Dark/Light Mode

Ansett Dan PanAm Gugur Karena Minimnya Intervensi Negara

Indonesia Tak Boleh Lengah

Jumat, 17 Oktober 2025 07:20 WIB
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: Dok. Garuda Indonesia)
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: Dok. Garuda Indonesia)

 Sebelumnya 
 

Restrukturisasi Berkelanjutan: Dimulai dari Puncak 

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Oktober 2025 menjadi momen penting dalam tahapan restrukturisasi Garuda. Dalam agenda tersebut, pemegang saham menyetujui susunan manajemen baru yang memperkuat dimensi tata kelola dan profesionalisasi baik dari sisi kapasitas finansial, operasional, maupun transformasi budaya perusahaan. 

Dua nama asing di jajaran direksi Balagopal Kunduvara (Direktur Keua­ngan dan Manajemen Risiko) dan Neil Raymond Mills (Direktur Transformasi menjadi simbol keseriusan arah baru ini. 

Baca juga : Iman Zanatul Haeri: Status Guru Pesantren Harus Dibikin Jelas

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa penempatan ekspatriat ini bukan kebetulan atau tren semata, melainkan keputusan strategis berbasis analisis kebutuhan dan manfaat jangka panjang. 

“Ya memang ini berkaitan tentunya dengan ekspat yang kita tempatkan di dalam Garuda. Ya karena ini kita mau menunjukkan bahwa kita serius,” ungkap Rosan dalam pernyataan publik pada Kamis, 16 Oktober 2025. Ia menjelaskan bahwa figur-figur tersebut memiliki rekam jejak panjang di maskapai global seperti Singapore Airlines dan Iberia Airlines. 

Rosan juga membuka peluang bahwa pendekatan serupa akan diterapkan di sejumlah BUMN lain. “Kita akan analisa, kita juga tidak akan ‘oh ini perlu ekspat’. Tapi kita benar-benar analisa bahwa ekspat yang kita bawa ini di BUMN-BUMN itu memang bisa memberikan transfer of technology, knowledge,” ujarnya. 

Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Pendidikan Karakter Pesantren Perlu Masuk

Kebijakan ini sejatinya bukan inisiatif parsial hanya untuk Garuda. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menyatakan bahwa regulasi sudah diubah untuk memberi ruang legal bagi WNA menempati posisi direksi di BUMN. Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa reformasi ini bertujuan untuk menghadirkan manajemen BUMN yang profesional, efisien, dan bertaraf internasional. Bahkan, beliau menginstruksikan pemangkasan jumlah BUMN secara drastis dari sekitar 1.000 menjadi hanya 200 agar lebih fokus dan kompetitif di pasar global. 

Pernyataan ini menandai terbukanya babak baru dalam profesionalisasi BUMN yang tidak hanya dilihat dari sisi efisiensi atau laba semata, melainkan dari kemampuan untuk menciptakan standar baru dalam kepemimpinan, kultur kerja, dan tata kelola korporat. Garuda menjadi pionir dalam eksperimen berani ini dan waktu akan membuktikan sejauh mana model ini dapat direplikasi secara efektif di sektor-sektor BUMN lainnya. 

Lebih dari sekadar penyelamatan korporasi, inisiatif ini adalah pilihan strategis sebuah bangsa: apakah Indonesia akan menjaga Garuda tetap mengudara sebagai simbol kedaulatan, diplomasi, dan jembatan Nusantara atau membiarkannya menjadi bagian dari daftar panjang maskapai legendaris yang hilang ditelan waktu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.