Dark/Light Mode

Ekspor Baja Buatan RI Tembus Pasar Spanyol

Jumat, 26 September 2025 09:12 WIB
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta mewakili Menteri Perindustrian memberikan sambutan pada acara Pelepasan Ekspor Produk Cold Rolled Coil (CRC) PT Krakatau Baja Industri (KBI) ke Spanyol yang berlangsung di Cilegon, Banten, Kamis (25/9). (Foto: Kemenperin)
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta mewakili Menteri Perindustrian memberikan sambutan pada acara Pelepasan Ekspor Produk Cold Rolled Coil (CRC) PT Krakatau Baja Industri (KBI) ke Spanyol yang berlangsung di Cilegon, Banten, Kamis (25/9). (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri logam dasar terus menunjukkan kinerja gemilang dengan pertumbuhan mencapai 14,7 persen secara tahunan (y-o-y) pada triwulan II-2025 dan kontribusi sebesar 6,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Capaian ini merupakan hasil ekspansi produksi yang semakin luas, didorong oleh permintaan global, khususnya dari sektor besi dan baja, serta keberhasilan program hilirisasi nasional,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta saat melepas ekspor produk Cold Rolled Coil (CRC) PT Krakatau Baja Industri (KBI) ke Spanyol di Cilegon, Banten, Kamis (25/9).

Setia menyebut, industri baja nasional kini berperan penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur, penguatan industri permesinan, otomotif, galangan kapal, hingga energi. Berdasarkan data World Steel Association, Indonesia pada 2024 menempati posisi ke-14 dunia dalam produksi crude steel dengan capaian 17 juta ton, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2019 sebesar 8,5 juta ton.

Baca juga : UMK Binaan Grup MIND ID Tembus Pasar Global

“Saat ini, kapasitas terpasang crude steel nasional mencapai 21 juta ton dan ditargetkan naik menjadi 27 juta ton pada 2029. Ini menunjukkan optimisme dan langkah ekspansif Indonesia dalam memperkuat daya saing global,” ujarnya.

PT KBI, kata Setia, turut memberikan kontribusi terhadap performa positif tersebut. Sepanjang 2025, perusahaan mengekspor 62 ribu ton CRC ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Polandia, dan Spanyol. Pada pengapalan terbaru ke Spanyol, KBI mengekspor lebih dari 54 ribu ton CRC senilai Rp 571 miliar.

Menurut dia, momentum ekspor menjadi bukti ketangguhan industri manufaktur Indonesia dalam menembus pasar internasional. “Pelepasan ekspor ini mencerminkan kemampuan industri baja nasional menghasilkan produk berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional. Kami memberikan apresiasi kepada PT KBI atas konsistensinya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Baca juga : Mayoritas Saham Menguat, IHSG Tembus 8.060 Pada Awal Perdagangan

Ia menambahkan, ekspor CRC tersebut juga menunjukkan sinergi kuat antara PT KBI sebagai industri penggilingan baja dengan PT Krakatau Steel sebagai penyedia bahan baku hulu. “Kolaborasi ini mencerminkan kekuatan ekosistem industri baja dalam negeri dalam merespons permintaan global,” ujarnya.

Setia menekankan pentingnya keberlanjutan dan inovasi dalam memperkuat daya saing industri baja nasional. “Kami mendorong pelaku industri terus meningkatkan kualitas produk, mengembangkan inovasi bernilai tambah tinggi, serta menerapkan proses produksi yang efisien dan ramah lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan industri baja nasional melalui sejumlah kebijakan strategis. Dukungan itu antara lain berupa penerapan trade remedies, pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan produk dalam negeri pada proyek pemerintah, hingga penerapan prinsip industri hijau.

Baca juga : Mensos: Realisasi Bansos Triwulan III Tembus 75 Persen Lebih

“Kebijakan ini memastikan peningkatan kapasitas dan utilisasi produksi baja nasional secara berkesinambungan, serta menjaga daya saing produk baja Indonesia di pasar domestik maupun ekspor,” katanya.

Agus menambahkan, meski menghadapi tantangan akibat disrupsi ekonomi global dan kebijakan proteksionisme, peluang ekspor baja Indonesia tetap terbuka. “Industri baja nasional memiliki ruang untuk memperluas penetrasi pasar dengan memanfaatkan dinamika perdagangan global,” ujarnya.

Menperin juga menegaskan kembali pentingnya inovasi dan keberlanjutan. “Industri besi dan baja memiliki peran krusial dalam memperkuat perekonomian nasional melalui penciptaan nilai tambah dan ekosistem hulu-hilir yang terintegrasi,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.