Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Akhir tahun, paket stimulus ekonomi akan dilanjutkan Pemerintah. Dengan stimulus ini, Pemerintah ingin agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Harapannya, pertumbuhan ekonomi tetap tangguh.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, paket stimulus ekonomi akan kembali diberikan pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kebijakan ini dilakukan Pemerintah guna mendongkrak pertumbuhan di semester II 2025.
Namun, Airlangga belum bisa merinci apa saja kebijakan yang akan ditebar ke masyarakat. Ia hanya menyebut detail paket stimulus itu akan diumumkan pada September 2025.
Baca juga : Gubernur Dipilih Presiden, Usul Imin Ditolak Teman Koalisi
Sedikit bocoran, paket stimulus yang akan ditebar berpotensi sama dengan saat ini. Di antaranya diskon tiket pesawat, kereta api, kapal, hingga tarif tol. Bedanya, stimulus ini tidak mencakup diskon tarif listrik dan Bantuan Subsidi Upah (BSU).
Pemberian diskon ini berlaku selama dua bulan: Desember 2025 dan Januari 2026. Tujuannya, mengerek konsumsi rumah tangga selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). “(Diskon) pesawat, tol, paling banyak kereta api,” kata Airlangga.
Selain subsidi tiket, Pemerintah juga akan melanjutkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen untuk sektor properti pada semester II tahun ini. Awalnya, insentif tersebut direncanakan turun menjadi 50 persen.
Baca juga : Jokowi: Kondisi Saya Belum 100%
“Jadi nanti teknis-teknis itu yang kita bahas detail,” kata Airlangga.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Hanif Dhakiri menilai, melanjutkan stimulus ekonomi sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global. Namun, instrumen ini bersifat penyangga sementara.
“Dampak paket sebelumnya cukup terasa menjaga konsumsi. Namun, efek ke pertumbuhan masih terbatas dan belum mendorong investasi serta produktivitas,” ulasnya saat dihubungi, tadi malam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya