Dark/Light Mode

Siapkan Industri Asuransi Hadapi Risiko EV, Tugure Gelar Sharing Session Korea

Rabu, 27 Agustus 2025 22:10 WIB
Foto: Tugure
Foto: Tugure

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) melalui Tugure Academy kembali menyelenggarakan Sharing Session internasional, kali ini di Korea, setelah sebelumnya sukses digelar di Thailand dan Jepang. 

Kegiatan yang melibatkan 21 mitra usaha ini mengangkat tema “Charging The Future: Managing Risks in the EV Industry” sebagai bentuk komitmen Tugure dalam mendukung transformasi industri perasuransian seiring perkembangan teknologi dan energi terbarukan.

Dalam sambutannya, Direktur Keuangan Tugure, Dradjat Irwansyah menyampaikan, apresiasi kepada para mitra usaha yang konsisten mendukung kegiatan Sharing Session. Ia menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang diskusi bersama, tidak hanya bagi segmen general insurance, tetapi juga life insurance.

Lebih jauh, Dradjat menyoroti pembentukan Operation Support Department (OSD) sebagai langkah strategis Tugure untuk meningkatkan pelayanan sesuai kebutuhan mitra. OSD merupakan unit kerja baru yang difokuskan untuk meningkatkan akurasi data premi dan klaim, melakukan rekonsiliasi berkala, monitoring SLA akseptasi, hingga pengawasan aging klaim agar penyelesaian lebih cepat dan transparan.

Baca juga : AAMAI Dorong Industri Asuransi Lahirkan Inovasi Hadapi Tantangan Geopolitik

“Dengan adanya OSD, rekonsiliasi dilakukan sejak awal sehingga proses klaim menjadi lebih mudah dan terukur, likuiditas terjaga, dan laporan keuangan berbasis IFRS 17 semakin akurat,” jelasnya.

Pada sesi utama, Aries Karyadi, Property & Engineering Group Head Tugure, memaparkan berbagai risiko seiring perkembangan industri Electric Vehicle (EV). Ia menekankan bahwa dorongan global melalui Paris Agreement 2018 serta insentif pemerintah Indonesia bagi industri EV memunculkan tantangan besar, terutama terkait baterai lithium sebagai komponen utama.

Aries menjelaskan risiko overcharging, overheating, thermal runaway, hingga kebakaran baterai yang sulit dipadamkan dengan metode konvensional.

“Lebih dari 50 persen nilai EV ada pada baterai. Satu cell saja yang rusak bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, dalam polis maupun survei risiko, faktor-faktor ini harus diperhatikan secara khusus,” tegasnya.

Baca juga : Industri Asuransi BUMN Bakal Lebih Besar Dan Kuat

Selain itu, Aries menyinggung risiko rantai logistik EV, termasuk kebutuhan asuransi third party loss pada transportasi seperti kapal RORO. Ia menekankan pentingnya penyesuaian premi sesuai tingkat risiko serta perlindungan tambahan yang dibutuhkan.

“Industri asuransi memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi, salah satunya melalui edukasi risiko green energy dan penerapan standar mitigasi yang ketat,” tambahnya.

Menutup sesi, R. Djoko Slamet Prasetiyo, Direktur Teknik Tugure, menekankan pentingnya kolaborasi erat antar pelaku industri dan regulator agar tercapai solusi win-win dalam pengelolaan risiko EV.

“Fenomena EV ini adalah peluang sekaligus tantangan. Tugure hadir untuk memastikan industri asuransi Indonesia tidak tertinggal momentum, belajar dari negara produsen EV seperti Korea, dan menyiapkan strategi mitigasi yang tepat,” pungkasnya.

Baca juga : Siapkan Siswa Hadapi FLS3N, UNJ Gelar Pelatihan Gitar Klasik

Melalui Sharing Session ini, Tugure menegaskan perannya sebagai perusahaan reasuransi yang tidak hanya menyediakan kapasitas proteksi, tetapi juga aktif memberikan wawasan, edukasi, dan solusi inovatif bagi industri asuransi di tengah transformasi energi dan teknologi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.