Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bamsoet Dorong Peningkatan Daya Beli Masyarakat Agar UMKM Tumbuh
Kamis, 18 September 2025 20:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo, menegaskan daya beli masyarakat yang kuat merupakan fondasi yang memungkinkan UMKM untuk tumbuh dan mengakses kredit karena adanya permintaan pasar yang jelas. Tanpa itu, berapa pun besarnya dana digelontorkan Pemerintah tidak akan berpengaruh secara signifikan.
Dia menerangkan, daya beli dan kredit UMKM saling terkait dan memengaruhi satu sama lain. Tetapi, dalam siklus ekonomi, daya beli masyarakat yang kuat umumnya akan mendorong permintaan produk atau jasa.
“Yang kemudian baru bisa memicu kebutuhan akan peningkatan kapasitas UMKM dan mendorong pengajuan kredit untuk berkembang," ujar Bambang, usai menghadiri rapat Pengurus Kadin Indonesia dengan Badan Pengurus Pusat HIPMI, di Jakarta, Kamis (18/9/2025). Hadir antara lain Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie beserta jajaran Pengurus Pusat Kadin Indonesia dan Ketum HIPMI Akbar Himawan Buchari beserta jajaran BPP HIPMI.
Baca juga : Lestari Moerdijat Dorong Peningkatan Kepercayaan Publik Pada Perlindungan Kekerasan
Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi UMKM memang tidak ringan. Masalah klasik mulai dari sertifikasi halal dan SNI, keterbatasan cold chain untuk produk pangan, hingga literasi digital masih menghambat laju ekspor. Selain itu, data UMKM yang belum terintegrasi membuat program pemerintah sulit dievaluasi secara akurat.
Dari sisi pembiayaan, Pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sudah menyalurkan ratusan triliun rupiah hingga akhir 2024 dan menargetkan angka yang lebih besar pada 2025. "Namun, pembiayaan saja tidak cukup. Modal harus disertai pendampingan, sertifikasi, dan dukungan logistik. Kalau hanya memberikan modal tanpa memastikan produk sesuai standar ekspor, hasilnya tidak maksimal,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menekankan, perlunya sinergi antara Kadin Indonesia dengan HIPMI untuk mendukung UMKM Indonesia menembus dan bersaing di pasar global. Dengan jumlah mencapai 64,2 juta unit dan kontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi rakyat, tetapi juga benteng ketahanan bangsa di masa krisis. Namun, peran besar ini belum sepenuhnya tercermin di pasar internasional. Kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih berkisar di angka 15–16 persen.
Baca juga : BRI Peduli Dorong Pengelolaan Sampah Di Bali Lewat Pelatihan Pupuk Kompos
“Kadin punya jaringan ke korporasi besar, akses pasar internasional, dan hubungan kuat dengan pemerintah. HIPMI punya energi anak muda, keberanian berinovasi, dan dekat dengan UMKM di lapangan. Jika bersinergi, keduanya bisa menjadi mesin besar yang menggerakkan UMKM kita menjadi pemain global," ucap Bamsoet.
Ketua HIPMI 2001-2005 ini memaparkan, ada banyak kisah sukses yang membuktikan UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar dunia. Misalnya, kopi arabika Gayo dari Aceh yang pada 2024 mencatat peningkatan ekspor signifikan ke pasar Eropa dan Timur Tengah berkat kualitas dan branding geografisnya. Di sektor kerajinan, UMKM di Jepara berhasil menembus pasar Amerika dan Jepang dengan produk furnitur kayu jati yang mengusung nilai keberlanjutan.
Sementara itu, pelaku UMKM fashion modest wear dari Bandung mulai dilirik pasar dari Timur Tengah karena desainnya dianggap sesuai tren global. Contoh-contoh tersebut harus menjadi inspirasi dan bukti bahwa jika diberi dukungan tepat, UMKM Indonesia tidak kalah bersaing.
Baca juga : Lima Hal Tentang Pencabutan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Mpox
"Untuk memperkuat tren positif tersebut, perlu dibentuk tim kerja gabungan Kadin–HIPMI. Targetnya, dalam tiga tahun jumlah UMKM yang mengekspor meningkat signifikan, dengan kontribusi terhadap ekspor nasional naik ke kisaran 25–30 persen. Ini target realistis jika kita bekerja dengan program terukur, bukan hanya retorika belaka,” jelas Bamsoet.
Anggota Komisi III DPR juga mengingatkan, tren global kini bergerak ke arah keberlanjutan. Pasar Eropa dan Amerika semakin selektif terhadap produk yang ramah lingkungan dan memiliki jejak karbon rendah. Karena itu, UMKM Indonesia harus disiapkan sejak dini agar tidak hanya mengandalkan harga murah, tetapi juga menawarkan nilai tambah berupa keberlanjutan.
“Kalau kita bisa satukan Kadin, HIPMI, perbankan, pemerintah, dan marketplace, saya optimis UMKM Indonesia tidak hanya jadi tulang punggung ekonomi nasional. Tetapi juga pilar ekspor yang berdaya saing global,” pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya