Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
LSI Denny JA: Pak Harto Presiden Yang Paling Disukai
Sabtu, 8 November 2025 09:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Hasil survei nasional terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan bahwa Presiden ke-2 RI, Soeharto, kini menjadi presiden yang paling disukai publik dibandingkan seluruh presiden yang sudah selesai menjabat.
Survei yang dilakukan pada Oktober 2025 itu menggunakan metode multi-stage random sampling terhadap 1.200 responden di seluruh provinsi, dengan wawancara tatap muka dan margin of error ±2,9 persen.
Hasilnya, publik menempatkan Soeharto di posisi teratas dengan 29,0 persen tingkat kesukaan, disusul Joko Widodo (26,6 persen) dan Soekarno (15,1 persen). Presiden lain menempati posisi berikut: Susilo Bambang Yudhoyono (14,2 persen), Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (5,0 persen), B.J. Habibie (5,0 persen), dan Megawati Soekarnoputri (1,2 persen). Sementara 3,9 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.
“Data ini sudah kami periksa berulang kali. Semua tabulasi dan metodologi benar. Inilah hasil ilmiah yang menggambarkan persepsi emosional bangsa hari ini terhadap para presiden Indonesia,” kata Denny JA, pendiri LSI Denny JA, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (8/11/2025).
Denny JA mengaitkan hasil survei ini dengan konsep psikologis rosy retrospection bias atau yang ia sebut sebagai “kacamata merah muda”. Istilah ini diperkenalkan oleh peneliti di University of Washington pada akhir 1990-an, yang menemukan bahwa manusia cenderung mengingat masa lalu lebih indah daripada kenyataan saat itu.
Baca juga : Astra dan IPB Bawa Ubi Desa ke Pasar Global, Petani Senang Pendapatan Naik
“Seiring waktu, yang pahit memudar, yang manis bertahan. Bangsa ini tampaknya juga mengenakan kacamata merah muda ketika menilai Pak Harto,” lanjutnya.
Menurut Denny, rezim otoriter di era Soeharto perlahan mulai terlupakan, sementara kenangan tentang keteraturan, harga yang stabil, dan pembangunan desa justru semakin menguat.
Dengan merujuk teori psikologi kognitif Daniel Kahneman, LSI menjelaskan, bias ini merupakan mekanisme alamiah otak yang menyaring memori negatif. Kenangan kolektif bangsa terhadap suatu era bisa berubah seiring waktu, terlepas dari fakta sejarah yang kompleks.
LSI Denny JA mencatat tiga faktor utama yang membuat publik masih menaruh simpati terhadap Soeharto. Pertama, ingatan Konkret dan Nyata. “Sekolah, irigasi, pasar, dan infrastruktur yang dibangun pada masa Soeharto masih dapat disentuh hingga kini. Masyarakat menilai hasil, bukan wacana,” ujar Denny.
Kedua, Citra Paternal dan Stabilitas. Soeharto dianggap sebagai sosok ayah bangsa; tegas, protektif, dan efektif. Dalam era modern yang penuh dinamika, citra kepemimpinan seperti itu menimbulkan rasa aman.
Ketiga, Keteraturan Ekonomi dan Sosial. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, publik merindukan masa ketika harga terasa stabil dan kehidupan lebih tertata. “Ingatan tentang keteraturan menjadi semacam selimut emosional bangsa,” tambahnya.
Baca juga : Presiden Paham, Anak Yang Lapar Tak Bisa Berpikir Jernih
Menanggapi wacana mengenai kemungkinan pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto, Denny JA menekankan pentingnya membaca sejarah secara utuh dan seimbang. “Pak Harto punya jasa besar dalam menstabilkan ekonomi pasca-hiperinflasi, memperkuat pembangunan, dan mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan. Tapi sejarah juga mencatat sisi gelapnya: represi politik, pelanggaran HAM, dan praktik KKN yang mengakar,” jelasnya.
Menurut Denny JA, penghargaan terhadap Soeharto, jika kelak diberikan, bukan berarti menghapus kesalahan, melainkan pengakuan atas paradoks manusia. “Kita bisa berterima kasih atas jembatan yang menolong banyak orang menyeberang, sambil tetap mencatat retakannya di hilir sejarah,” ujarnya.
Menilai Sejarah Tanpa Bias
“Ketika kita menilai Soeharto tanpa kacamata merah muda, dunia tampak lebih kontras: terang dan gelap berdampingan sebagaimana adanya,” kata Denny JA. “Ia bukan malaikat yang tak pernah salah, tetapi juga bukan bayangan yang tak punya jasa,” tambahnya.
Denny menutup refleksinya dengan pernyataan kontemplatif: “Sejarah bukan album potret berisi gambar terbaik. Ia adalah film panjang: cahaya dan bayangan, tawa dan tangis, salah dan betul, berkejaran di layar yang sama,” katanya.
Baca juga : Dony Tri Pamungkas Happy Persija Raih Kemenangan Di Pamekasan
Menurutnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tanpa dosa, melainkan bangsa yang mampu menatap masa lalunya dengan jujur, mengakui luka, menghargai jasa, dan melangkah maju dengan kebijaksanaan sejarahnya sendiri.
Lebih dari sekadar angka survei, temuan LSI Denny JA kali ini mencerminkan dialog batin bangsa terhadap sosok kepemimpinan ideal.
Di tengah gejolak zaman, publik tampaknya mendamba keseimbangan antara ketegasan, keadilan, dan empati.
Dalam cermin sejarah itu, nama Soeharto hadir bukan sekadar nostalgia, tetapi perenungan atas arah Indonesia ke depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya