Dark/Light Mode

Peringati Hari Damai Aceh, Mualem Ajak Masyarakat Merawat Perdamaian

Minggu, 16 Agustus 2026 06:45 WIB
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. (Foto: Instagram/muzakirmanaf1964)
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. (Foto: Instagram/muzakirmanaf1964)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf mengajak seluruh masyarakat berperan aktif dalam menjaga dan merawat perdamaian di Provinsi Aceh. Pesan tersebut dia sampaikan, menyambut Hari Damai Aceh yang diperingati setiap tanggal 15 Agustus.

Melalui akun instagramnya, Mualem, sapaan Muzakir Manaf, mengucapkan selamat memperingati Hari Damai Aceh ke-21. Dia berharap perdamaian yang telah diraih, dijaga, dan dirawat, untuk diwariskan kepada generasi penerus Aceh. 

“Mari kita bersama membangun Aceh yang bermartabat, adil, sejahtera, dan damai,” ucapnya, dikutip Sabtu (15/8/2026). 

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman mengatakan, peringatan 15 Agustus merupakan momentum bersejarah bagi masyarakat Aceh. Sebab, Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditandatangani di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. 

“Kesepakatan adalah wujud kebesaran jiwa para pemimpin, yang memilih berdamai untuk membangun Aceh. Di situ ada filosofinya, ada jiwa Aceh, bukan sekadar mengakhiri konflik. Di situ juga ada cita-cita, ada ruang untuk menata Aceh yang lebih baik dan bermartabat, yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Pemerintahan Aceh,” ujar Ampon Man, sapaan Teuku Kamaruzzaman di Banda Aceh, Jumat (14/8/2026). 

Baca juga : Airlangga: Harga BBM Dijaga, Daya Beli Tak Boleh Tergerus

Namun begitu, dia mengakui, perjalanan perdamaian tidak semulus harapan. Di satu sisi, pembangunan Aceh berjalan dengan baik dan dikuatkan dengan sistem politik baru yang lahir di Aceh. 

“Seperti, keberadaan lembaga wali nanggroe, dan juga adanya partai politik lokal, dan dana otonomi khusus,” imbuhnya. 

Di sisi lain, lanjut Ampon Man, dinamika politik antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh juga masih terjadi. Selain itu, berbagai persoalan politik lokal di Aceh juga ikut mewarnai perdamaian tersebut. “Itu semua menjadi bagian pendewasaan bagi kita semua,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Ampon Man mengatakan, persoalan paling mendasar saat ini, bukan sekadar kegiatan seremonial peringatan Hari Damai Aceh. Menurut dia, Aceh harus memiliki bentuk konkret perdamaian, yang diwujudkan dengan sempurna. 

“Salah satunya, revisi Undang-Undang Pemerintah Aceh yang sedang kita tunggu hasilnya. Apakah akan sesuai dengan cita-cita rakyat Aceh atau malah menyimpang dari itu,” tegasnya. 

Baca juga : Laba BSI Melonjak, Sinyal Kuat Kebangkitan Ekonomi Syariah

Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh, Misran Fuadi menambahkan, Pemerintah Aceh akan menggelar zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, pada peringatan Hari Damai Aceh tahun ini. Pihaknya berharap, kegitan tersebut semakin mengukuhkan perdamaian dan memberi keberkahan. 

Insya Allah kami akan berzikir dan berdoa bersama. Semoga Allah SWT menjaga Aceh dalam kedamaian dan memberikan keberkahan bagi seluruh masyarakat,” katanya. 

Sementara itu, Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al Haythar mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat persaudaraan, menjaga ketentraman, serta merawat perdamaian yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. 

Dia mengingatkan, tanggal 15 Agustus merupakan momentum penting dalam sejarah Aceh, yakni penandatanganan MoU antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia. 

“Kesepakatan tersebut lahir melalui kebesaran jiwa, keberanian, dan kebijaksanaan para pemimpin kedua belah pihak yang memilih dialog dan perdamaian sebagai jalan untuk membangun masa depan Aceh,” ujarnya. 

Baca juga : Jakarta Targetkan 2029 Sampah Terkelola 100 Persen

Perdamaian, lanjut dia, membuka kepercayaan masyarakat internasional terhadap Aceh. Kondisi tersebut kemudian mendorong hadirnya dukungan dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara serta lembaga internasional untuk membantu pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk pembangunan kembali infrastruktur pasca tsunami. 

“Atas nama Lembaga Wali Nanggroe Aceh, saya menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini berkontribusi menjaga perdamaian Aceh. Termasuk, para tokoh perdamaian, ulama, akademisi, mantan kombatan, aparat keamanan, Pemerintah, organisasi masyarakat, pemuda, perempuan, serta seluruh masyarakat Aceh. Perdamaian adalah warisan yang harus terus dirawat sebagai amanah lintas generasi,” tuturnya. [OSP]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.