Dark/Light Mode

Pendidikan di Pinggir Kebun Sawit: Ketika Siswa Menjadi Penjaga Ekosistem

Kamis, 30 Oktober 2025 19:28 WIB
Sekolah binaan PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) menanamkan cinta lingkungan sejak usia dini.
Sekolah binaan PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) menanamkan cinta lingkungan sejak usia dini.

RM.id  Rakyat Merdeka - Nuansa hijau yang teduh menyelimuti halaman SMP Harapan Indah Makmur. Bukan sekadar pepohonan biasa, melainkan deretan tanaman endemik yang menjadi 'kelas' terbuka bagi para siswa di sana.

Sekolah ini, yang terletak di pinggiran kebun sawit, telah mengubah kegiatan belajar-mengajar menjadi sebuah komitmen nyata: menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini.

Pemandangan ini adalah hasil dari sebuah kurikulum terapan yang unik, yakni Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Kebun Sawit (Mulok PLKS).

Program pendidikan ini dirancang oleh PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) untuk menanamkan kesadaran ekologis secara kontekstual, menjadikan lingkungan sekitar sekolah sebagai laboratorium hidup.

Belajar dari Sampah hingga Hutan

Baca juga : Kapolri Sigit: Ketamine Dan Etomidate Jadi Tren Baru Narkoba

Kegiatan belajar para siswa jauh dari kesan membosankan. Mereka tidak hanya duduk di ruang kelas, tetapi langsung terlibat dalam praktik pelestarian.

Sebut saja, mengelola sampah dengan filosofi 5R (reduce, reuse, recycle, replace, replant). Mereka juga diajak menelusuri kawasan bernilai konservasi tinggi, mempelajari identitas tumbuhan endemik, mengenali satwa dilindungi, hingga mempraktikkan pencegahan kebakaran hutan di lingkungan sekolah.

Jejak nyata inisiatif ini sudah terlihat. Sejak 2024, hampir 3.965 pohon baru telah ditanam di berbagai daerah operasional perkebunan sawit melalui tangan-tangan mungil siswa sekolah binaan ini.

Vice President Sustainability PT Astra Agro Lestari Tbk, Susila Darma Wati, menekankan bahwa sinergi antara dunia pendidikan dan sektor swasta adalah kunci keberlanjutan.

Baca juga : Penyerapan Anggaran Melambat: Benarkah Dana Mengendap?

“Dengan muatan lokal PLKS, kami tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam nilai. Anak-anak belajar memahami, peduli, dan terlibat aktif menjaga keanekaragaman hayati di sekitar mereka,” ujarnya saat menemani 45 jurnalis dari Jakarta mengunjungi SMP Harapan Indah Makmur dan SDS Harapan Sejahtera, di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Kamis (30/10/2025).

Sekolah Rujukan Konservasi

Hasil dari penanaman nilai ini berbuah manis. Hingga tahun 2024, inisiatif AAL telah melibatkan 194 sekolah, 2.359 guru, dan 49.251 siswa.

Yang membanggakan, lima sekolah binaan berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri, sepuluh sekolah meraih Adiwiyata Nasional, dan sisanya sukses di tingkat provinsi dan kabupaten.

Capaian ini menjadikan sekolah-sekolah di bawah naungan AAL sebagai rujukan program Adiwiyata bagi ratusan sekolah lain di 12 kabupaten.

Baca juga : Promosikan Biodiversity Kebun Sawit, IPOSS Tekankan Prinsip Berkelanjutan

Kepala sekolah SDS Harapan Sejahtera, Dwi Ardi Irawan, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya melihat siswa-siswanya menjadi pelopor gerakan hijau.

“Kami secara aktif melibatkan siswa, guru, dan masyarakat sekitar dalam penanaman pohon. Mereka belajar bahwa menjaga alam bukan hanya tugas orang dewasa, tapi juga tanggung jawab bersama,” tuturnya.

Program ini, pada akhirnya, telah mendorong kolaborasi yang lebih luas, melibatkan Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat.

Sekolah-sekolah di kawasan perkebunan kini tidak lagi sekadar menjadi tempat transfer ilmu, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat tumbuhnya budaya peduli lingkungan, menjamin ekosistem lestari untuk generasi mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.