Dark/Light Mode

PLN EPI Perkuat Bioenergi sebagai Pilar Transisi Energi Nasional

Sabtu, 29 November 2025 06:17 WIB
PLN EPI menegaskan komitmennya memperkuat pengembangan bioenergi sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan emisi dari PLTU. Komitmen ini disampaikan dalam Workshop yang diselenggarakan di BA Center di Jakarta. (Foto: Humas PLN EPI)
PLN EPI menegaskan komitmennya memperkuat pengembangan bioenergi sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan emisi dari PLTU. Komitmen ini disampaikan dalam Workshop yang diselenggarakan di BA Center di Jakarta. (Foto: Humas PLN EPI)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan komitmennya memperkuat pengembangan bioenergi sebagai bagian dari strategi transisi energi dan upaya menurunkan emisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Komitmen ini disampaikan dalam Workshop “Energi Terbarukan sebagai Sumber Energi Ramah Lingkungan: Potensi, Tantangan, dan Strategi Pengembangannya” di BA Center, Jakarta.

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Minyak dan Gas, Anggawira, menyatakan bahwa percepatan bioenergi harus selaras dengan arah kebijakan energi Presiden Prabowo Subianto, terutama untuk memperkuat ketahanan energi dan menyediakan listrik terjangkau bagi masyarakat.

Ia menilai, ketimpangan harga komoditas serta insentif yang belum memadai menjadi kendala bagi sektor biomassa maupun bioenergi.

“Kami melihat delapan tahun harga batubara tidak naik, sementara biaya produksi terus meningkat. Ini menimbulkan kontradiksi bagi pelaku usaha di sektor pasokan energi,” ujarnya.

Baca juga : UIN Jakarta Dorong Peran Indonesia sebagai Juru Bicara Perdamaian Global

Anggawira menambahkan, potensi bioenergi sangat besar dan dapat memperkuat rantai pasok energi nasional. Namun, penerapannya belum optimal karena biomassa belum menjadi critical performance indicator (CPI) bagi seluruh subholding PLN Group.

“Kalau tidak jadi CPI, otomatis tidak ada kewajiban untuk menyerap biomassa. Padahal kalau bioenergi diberi insentif harga, misalnya dinaikkan sedikit, ini bisa lebih solutif,” katanya.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa penggunaan biomassa melalui program co-firing menjadi langkah strategis untuk menurunkan emisi tanpa membangun pembangkit baru.

Hingga 2025, PLN telah menerapkan co-firing di 48 PLTU. “Kami mencoba menghijaukan listrik yang dihasilkan PLTU dengan co-firing biomassa. Kontribusinya signifikan dalam mengurangi emisi karena menggantikan sebagian batu bara dengan bahan bakar terbarukan,” jelas Hokkop.

Ia memaparkan besarnya potensi biomassa Indonesia yang bersumber dari limbah pertanian, lahan konsesi, hingga limbah perkebunan.

Baca juga : Pertamina Perkuat Sektor Hulu, 7 Anak Usaha Dominasi Produksi Migas Nasional

Namun, distribusi bahan baku yang tersebar, musim hujan, standar kualitas yang belum seragam, serta infrastruktur logistik menjadi tantangan.

“Selain itu akses dari hulu ke pembangkit tidak selalu ideal dan dibutuhkan mekanisme handling dan mixing yang lebih detail agar tidak mengganggu operasional PLTU,” lanjutnya.

Hokkop menekankan perlunya penguatan kualitas biomassa agar stabilitas operasi PLTU tetap terjaga, terutama pada rasio co-firing yang lebih tinggi.

Tantangan transportasi darat, kebutuhan pengeringan, dan mekanisme mixing juga menjadi faktor pembatas.

Untuk jangka panjang, PLN EPI menyiapkan pengembangan pasokan biomassa berbasis penanaman guna memastikan keberlanjutan suplai.

Baca juga : PLN EPI Perkuat Ekosistem Bioenergi lewat Kolaborasi Swasta dan Koperasi

Kolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem bioenergi nasional.

“Untuk meng unlock potensi bioenergi, kita memerlukan dukungan regulasi, penguatan supply chain, serta keterlibatan semua pemangku kepentingan,” ujar Hokkop.

Workshop ini turut menghadirkan Komisaris Utama PLN, Prof. Burhanuddin Abdullah, yang menekankan pentingnya inovasi teknologi dan efisiensi rantai pasok demi memperkuat kemandirian energi berbasis sumber daya domestik.

Anggota Dewan Energi Nasional, Dina Nurul Fitria, menegaskan bahwa integrasi riset, peningkatan investasi, dan standarisasi teknologi harus menjadi prioritas untuk mempercepat pemanfaatan energi terbarukan, khususnya biomassa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.