Dark/Light Mode

Wujudkan Keberlanjutan, Pepsi.Co Perkuat Inisiatif Hijau Gandeng KLH Dan IPRO

Rabu, 27 Agustus 2025 09:39 WIB
(Kiri-ke-kanan) Reza Andreanto, General Manager IPRO; Olivia Anastasia Padang, Direktur Bali Waste Cycle; Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan (BPLH); Gabrielle Angriani Johny, Direktur Government Affairs and Corporate Communications PepsiCo Indonesia) di acara Talkshow di Jakarta, Selasa (26/8/2025). (Fotp: Dok. Pepsi.Co)
(Kiri-ke-kanan) Reza Andreanto, General Manager IPRO; Olivia Anastasia Padang, Direktur Bali Waste Cycle; Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan (BPLH); Gabrielle Angriani Johny, Direktur Government Affairs and Corporate Communications PepsiCo Indonesia) di acara Talkshow di Jakarta, Selasa (26/8/2025). (Fotp: Dok. Pepsi.Co)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PepsiCo Indonesia Foods and Beverages (PepsiCo Indonesia), bagian dari PepsiCo, perusahaan makanan dan minuman (mamin), mulai menunjukkan upaya dalam mendukung keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan.

Pepsi.Co meresmikan pabrik pertamanya di Indonesia yang memproduksi makanan ringan Lay’s , Cheetos, dan Doritos pada Juni 2025, PepsiCo Indonesia telah bermitra dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO).

IPRO adalah sebuah organisasi nirlaba independen yang bergerak di bidang pengelolaan sampah kemasan pascakonsumsi, serta Bali Waste Cycle (BWC), sebuah perusahaan yang berfokus pada pengelolaan sampah, terutama kemasan MLP dan non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) di Bali, yang juga merupakan salah satu dari 10 finalis teratas program PepsiCo Greenhouse Accelerator (GHAC) APAC 2025.

Kolaborasi ini diresmikan dalam media briefing dan talkshow bertajuk, “Towards Circularity: Tackling Waste Management Challenge Through Multi-Stakeholder Collaboration", Selasa (26/8/2025).

Acara yang dihadiri langsung pihak Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) ini diharapkan dapat mendorong sistem pengelolaan kemasan pascakonsumsi yang lebih bertanggung jawab, terukur, dan berdampak di Indonesia.

Sesi ini bertujuan untuk menjadi wadah terbuka bagi para pemangku kepentingan dan media untuk bertukar perspektif, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular di Tanah Air.

Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Kebijakan ini mengamanatkan produsen untuk bertanggung jawab mengurangi sampah yang dihasilkan dari produk dan/atau kemasannya, termasuk pada tahap pascakonsumsi.

Baca juga : Dukung Keberlanjutan, DPP INSA Tanam Ribuan Bibit Mangrove

Direktur Government Affairs and Corporate Communications PepsiCo Indonesia, Gabrielle Angraini Johny mengatakan, upaya perusahaan dalam mendukung agenda keberlanjutan nasional, termasuk penerapan kebijakan EPR.

“PepsiCo Indonesia berupaya untuk mendorong inisiatif keberlanjutan di tahun pertama operasionalnya di 2025 ini melalui kolaborasi multipiha," ujar Gabrielle.

Ia menambahkan, tahun ini, Pepsi.Co mulai bekerja sama dengan IPRO dan Bali Waste Cycle untuk melakukan pengumpulan dan daur ulang kemasan paska konsumsi dari produk Lay’s, Cheetos, dan Doritos.

Sejak awal berdiri, aspek keberlanjutan telah menjadi nilai penting dalam operasi kami di Indonesia.

Di fasilitas produksi pertama PepsiCo yang terletak di Cikarang, Jawa Barat, kami terus berupaya mendorong penggunaan listrik terbarukan, memperkuat praktik pengelolaan dan daur ulang air, serta melakukan penanganan dan segregasi sampah yang dikelola sesuai standar pemerintah.

Gabrielle menperkenalkan PepsiCo Positive (pep+), strategi end-to-end perusahaan dalam menanamkan nilai-nilai keberlanjutan di seluruh rantai nilainya, mulai dari produksi dan pengemasan hingga distribusi.

Melalui pendekatan ini, PepsiCo berupaya menciptakan rantai nilai yang menghasilkan manfaat tidak hanya bagi bisnis, tetapi juga bagi bumi dan masyarakat.

Baca juga : Kukuhkan 6 Guru Besar Baru, UNAS Perkuat Reputasi sebagai Kampus Unggul Nasional

Selain itu, PepsiCo merupakan anggota Business Coalition for a Global Plastics Treaty, yang menyatukan lebih dari 290 bisnis, lembaga keuangan, dan LSM dan mendorong upaya global terhadap penanganan sampah plastik.

Lebih lanjut Gabrielle menambahkan, PepsiCo menjalin kemitraan strategis dengan IPRO untuk membantu memperkuat sistem pengumpulan dan daur ulang MLP yang digunakan dalam produk makanan ringannya.

Inisiatif ini diharapkan dapat berkembang setiap tahun, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan penguatan infrastruktur pengelolaan sampah kemasan makanan.

Sementara itu, General Manager IPRO, Reza Andreanto menjelaskan bahwa IPRO sebagai organisasi berbentuk yayasan yang menyediakan kerangka kerja implementasi kepatuhan EPR dengan perluasan pemangku kepentingan, saat ini memfokuskan upayanya pada penguatan infrastruktur pemilahan, pemberdayaan sistem rantai pengumpulan, dan pelacakan material kemasan pascakonsumsi, serta peningkatan kemitraan daur ulang di Indonesia.

Reza memaparkan, bahwa IPRO telah berhasil memastikan lebih dari 19 ribu ton pengumpulan terpilah untuk daur ulang selama periode 2021 hingga 2024, yang 1.917 ton diantaranya adalah kemasan MLP.

Sampah kemasan ini telah diolah kembali menjadi produk bermanfaat, seperti bahan baku kemasan detergen, roofing application (karpet talang), pallet untuk warehouse dan freight, serta produk daur ulang lainnya.

“IPRO berfungsi untuk menghubungkan berbagai elemen penting, antara industri yang dimandatkan patuh peraturan EPR dengan mitra pengumpul sampah dan pendaur ulang, demi memastikan aliran PCR (Post-Consumer Recycled)," ujar Reza.

Baca juga : Tingkatkan Kompetensi Teknisi, Daikin Gandeng APITU

Reza menambahkan, kolaborasi IPRO dengan PepsiCo Indonesia merupakan contoh nyata bagaimana sektor swasta telah menjalankan kepatuhan regulasi dan berkontribusi aktif dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah kemasan yang terintegrasi serta berdampak.

Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan (BPLH) Agus Rusly mengatakan, perkembangan implementasi kebijakan kewajiban produsen dalam pengurangan sampah serta pentingnya kolaborasi multisektor dalam implementasi EPR menuju penerapan ekonomi sirkular.

“Inisiatif yang dilakukan oleh PepsiCo Indonesia, IPRO dan BWC layak kami apresiasi dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi produsen lain,” pungkas Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bali Waste Cycle, Olivia Anastasia Padang mengatakan, melalui kolaborasi multipihak, BWC berhasil mengembangkan inovasi pengumpulan dan pengolahan MLP menjadi produk bernilai guna, mulai dari furnitur, perabot rumah tangga, souvenir, hingga kaki palsu bagi penyandang disabilitas.

"Kami juga mengapresiasi dukungan PepsiCo melalui program Greenhouse Accelerator (GHAC) APAC 2025 yang memberikan pendanaan sebesar USD 20.000 dan pendampingan dalam peningkatan kapasitas agar terus memperkuat kesiapan BWC dalam membangun sistem yang lebih berkelanjutan," ujar Olivia.

Ia menambahkan, kolaborasi ini membuktikan bahwa solusi atas tantangan plastik rendah nilai hanya dapat dicapai melalui kerja sama lintas sektor, inovasi, dan upaya untuk masa depan yang lebih bersih dan inklusif.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.