Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pro-Kontra Tarif 19 Persen Dari Trump
Manfaatnya Lebih Banyak, Mudaratnya Lebih Kecil
Jumat, 18 Juli 2025 08:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Penurunan tarif impor produk Indonesia ke Amerika Serikat dari 32 persen menjadi 19 persen menuai pro dan kontra. Namun, manfaatnya jauh lebih besar dibanding potensi mudaratnya.
Apa manfaat dari kebijakan ini? Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, kebijakan ini akan membuka peluang ekspor lebih besar, sembari memastikan bahwa impor tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, Indonesia akan mengimpor komoditas yang memang belum bisa diproduksi dalam negeri secara memadai, seperti gandum. “Selama yang diimpor adalah barang yang kita butuhkan, seperti gandum atau jagung saat kita kekurangan, maka itu tidak jadi masalah,” jelas Amran.
Ia menambahkan, kesepakatan ini juga membuka celah untuk ekspor produk unggulan Indonesia, terutama crude palm oil (CPO), yang selama ini bersaing ketat dengan Malaysia di pasar AS. “Tarif kita lebih kecil dibanding Malaysia, ini peluang besar,” ujarnya.
Manfaat lain diutarakan Menteri Perdagangan Budi Susanto. Dia mengatakan, penurunan tarif menjadi daya tarik bagi investor asing. Pasalnya, tarif Indonesia kini menjadi yang terendah di ASEAN, yaitu 19 persen, lalu Filipina dan Vietnam: 20 persen, Malaysia: 25 persen, Thailand & Kamboja: 36 persen.
Baca juga : Potret Pertahanan Maritim Jepang Dari Destroyer Bulan Bercahaya
“Sekarang kita punya keunggulan dibanding negara tetangga. Ini bisa menarik investasi asing dan meningkatkan ekspor,” jelas Budi.
Menurutnya, setidaknya ada 10 sektor yang akan terdorong, seperti tekstil, alas kaki, furnitur, elektronik, karet, hingga minyak sawit.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memperkuat argumentasi betapa bermanfaatnya kebijakan ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. “Pemerintah tidak memberi karpet merah untuk AS, tapi membuka jalan lebih besar bagi produk dan pelaku usaha nasional untuk bersaing global,” tegasnya.
Menurut Luhut, pendekatan ini bertujuan mendongkrak investasi, memperkuat rantai pasok, dan mendorong transfer teknologi. Berdasarkan simulasi DEN, Produk Domestik Bruto (PDB) naik 0,5 persen, penyerapan tenaga kerja tumbuh 1,3 persen, kesejahteraan masyarakat meningkat 0,6 persen. Dan investasi melonjak hingga 1,6 persen.
“Indonesia kini memiliki tarif terendah dari AS di antara negara-negara dengan surplus dagang. Ini peluang besar bagi kita,” kata Luhut.
Baca juga : Kaesang: Mosok Saya Merestui Bapak Saya
Kendati banyak manfaatnya, ada sisi mudarat yang patut diwaspadai terkait kebijakan tarif 19 persen. Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengingatkan, kebijakan ini juga membawa tantangan tersendiri. Produk AS yang masuk bebas tarif bisa membanjiri pasar domestik dan mengancam produk lokal. “Produk lokal harus siap bersaing dengan produk asing yang lebih murah,” ujarnya.
Meski begitu, Sukamta optimistis kebijakan ini bisa mendorong Indonesia naik kelas dalam perekonomian global. “PDB per kapita kita terus naik. Kita memang belum jadi negara maju, tapi kita berada di jalur yang benar,” tandasnya.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda melihat ada potensi penurunan dari sisi penerimaan negara dan ketahanan industri. Menurutnya, jika tarif produk AS menjadi 0 persen, maka negara kehilangan pendapatan dari bea masuk.
Sementara produsen lokal berpotensi tertekan oleh serbuan barang impor, terutama dari sektor teknologi dan elektronik. “Impor besar-besaran bisa menggerus surplus neraca dagang dan cadangan devisa,” ujarnya.
Nailul juga khawatir, dampak jangka panjangnya akan mengganggu rencana reindustrialisasi nasional. “Pertumbuhan ekonomi mungkin naik, tapi kalau industri lokal hancur, efek domino-nya akan berat,” pungkasnya.
Baca juga : Zaki Kembali Diusung Pimpin Golkar Jakarta
Sementara itu, Istana memahami pro-kontra kebijakan tarif impor dari Trump ini. Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro mengatakan, perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam setiap kebijakan Pemerintah. Menurutnya, jika ada yang kontra, Pemerintah akan mendengarkan.
“Itu akan menjadi bahan evaluasi yang baik untuk memperbaiki kinerja pemerintah,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (17/7/2025). [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya