Dark/Light Mode

BPS Masih Pakai PPP 2017 Untuk Hitung Kemiskinan Ekstrem, Ini Alasannya

Jumat, 25 Juli 2025 17:11 WIB
BPS Masih Pakai PPP 2017 Untuk Hitung Kemiskinan Ekstrem, Ini Alasannya

RM.id  Rakyat Merdeka - Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan alasan masih menggunakan purchasing power parity (PPP) 2017 dengan angka 2,15 dolar AS per kapita per hari, sebagai dasar penghitungan jumlah dan persentase penduduk yang masuk kategori miskin ekstrem. Sekalipun saat ini Bank Dunia telah menggunakan PPP 2021 sebagai acuan baru kemiskinan ekstrem, dengan angka 3 dolar AS per kapita per hari. 

Berdasarkan standar terbaru PPP 2021, pada tahun 2023, Bank Dunia memperkirakan 5,44 persen penduduk Indonesia berada dalam tingkat kemiskinan ekstrem. 

Baca juga : BPS: Kemiskinan Ekstrem Turun, Jumlahnya Kini 23,8 Juta Orang

“Sampai saat ini, kita memang belum secara resmi mengadopsi batas 3 dolar AS PPP 2021 sebagai garis kemiskinan ekstrem nasional. Namun, BPS akan terus mengikuti perkembangan metodologi global terkait pengukuran, terutama kemiskinan ekstrem tersebut," ujar Ateng di Jakarta, Jumat (25/7/2025).

“Kami masih menggunakan 2,15 dolar AS PPP per hari, supaya bisa dapat membandingkan dengan periode atau tahun-tahun sebelumnya," terangnya.

Baca juga : Arsjad Rasjid Dorong Strategi 3G Untuk Atasi Tantangan Ekonomi Nasional

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, jumlah penduduk yang miskin ekstrem berdasarkan Survei Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencapai 2,38 juta orang. Turun 0,4 juta dibanding September 2024. Dibanding data Maret 2024, angkanya turun 1,18 juta orang. 

Secara persentase, jumlah penduduk miskin ekstrem di Indonesia mencakup 0,85 persen. Turun 0,14 persen poin dibanding September 2024 atau turun 0,41 persen terhadap Maret 2024.

Baca juga : PIS Raih Penghargaan Untuk Upaya dan Inovasi Pelayaran Hijau

Dari sisi persentasenya, jumlah penduduk miskin ekstrem terhadap total populasi pada Maret 2025 mencapai 0,85 persen atau turun sekitar 0,14 persen poin dibanding September 2024. Dibanding Maret 2024, turun 0,41 persen poin. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.