Dark/Light Mode

Indonesia Di Tengah Badai Dunia

Senin, 27 Oktober 2025 06:35 WIB
Perekonomian Indonesia tumbuh positif di tengah perlambatan ekonomi global.
Perekonomian Indonesia tumbuh positif di tengah perlambatan ekonomi global.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah telah menavigasi ekonomi dengan arah yang benar. Namun arus global terlalu kuat untuk dihindari.

Perlambatan ekonomi global kembali terasa di awal 2025. Kenaikan harga energi dan gangguan pasokan internasional membuat biaya produksi meningkat di banyak negara. Di saat bersamaan, kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan Amerika Serikat dan Eropa menahan arus investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan eksternal yang berlangsung berkepanjangan itu mulai menguji ketahanan ekonomi nasional yang selama ini tumbuh stabil. 

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah menjalankan kebijakan ekonomi dengan disiplin dan kehati-hatian. Defisit fiskal dijaga agar tetap terkendali, inflasi ditahan melalui kombinasi kebijakan harga dan subsidi, serta konsumsi domestik dijaga agar roda ekonomi terus berputar. Langkah-langkah itu membuat Indonesia relatif tangguh ketika banyak negara lain mulai goyah. Namun 2025 membawa tantangan baru, bukan karena kesalahan arah, melainkan karena arah angin dunia yang berubah drastis. 

Baca juga : Di Era Pemerintahan Prabowo, Kinerja Sektor Energi Melesat

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook1, April 2025 mencatat bahwa pergeseran arah kebijakan ekonomi global berpotensi memicu pengetatan likuiditas secara mendadak serta arus modal keluar, tekanan yang paling terasa di negara-negara berkembang. Ketegangan geopolitik yang belum mereda di Ukraina dan Timur Tengah, serta perlambatan ekonomi Tiongkok, memperburuk situasi global yang sudah rapuh. 

Bank Dunia dalam Global Economic Prospects2, Juni 2025 melaporkan bahwa disrupsi rantai pasok dan fragmentasi perdagangan masih menjadi beban utama bagi pertumbuhan global. Kenaikan harga minyak dan bahan pangan mendorong inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia, yang sejak lama mengandalkan konsumsi domestik sebagai penopang utama pertumbuhan. Dampaknya mulai terasa dalam bentuk peningkatan biaya produksi, inflasi impor, dan melemahnya daya beli masyarakat. 

Tekanan itu semakin berat karena kebijakan moneter negara-negara maju belum melunak. OECD Economic Outlook 20253 menegaskan bahwa risiko gangguan arus modal kini meningkat tajam di negara-negara berkembang. Kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan Eropa memperkuat dolar serta menekan nilai tukar mata uang negara berkembang. Modal asing keluar dari pasar keuangan, biaya pembiayaan proyek meningkat, dan investasi baru cenderung tertahan. 

Baca juga : Hore, DKI Tambah 100 Sekolah Swasta Gratis

Menurut Ernst & Young (EY) Global Economic Outlook4, Juni 2025, aktivitas ekonomi dunia hanya akan tumbuh secara moderat dan tidak merata akibat ketegangan dagang, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian kebijakan yang ekstrem. Dunia kini bergerak di bawah awan ketidakpastian, dan setiap perubahan arah kebijakan di negara besar dapat mengguncang perekonomian negara lain, termasuk Indonesia. 

Meski demikian, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Kebijakan fiskal dijalankan dengan disiplin, koordinasi antara lembaga keuangan diperketat, dan cadangan devisa dijaga di atas ambang aman. 

IMF menilai bahwa Indonesia tetap menunjukkan permintaan domestik yang kuat serta kehati-hatian fiskal di tengah ketidakpastian global. Artinya, Indonesia telah menempuh semua langkah rasional dan terukur, namun badai global tidak memilih korban. Tekanan eksternal menimpa hampir seluruh ekonomi dunia, dan Indonesia kini ikut menanggung gelombangnya. 

Baca juga : Cek Ke Lapangan, KPK Kawal Normalisasi Ciliwung

Pengamat ekonomi dan Dewan Pakar Sahita Institute Iwan Nurdin mengatakan sinyalemen Menteri Keuangan Purbaya yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Juli-September 2025 melambat, nyaris tak terbantahkan. 

Oleh karena itu, menurut dia, langkah pemerintah dengan mempercepat belanja pemerintah harus didukung dengan tetap menunjukkan cara-cara yang yang taat dan transparan. 

“Pemerintah sudah melakukan langkah-langkah terbaik dalam koridor kebijakan yang tersedia, tetapi kita berhadapan dengan masalah yang sifatnya sistemik, bukan domestik. Tak ada kebijakan tunggal yang bisa menahan arus ekonomi global yang bergolak sekeras ini,” ujar Iwan. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.