Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Dampaknya kini nyata di lapangan. Pendapatan korporasi tumbuh lebih lambat, margin usaha menipis, dan sejumlah proyek investasi ditinjau ulang. Daya beli masyarakat tertekan oleh kenaikan harga energi dan pangan.
“Uji ketahanan terbesar bagi negara berkembang sejak krisis keuangan 2008. Indonesia masih berdiri kokoh, tetapi fondasinya kini diuji oleh arus global yang tidak menentu,” ujar Iwan.
Namun di tengah tekanan yang terus membesar, kesadaran baru mulai tumbuh, bahwa dunia tak bisa terus berjalan dengan logika kompetisi dan ego ekonomi.
Baca juga : Di Era Pemerintahan Prabowo, Kinerja Sektor Energi Melesat
“Negara-negara besar harus mulai menyadari bahwa kebijakan mereka menimbulkan efek sistemik bagi negara lain. Dalam ekonomi yang saling terhubung, tanggung jawab moral juga harus melampaui batas negara,” kata pengamat ekonomi dari Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto.
Indonesia kini berdiri di tengah pusaran dunia yang penuh pertarungan kepentingan, antara perebutan pengaruh politik, perdagangan, dan sumber daya. Namun dalam posisinya yang moderat, Indonesia memilih jalan Tengah, menyerukan keseimbangan, menegakkan prinsip non-blok, dan membuka ruang dialog yang rasional di tengah polarisasi dunia.
Keterbukaan ekonomi dan diplomasi yang berimbang menjadi dasar untuk memperjuangkan kepentingan nasional tanpa menutup diri terhadap kerja sama global. Melalui forum-forum internasional, diplomasi ekonomi Indonesia kian berperan sebagai jembatan antara utara dan selatan, antara industri maju dan pasar berkembang, antara kekuatan modal dan keadilan sosial.
Baca juga : Hore, DKI Tambah 100 Sekolah Swasta Gratis
Namun di atas semua itu, 2025 menjadi ujian bagi nurani dunia. Untuk Indonesia, ini bukan sekadar persoalan menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang mempertahankan ruang hidup bagi bangsa-bangsa yang sedang tumbuh agar tetap bisa bernapas di tengah sistem global yang makin menekan.
Sudah saatnya para pemimpin dunia menurunkan ego dan menghentikan kompetisi kebijakan yang saling melukai. Negara-negara berkembang membutuhkan waktu dan ruang untuk beradaptasi, untuk tumbuh, dan untuk menghirup angin perekonomian yang adil dan berkelanjutan.
“Jika dunia terus bergerak dengan logika yang hanya menguntungkan segelintir negara, maka krisis berikutnya bukan soal angka, tapi soal kemanusiaan. Negara berkembang butuh oksigen agar tetap hidup dalam sistem global, bukan dibiarkan sesak oleh kebijakan yang dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi mereka,” ujar Suroto.
Baca juga : Cek Ke Lapangan, KPK Kawal Normalisasi Ciliwung
Pemerintah Indonesia telah berlayar dengan arah yang benar, menjaga disiplin fiskal, menahan defisit, dan memperkuat fondasi ekonomi domestik. Namun laut global sedang bergolak, dan gelombangnya tidak bisa dihadapi sendirian.
Yang dibutuhkan kini bukan hanya strategi ekonomi, melainkan kebijaksanaan global: keberanian untuk menenangkan dunia yang kehilangan keseimbangannya, dan kemurahan hati untuk memberi ruang bagi negara-negara berkembang menghirup udara kemajuan. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya