Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Jumat Pagi, Rupiah Tertekan Ke Rp 16.713 Per Dolar AS
Jumat, 7 November 2025 09:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan pasar spot Jumat pagi (7/11), berada di posisi Rp16.713 per dolar AS, turun 12 poin atau 0,07 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini bervariasi. Dolar Hong Kong naik 0,01 persen, ringgit Malaysia menguat 0,09 persen, dan baht Thailand naik 0,06 persen. Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,08 persen, yen Jepang turun 0,08 persen, peso Filipina merosot 0,24 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,07 persen.
Dari kelompok mata uang utama dunia, sebagian besar juga dibuka melemah. Poundsterling Inggris turun cukup dalam sebesar 0,5 persen, diikuti euro Eropa yang terkoreksi 0,07 persen, franc Swiss minus 0,05 persen, dolar Australia minus 0,27 persen, dan dolar Kanada minus 0,03 persen.
Baca juga : Hemat Anggaran, KDM Mulai Berlakukan Kerja Dari Rumah Untuk ASN Pemprov Jabar
Pengamat keuangan Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah masih tergolong terbatas dan berpotensi berbalik menguat, seiring koreksi dolar AS setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.
“Rupiah hari ini diperkirakan bergerak di rentang Rp 16.650–Rp 16.750 per dolar AS,” ujar Lukman.
Sementara itu, pengamat keuangan Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Menurut dia, dari sisi global, pasar masih mencermati sikap Federal Reserve (The Fed) yang belum memberikan kepastian soal rencana pemangkasan suku bunga pada Desember mendatang.
Baca juga : Rupiah Menguat Ke Level Rp 16.699 Per Dolar AS Pada Kamis Pagi
“Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan pemangkasan suku bunga belum tentu dilakukan pada Desember membuat dolar AS kembali menguat,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, lanjut Ibrahim, sentimen turut dipengaruhi oleh wacana pemerintah yang akan mengusulkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Harga Rupiah atau Redenominasi Rupiah, yang dinilai pasar masih menimbulkan kehati-hatian.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed serta respons pemerintah terhadap dinamika nilai tukar dalam beberapa pekan mendatang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya