Dark/Light Mode

BBM Etanol 10 Persen Berlaku 2026, Pertamina Pastikan Aman Untuk Mesin

Sabtu, 25 Oktober 2025 16:27 WIB
Foto: Pertamina
Foto: Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah akan memberlakukan kebijakan mandatori bahan bakar minyak (BBM) campuran etanol 10 persen (E10) mulai 2026. Program ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menekan emisi karbon di sektor transportasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Meski demikian, kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat terkait kemungkinan penurunan performa mesin dan meningkatnya konsumsi bahan bakar. PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penggunaan etanol tidak akan menurunkan performa kendaraan.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowaputra, mengatakan etanol merupakan energi terbarukan yang bisa diproduksi dari sumber daya domestik seperti sektor pertanian dan perkebunan. “Etanol ini bioenergi yang bisa kita hasilkan sendiri. Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi etanol. Ini langkah menuju kemandirian energi,” ujar Ega di Jakarta, Sabtu (25/10/2025).

Ega menjelaskan, Pertamina sejak 2023 telah memasarkan Pertamax Green 95 dengan campuran etanol 5 persen (E5) di 170 SPBU di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Sudah dua tahun berjalan dan masyarakat tidak mengalami kendala. Permintaan juga terus meningkat,” katanya.

Ahli bahan bakar dan pembakaran, Tri Yuswi Jayanto Zainuri, menegaskan etanol aman digunakan pada kendaraan bermotor. Menurutnya, meski kandungan energinya sedikit lebih rendah dibanding bensin murni, pengaruhnya terhadap performa mesin tidak signifikan. 

Baca juga : Tinjau Persiapan Jakarta Running Festival, Pramono Pastikan Jalur Siap dan Aman

“Etanol memiliki angka oktan tinggi, antara 110–120, sehingga pembakarannya lebih sempurna. Secara energi memang lebih rendah sekitar tiga persen dari bensin murni, tapi pengemudi tidak akan merasakan perbedaan,” jelasnya.

Tri Yuswi juga meluruskan kesalahpahaman publik terhadap alat pengukur oktan Oktis 2 yang banyak digunakan masyarakat. “Alat itu tidak menggunakan metode standar internasional ASTM dengan mesin CFR. Jadi hasilnya bukan angka RON, melainkan sifat dielektrik cairan, sehingga tidak akurat,” katanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Hari Budianto, memastikan industri otomotif nasional siap menghadapi penerapan BBM campuran etanol. “Sejak 2010, mesin sepeda motor anggota AISI sudah didesain untuk kompatibel hingga E10. Jadi tidak ada masalah teknis dengan rencana mandatori E10,” ujar Hari.

Ia menambahkan, sosialisasi kepada masyarakat tetap penting agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Kekhawatiran muncul karena kurangnya informasi. Ini bukan ‘oplosan’, tapi program energi hijau yang dirancang pemerintah dan industri secara serius,” katanya.

Mandatori E10 juga dinilai dapat mendorong tumbuhnya industri bioenergi nasional. Dengan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai 3,9 juta kiloliter jika program diterapkan penuh. “Ini peluang besar untuk menciptakan efek berganda di sektor pertanian, industri kimia, dan energi terbarukan. Saat ini kapasitas produksi etanol domestik baru sekitar 350 ribu kiloliter per tahun, jadi ada ruang pertumbuhan besar,” ujar Ega.

Baca juga : Soal Data Duit Pemda Di Bank, BI Pastikan Akurat Dan Terverifikasi

Pertamina juga telah menyiapkan riset dan formula aditif khusus untuk menjaga kualitas BBM campuran etanol agar tidak menimbulkan korosi atau penurunan performa mesin.

“Aditif ini berfungsi sebagai corrosion inhibitor, demulsifier, dan performance improver agar bahan bakar tetap optimal,” jelasnya.

Selain memperluas distribusi Pertamax Green 95, Pertamina tengah menyiapkan infrastruktur penyimpanan dan logistik etanol guna mendukung pasokan nasional.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa ini bukan kebijakan coba-coba, tapi bagian dari rencana besar menuju kemandirian energi Indonesia,” tegas Ega.

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai kebijakan E10 sejalan dengan tren global menuju pengurangan emisi karbon. Ia berharap pemerintah konsisten dalam implementasinya.“Yang penting bagi konsumen, produknya aman untuk mesin, harganya terjangkau, dan ketersediaannya konsisten. Pemerintah jangan berubah arah di tengah jalan,” ujar Tulus.

Baca juga : BBM Campur Etanol E10 Persen Dorong Transisi Energi Dan Kesejahteraan Petani

Ia menegaskan pentingnya edukasi publik untuk menghindari misinformasi. “Di banyak negara seperti Brasil, Thailand, dan Amerika Serikat, campuran etanol sudah menjadi hal biasa. Indonesia tinggal memperkuat sosialisasi agar masyarakat percaya,” katanya.

Dengan dukungan industri, kebijakan yang konsisten, dan edukasi publik yang berkelanjutan, penerapan BBM campuran etanol diharapkan menjadi langkah nyata Indonesia menuju ekonomi hijau dan ketahanan energi berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.