Dark/Light Mode

Asbisindo Patok Target Market Share Bank Syariah Naik Hingga 20 Persen

Rabu, 5 November 2025 17:28 WIB
Sarasehan Asbisindo di event Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 yang digagas Otoritas Jasa Keuangan di Surabaya, Selasa (4/11/2025). (Foto: Dok. Asbisindo)
Sarasehan Asbisindo di event Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 yang digagas Otoritas Jasa Keuangan di Surabaya, Selasa (4/11/2025). (Foto: Dok. Asbisindo)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menargetkan, pangsa pasar bank syariah naik jadi 20 persen. Kondisi tersebut akan membuat pangsa pasar bank syariah di Indonesia setara dengan negara-negara lain. Saat ini pangsa pasar bank syariah di Indonesia baru sekitar 7,7 persen.

Ketua Umum Asbisindo Anggoro Eko Cahyo mengatakan, perbankan syariah rata-rata tumbuh di atas industri bank.

Secara global, aset keuangan syariah naik sekitar 10 persen per tahun dengan rata-rata pangsa pasar sekitar 20 persen.

“Ruang tumbuh bank syariah di Indonesia masih cukup lebar bisa tiga kali lipat dari posisi saat ini,” kata Anggoro dalam Sarasehan Asbisindo di event Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 yang digagas Otoritas Jasa Keuangan di Surabaya, dikutip Rabu, (5/11/2025).

Data OJK per Desember 2024 menunjukkan perbankan syariah nasional mencatatkan kinerja positif pada akhir tahun 2024.

Total aset tercatat sebesar Rp 980,30 triliun atau tumbuh sebesar 9,88 persen yoy pada Desember 2024 dengan market share tercatat naik menjadi 7,72 persen.

Baca juga : Indonesia Targetkan Produksi Sawit Hingga 92 Juta Ton Di 2045

Annggoro mengatakan, tahun 2025 merupakan momentum besar bagi perkembangan ekonomi syariah nasional, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto bahwa pengembangan ekonomi syariah menjadi pilar kedua agenda pembangunan nasional.

Artinya, sistem ekonomi yang berlandaskan keadilan, etika, dan kesejahteraan bersama bukan hanya nilai moral. “Tetapi juga strategi pertumbuhan ekonomi nasional yang telah dicantumkan juga di dalam Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJPN) 2025-2045,” ungkapnya.

Dukungan dan stimulus dari Pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi syariah sudah sangat baik. Mulai dari penetapan pilar pertumbuhan ekonomi nasional, blueprint ekonomi syariah Indonesia, Masterplan Industri Halal 2023-2029. Serta, pembentukan Komite Nasional Pengembangan Keuangan Syariah dan yang terbaru adalah penerbitan berbagai regulasi strategis, termasuk yang terakhir POJK tentang Kegiatan Usaha Bullion, yang membuka peluang besar bagi bank syariah untuk masuk ke ekosistem emas nasional.

Anggoro menyampaikan, untuk percepatan pertumbuhan industri bank syariah, Asbisindo merumuskan strategi Winning Proposition: Perbankan Syariah sebagai Solusi Keuangan yang Adil dan Transparan.

“Winning proposition selaras dengan Asta Cita Pemerintah dan nilai syariah/maqashid syariah yang menjadi unique value perbankan syariah,” ucapnya.

Keselerasan ini dielaborasi melalui berbagai aspek diantaranya mendorong industrialisasi inklusif dan hilirisasi produktif yang memiliki added value, membangun daya saing ekosistem halal di pasar global dan optimalisasi peran desa untuk Indonesia melalui pemerataan ekonomi berbasis syariah.

Baca juga : Bahlil Instruksikan Kader Beringin Konsolidasi Hingga Pelosok

“Asbisindo juga siap ambil bagian melalui pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai instrumen keuangan syariah yang bisa diimplementasikan melalui produk yang kompetitif, agar menjadi pilihan masyarakat,” katanya.

Menurut Anggoro, perbankan syariah membutuhkan dukungan kebijakan yang memungkinkan untuk akselerasi pertumbuhan industri termasuk di antaranya dukungan kebijakan perpajakan.

“Saat ini bank syariah memiliki beberapa alternatif pengembangan instrumen keuangan yang membutuhkan dukungan kebijakan agar lebih diminati masyarakat,” ujarnya.

Dia membeberkan, terdapat tiga alternatif pengembangan instrumen keuangan syariah. Pertama, Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) yang menggabungkan dua dimensi. Yakni, investasi dan kebermanfaatan untuk umat yang memberikan multiplier effect keberlanjutan bagi umat sekaligus juga untuk pembangunan ekonomi.

Kedua, inovasi Sharia Restricted Intermediary Account (SRIA) yakni instrument yang memberi kesempatan deposan mendapatkan imbal hasil lebih besar melalui proyek-proyek syariah dan tetap sesuai risiko proyek, sementara bank syariah tetap berperan sebagai intermediary yang transparan dan amanah.

Ketiga, Bulion bank/bank emas yang baru diluncurkan 26 Februari 2025 lalu oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memonetisasi potensi emas dari hulu hingga hilir sebagai investasi syariah yang aman, mudah dan tahan terhadap inflasi.

Baca juga : Info BMKG: Cuaca Besok Tangerang, Senin Berpotensi Hujan Sedang Hingga Ringan

“Asbisindo berharap emas dapat emas dalam aset likuid bank dan menjadi pengurang GWM,” harapnya.

Asbisindo tegas Anggoro, juga siap ambil peran dalam penguatan ekonomi syariah nasional melalui sinergi antara regulator dan pelaku industri. Sekaligus merumuskan arah pengembangan perbankan syariah yang lebih progresif dan berdaya saing global serta menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

Dia menambahkan, dukungan kebijakan, regulasi, dan pasar ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan lagi pelengkap, melainkan arus utama pembangunan nasional.

“Tentunya dibutuhkan transformasi, adaptif dan inovasi untuk menjadi pemain utama perbankan nasional,” katanya.

Dengan pengembangan instrumen diharapkan bank syariah lebih menarik dan dapat tumbuh lebih tinggi sustain dan tetap sehat.

“Asbisindo berkomitmen untuk kolaborasi dalam memperkuat peran perbankan syariah, untuk menjadi arus utama pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Anggoro.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.