Dark/Light Mode

Komoditas Nikel Indonesia Menguat, Hilirisasi Jadi Kunci

Kamis, 6 November 2025 17:55 WIB
Aktivitas pengangkutan ore nikel ke kapal tongkang di salah satu perusahaan pertambangan di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. (Foto: ANTARA/Jojon/Ama/aa)
Aktivitas pengangkutan ore nikel ke kapal tongkang di salah satu perusahaan pertambangan di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. (Foto: ANTARA/Jojon/Ama/aa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Harga nikel global sempat mengalami tekanan sepanjang 2025, seiring perlambatan ekonomi China dan meningkatnya pasokan dari pasar baru seperti Indonesia dan Filipina.

Di bursa London Metal Exchange (LME), harga nikel sempat turun ke kisaran 16.000 dolar AS per ton dari level tertinggi di atas 20.000 dolar AS per ton tahun sebelumnya.

Kondisi itu menekan margin produsen nikel dunia, terutama di tengah melemahnya permintaan dari sektor baja tahan karat di China dan penyesuaian rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Namun, di tengah tekanan global tersebut, industri nikel Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kuat berkat percepatan hilirisasi dan konsolidasi produksi di bawah MIND ID Group.

Dua perusahaan tambang besar milik negara, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sama-sama mencatatkan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Dari sisi produksi, ANTAM dan Vale secara kolektif membukukan total 68.755 ton nikel hingga akhir September 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi tersebut terdiri atas 17.520 ton nikel dalam feronikel (TNi) milik ANTAM dan 51.235 ton nikel matte dari Vale Indonesia.

Baca juga : Piala Asia, Timnas Futsal Indonesia 1 Grup Dengan Irak, Kirgistan, dan Korsel

Menurut M Kholid Syeirozi, Direktur Eksekutif Center of Energy Policy (CEP) M Kholid Syeirozi berpendapat, capaian ini tidak lepas dari kombinasi antara efisiensi operasi perusahaan dan dukungan kebijakan hilirisasi pemerintah.

“Kinerja tambang, termasuk ANTAM, tumbuh positif karena gabungan perbaikan operasi perusahaan dan ekosistem hilirisasi. Ada kenaikan penjualan berkat meningkatnya permintaan smelter setelah larangan ekspor ore,” papar Kholid.

Menurutnya, hilirisasi memberi nilai tambah signifikan terhadap pertumbuhan sektor nikel. Terutama, di tengah dinamika pasar global yang terus berubah.

“Industri nikel masih menghadapi risiko ketidakpastian global akibat oversupply yang menekan harga. Popularitas baterai LFP (lithium iron phosphate) dalam industri EV juga berpotensi menggerus pasar NCM (nickel cobalt manganese). Ini bisa mengancam ambisi Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai pasok EV global,” jelasnya.

Kholid menekankan, arah hilirisasi perlu ditingkatkan menjadi industrialisasi berbasis nikel, seperti pengembangan produk turunan stainless steel dan bahan kimia industri. Ini penting, agar daya saing Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar baterai.

Kinerja positif ANTAM juga tercermin dari sisi keuangan. Pada kuartal III-2025, perusahaan mencatatkan penjualan bersih Rp 72,03 triliun, atau tumbuh 67 persen dibandingkan Rp 43,20 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Baca juga : Garam dan Laut: 2 Jalur Emas Menuju Indonesia Mandiri

Laba bersih melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp 6,61 triliun dari Rp 2,23 triliun di 2024. Sementara laba usaha meningkat jadi Rp 7,89 triliun dari Rp 1,86 triliun.

Pertumbuhan ini turut disokong oleh kontribusi entitas asosiasi seperti PT Halmahera Persada Lygend (HPL), yang berfokus pada hilirisasi nikel sulfat untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.

Proyek Smelter Feronikel Halmahera Timur (P3FH) yang ditargetkan rampung pada 2026, akan menambah kapasitas produksi 13.500 ton nikel per tahun dan memperkuat rantai nilai baterai nasional.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan pendapatan 705,4 juta dolar AS hingga September 2025. Angka ini relatif stabil dibanding 708,6 juta dolar AS yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu.

Meski pendapatan sedikit terkoreksi, laba bersih naik menjadi 52,45 juta dolar AS dari 51,11 juta dolar AS di 2024. Produksi nikel matte mencapai 51.235 ton, naik tipis dari 50.531 ton di tahun sebelumnya.

Vale kini memperkuat langkah hilirisasi melalui tiga proyek strategis di bawah payung Indonesia Growth Project (IGP), yang menjadi tulang punggung pengembangan industri nikel nasional.

Baca juga : Kolaborasi Publik-Swasta Indonesia Hadir Kuat Di Forum G20 Afrika Selatan

Pertama, IGP Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang digarap bersama Huayou dan Ford Motor Company. Proyek ini ditargetkan menghasilkan 120 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan utama baterai EV.

Kedua, IGP Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah, yang berfokus pada produksi nickel pig iron (NPI) sekitar 73 ribu ton per tahun untuk mendukung industri baja tahan karat nasional.

Ketiga, IGP Sorowako di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang mengembangkan fasilitas pengolahan berbasis teknologi HPAL untuk meningkatkan efisiensi produksi nikel matte dari tambang eksisting.

Ketiga proyek tersebut ditargetkan beroperasi komersial pada 2026–2028, dan menjadi bagian penting dari ekosistem hilirisasi yang tengah dibangun MIND ID.

Dengan rantai bisnis terpadu dari hulu ke hilir mulai dari penambangan, pengolahan feronikel, hingga bahan baku baterai listrik MIND ID memainkan peran strategis dalam mendukung kebijakan hilirisasi nasional sekaligus transisi energi.

“MIND ID punya peran strategis sebagai agregator yang menyeimbangkan rantai pasok dan permintaan untuk menjaga siklus pasar. Holding tambang ini harus mampu mengantisipasi dua penyakit mekanisme pasar, baik oversupply maupun less demand. Misalnya, lewat kebijakan kuota produksi dan diversifikasi produk smelter,” pungkas Kholid.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.