Dark/Light Mode

Manajemen Risiko yang Terlupakan: Mengapa Banyak Perusahaan Indonesia Rugi

Rabu, 8 Oktober 2025 21:49 WIB
Dr. H. Sugiyanto, MM (Foto: Dok. Pribadi)
Dr. H. Sugiyanto, MM (Foto: Dok. Pribadi)

Banyak perusahaan sedang megap-megap. Dari industri manufaktur hingga startup digital, dari korporasi raksasa sampai UMKM, laporan keuangannya memerah. Dalam beberapa bulan terakhir, berita tentang PHK massal, restrukturisasi, dan penutupan cabang makin sering menghiasi linimasa. Pertanyaannya: apakah semua ini murni akibat gejolak ekonomi global?  Atau ada yang lebih mendasar  manajemen risiko yang diabaikan?

Di tengah ketidakpastian ekonomi, rupiah tertekan terhadap dolar, biaya logistik melonjak, dan suku bunga tinggi menekan margin. Tetapi di ruang rapat banyak perusahaan, diskusi tentang “risiko” sering kali hanya formalitas sekadar memenuhi checklist audit. Padahal, justru di masa-masa seperti inilah manajemen risiko menjadi urat nadi keberlangsungan bisnis.

Risiko Tak Pernah Tidur

Kita sering bicara soal ekspansi, pertumbuhan, dan target laba, tapi jarang membahas risiko yang menyertainya. Seolah-olah risiko adalah momok yang menakutkan, bukan kenyataan yang harus dikelola. Ketika harga bahan baku melonjak, permintaan melemah, atau kebijakan berubah, banyak manajemen baru sadar bahwa strategi mereka rapuh karena tidak pernah mengantisipasi skenario terburuk.

Bukan rahasia, banyak perusahaan di Indonesia masih bersifat reaktif. Mereka baru bergerak ketika kerugian sudah di depan mata. Sebagian bahkan masih beranggapan bahwa manajemen risiko adalah urusan staf keuangan atau auditor internal. Padahal, manajemen risiko seharusnya menjadi budaya perusahaan yang dimulai dari level direksi hingga karyawan paling bawah.

Baca juga : Kemenkes Ingatkan Pentingnya Kesehatan Jiwa Di Segala Situasi

Kerugian Bukan Sekadar Takdir

Mari jujur: banyak kerugian yang sebetulnya bisa dihindari. Perusahaan yang terlalu agresif ekspansi tanpa memperhitungkan fluktuasi nilai tukar kini terjepit oleh utang dolar. Startup yang bergantung pada pembiayaan eksternal tumbang karena gagal membaca perubahan tren pasar dan perilaku konsumen. Sementara sektor manufaktur yang tak melakukan diversifikasi rantai pasok harus menanggung biaya produksi yang melonjak akibat konflik geopolitik.  Semua itu bukan takdir itu kegagalan membaca risiko.

Dalam ekonomi yang makin kompleks, risiko bukan lagi datang satu per satu. Ia datang berlapis: risiko keuangan, risiko operasional, risiko reputasi, bahkan risiko siber. Satu keputusan salah bisa memicu efek domino yang meluluhlantakkan bisnis.

Belajar dari yang Bertahan

Menariknya, di tengah gelombang rugi, masih ada perusahaan yang justru mencatatkan pertumbuhan. Apa bedanya? Mereka punya sistem manajemen risiko yang hidup, bukan sekadar dokumen di lemari.

Baca juga : Gelar Wealth Wisdom 2025, Permata Bank Genjot Ketahanan Finansial

Perusahaan dengan enterprise risk management yang matang melakukan pemetaan risiko sejak awal. Mereka punya simulasi skenario bagaimana jika kurs melemah 10%, bagaimana jika inflasi naik 2%, bagaimana jika pemasok utama berhenti beroperasi. Dengan data dan prediksi, mereka bisa menyiapkan strategi alternatif sebelum badai datang.

Di level global, korporasi seperti Toyota atau Unilever terkenal tangguh bukan karena selalu untung, tetapi karena mampu bertahan. Di Indonesia, sejumlah BUMN yang memperkuat unit manajemen risiko terbukti lebih stabil menghadapi guncangan ekonomi. Artinya jelas: risiko bukan untuk ditakuti, tapi untuk dikelola.

Dari Kepatuhan ke Ketahanan

Sudah saatnya manajemen risiko tak lagi diperlakukan sebagai kewajiban administratif. Dunia bisnis perlu bergeser dari compliance-based menjadi resilience-based. Artinya, manajemen risiko bukan hanya laporan bagi auditor, tetapi alat pertahanan untuk menjaga keberlanjutan perusahaan.

Pimpinan perusahaan harus memberi teladan. Jangan hanya bicara “efisiensi” dan “inovasi” tanpa membangun sistem mitigasi risiko. Gunakan data, teknologi, dan big analytics untuk memprediksi potensi gangguan. Terapkan audit risiko secara berkala, bukan sekadar ketika laporan keuangan bermasalah.

Baca juga : Marc Klok Dan Reijnders Pede Bawa Indonesia Ke Piala Dunia 2026

Lebih jauh lagi, pemerintah perlu mendorong penerapan manajemen risiko terintegrasi, terutama di BUMN dan perusahaan terbuka. Bukan karena tuntutan regulasi semata, tapi demi menciptakan ketahanan ekonomi nasional. Jika perusahaan-perusahaan Indonesia lebih tangguh, ekonomi nasional pun lebih kuat menghadapi badai global.

Kerugian bisa menjadi pelajaran berharga jika ada kemauan untuk belajar. Namun, jika manajemen risiko terus dilupakan, sejarah akan berulang, krisis datang, perusahaan rugi, dan ribuan pekerja menjadi korban.

Dalam dunia bisnis modern, bukan yang terbesar yang bertahan, tapi yang paling siap menghadapi risiko. Indonesia butuh lebih banyak perusahaan yang berani menghadapi ketidakpastian, bukan yang pasrah menunggu nasib.

Sugiyanto
Sugiyanto
Dosen Magister Akuntansi Universitas Pamulang

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.