Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pre-Border, Terobosan Karantina Indonesia Menuju Ketahanan Pangan Global
Sabtu, 30 Agustus 2025 12:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Karantina Indonesia (Barantin) meluncurkan kebijakan strategis tindakan karantina ikan pre-border di negara asal sebagai langkah terobosan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing logistik Indonesia di mata dunia.
Pre-border memastikan pemeriksaan kesehatan ikan dan produk ikan dilakukan langsung di negara asal sebelum dikirim ke Indonesia. Dengan begitu, proses karantina yang semula memakan waktu rata-rata 43 jam di pelabuhan atau bandara dapat dipangkas drastis menjadi hanya 5 jam.
Deputi Bidang Karantina Ikan, Drama Panca Putra menegaskan, penerapan pre-border karantina merupakan langkah strategis untuk memastikan hanya komoditas perikanan yang sehat, aman, dan sesuai standar internasional yang boleh masuk ke Indonesia.
“Pre-border bukan sekadar efisiensi layanan, tetapi juga proteksi terhadap ancaman masuknya Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) yang dapat mengganggu keberlanjutan sektor perikanan kita,” ujar Drama di Kantor Deputi Bidang Karantina Ikan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).
Baca juga : Indonesia Mesti Menjadi Teladan Regional Dan Global
Selain mempercepat arus barang hingga 8 kali lebih cepat, kebijakan ini juga berpotensi menghemat biaya logistik dan mencegah kerugian mutu ikan senilai lebih dari 1,07 triliun rupiah per tahun.
Industri dalam negeri pun diuntungkan karena memperoleh bahan baku berkualitas tinggi untuk mendukung produksi dan ekspor kembali.
Pelaksanaan pre-border juga menjadi wujud nyata komitmen Indonesia dalam menjalankan mandat internasional, seperti WTO-SPS Agreement dan standar WOAH, serta mendukung target RPJMN 2025–2029 dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Lebih jauh, kebijakan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sistem biosekuriti modern yang adaptif, responsif, dan sejajar dengan negara-negara maju.
Baca juga : Taman Safari Indonesia Jalankan Inseminasi Panda Raksasa
Menurut Portal Data KKP, sepanjang tahun 2024–2025, volume impor komoditas perikanan mencapai 8,77 juta kilogram dengan nilai perdagangan sebesar USD 85,44 juta. Negara asal impor terbesar adalah Norwegia dengan volume 5,52 juta kilogram dan nilai perdagangan mencapai USD 50,1 juta, disusul Australia dengan 2,68 juta kilogram senilai USD 29,4 juta.
Selain itu, impor juga berasal dari Inggris, Jepang, dan Tiongkok meski dengan volume relatif lebih kecil. Dari sisi jenis komoditas, salmon–trout mendominasi dengan total impor 8,52 juta kilogram atau setara USD 81,89 juta.
Sementara itu, produk lain yang turut masuk meliputi ikan hias senilai USD 1,37 juta, tuna senilai USD 582 ribu, makarel senilai USD 113 ribu, serta sarden–sardinella senilai USD 19 ribu. Pada 2024, nilai impor mencapai volume 5,97 juta kilogram dengan nilai USD 58,6 juta, sementara pada periode 2025 tercatat USD volume 2,79 juta kilogram dengan nilai 26,8 juta.
“Pre-border adalah inovasi lompatan paradigma. Indonesia kini tidak hanya reaktif di border, tapi proaktif di negara asal, sehingga risiko bisa ditekan sejak awal,” tambah Drama.
Baca juga : Peruri, Wiradesa Group Dan UGM Latih Peternak Desa Tingkatkan Budidaya Domba
Dengan penguatan pengawasan di pintu masuk pelabuhan dan bandara, diharapkan arus logistik perikanan tetap lancar, efisien, dan berdaya saing, sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem perikanan nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya