuk menghilangkan lignin dan silika dalam sekam padi, bleaching alkalinase eceng gondok menggunakan natrium hipoklorit untuk mendapatkan selulosa, serta ekstraksi kulit jeruk menggunakan etanol 70% dan pemanasan. Selulosa eceng gondok dan sekam padi dipanaskan dalam suhu 70 ⁰C dengan perbandingan 5:5 w/w. Hasil didapatkan total yield sebesar 34% sekam padi hasil delignifikasi, 45% selulosa eceng gondok, dan 30% antioksidan kulit jeruk.

Pengaruh Parameter Terhadap Produksi BIOSTAY (Sumber: Penulis, 2025)

Hasil eksperimen BIOSTAY dengan formulasi optimum 80% sekam padi dan 20% selulosa eceng gondok, yang memiliki kekuatan tarik sebesar 0,273 MPa dan daya serap air 20,19%. Nilai tersebut sudah sesuai dengan standar SNI 7323-2008 dan SNI 7188.7:2016. Penambahan 5% antioksidan dari kulit jeruk terbukti mampu memperpanjang masa simpan buah jeruk hingga lima hari lebih lama dibandingkan tanpa antioksidan. Hal ini menunjukkan fungsi protektif tambahan dari BIOSTAY dalam menjaga kualitas makanan yang dikemas.

Produk ini menunjukkan kemampuan sebagai pengganti styrofoam yang tidak hanya kuat secara mekanis, tetapi juga fungsional dalam memperpanjang masa simpan makanan secara alami. Produksi BIOSTAY cukup menjanjikan, mengingat tingkat kesadaran masyarakat yang semakin meningkat akan menjaga kestabilan lingkungan. BIOSTAY dibuat dengan tingkat estetika yang cukup tinggi sehingga mampu menghasilkan produk layak komersial. Dengan total IRR mencapai 11,2 % dengan biaya awal 350 juta rupiah, menjadikan salah satu upaya peningkatan bisnis kreatif yang layak dikomersialkan. Solusi ini menawarkan NPV sebesar Rp 34.999.708, 00 dengan Pay Back Period selama 3 tahun 6 bulan. 

Dalam aspek keberlanjutan, BIOSTAY dikembangkan melalui pendekatan ekonomi kreatif berbasis digital, strategi distribusi dan pemasaran produk juga menjadi perhatian. BIOSTAY dikembangkan melalui digitalisasi bisnis seperti website https://sites.google.com/view/biostayind dan e-commerce yang memungkinkan akses luas hingga pasar internasional. Pemasaran dilakukan baik secara langsung ke konsumen maupun secara Business to Business ke pelaku usaha retail. Sertifikasi organik dan ramah lingkungan turut dimanfaatkan sebagai keunggulan kompetitif. Selain sebagai produk komersial, BIOSTAY juga dirancang sebagai gerakan sosial melalui pelibatan kelompok tani, ibu rumah tangga, pelaku UMKM dalam proses produksi, serta menciptakan lapangan kerja baru berbasis pemberdayaan masyarakat.

Tantangan utama pengembangan BIOSTAY adalah ketersediaan bahan baku yang bersifat musiman serta konsistensi kualitas produksi. Oleh karena itu, diperlukan dukungan teknologi ekstraksi yang efisien dan program pelatihan bagi masyarakat untuk memperkuat kapasitas produksi lokal. Pelibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, akan memperkuat ekosistem hijau dalam skala nasional yang diselaraskan dengan PP No. 97 Tahun 2017 menargetkan pengurangan sampah plastik sebesar 30% tahun 2025. Implementasi strategi jangka panjang seperti pelatihan keterampilan biopackaging, digitalisasi pemasaran, serta penguatan branding produk ramah lingkungan menjadi kunci keberhasilan BIOSTAY di pasar lokal dan global. Roadmap jangka panjang BIOSTAY dilakukan dalam 3 fase yaitu fase skala laboratorium (2025 - 2026), fase produksi lokal (2026-2028), dan fase ekspansi pasar ekspor (2028-2030).

BIOSTAY adalah inovasi biopackaging berbasis sumber daya lokal yang mampu menjawab tantangan pencemaran lingkungan akibat styrofoam. Formulasi optimal yang telah dicapai menunjukkan bahwa produk ini memiliki kualitas yang mampu menyaingi styrofoam konvensional. Lebih dari sekadar produk, BIOSTAY membawa semangat ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan didukung strategi distribusi digital, kolaborasi multi pihak, dan pendekatan berbasis SDGs, BIOSTAY berpotensi menjadi pionir kemasan ramah lingkungan di Indonesia. Inovasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang baru dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi berbasis sumber daya terbarukan. Dengan langkah yang tepat, BIOSTAY dapat menjadi model ideal kemasan masa depan yang mendukung bumi yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Diah Nur Oktavia
Diah Nur Oktavia
Diah Nur Oktavia, Universitas Padjadjaran

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.