Dark/Light Mode

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Optimalisasi CNG–LNG Nasional

Kamis, 4 Desember 2025 15:40 WIB
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Optimalisasi CNG–LNG Nasional

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam rangka mendukung optimalisasi pemanfaatan gas untuk menjaga ketahanan energi nasional, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terbuka untuk pemanfaatan bersama fasilitas liquefied natural gas (LNG) dan compressed natural gas (CNG) bagi sektor industri dan komersial apabila disetujui oleh pemerintah.

Hal ini disampaikan Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto dalam Talkshow Future Gas Economy 2025: Strengthening The National CNG & LNG Framework yang diselenggarakan Asosiasi Perusahaan Pengeboran Minyak, Gas dan Panas Bumi Indonesia (ASPEBINDO) dan Asosiasi Pemasok dan LNG/CNG Indonesia (APLCNGI) di Jakarta.

Rakhmad menekankan bahwa optimalisasi pemanfaatan gas nasional, baik CNG maupun LNG, hanya dapat dicapai melalui kolaborasi erat lintas sektor antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan pelaku usaha.

“Optimalisasi gas nasional hanya tercapai jika seluruh mata rantai bergerak bersama antara sektor hulu (upstream), midstream dan hilir (downstream) untuk menciptakan efisiensi harga gas melalui peningkatan utilisasi infrastruktur yang sekaligus membuka pasar baru pengguna gas termasuk smelter, industri, dan komersial,” ujarnya.

Rakhmad juga menjelaskan kesiapan PLN EPI membuka akses fasilitas LNG dan CNG bagi industri dan komersial apabila pemerintah memberikan fleksibilitas alokasi gas nasional.

Baca juga : Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh

Saat ini, empat fasilitas CNG (CNG plant) PLN di Tambak Lorok, Gresik, Grati, dan Muara Tawar memiliki kapasitas sekitar 70 billion British thermal unit per day (BBTUD), atau lebih besar dari pangsa pasar CNG nasional yang saat ini berjumlah 40 BBTUD, namun belum termanfaatkan secara optimal.

Jam idle pada fasilitas CNG tersebut dapat dimanfaatkan industri jika alokasi gas diperluas. Dengan optimalisasi fasilitas CNG, kontraktor hulu minyak dan gas (migas) dapat meningkatkan produksinya, sementara PLN EPI dan distributor CNG akan mendapatkan efisiensi.

Pada akhirnya, pengguna menikmati gas yang lebih murah dibanding sumber energi lainnya, serta muncul pasar baru gas bumi nasional.

Sebagai pembeli LNG terbesar ke-25 di dunia dengan volume 5,5 juta ton LNG per tahun, PLN EPI memiliki skala volume kontrak yang tidak dimiliki pembeli lain seperti industri, smelter, dan komersial.

Oleh karena itu, Rakhmad menilai berbagi infrastruktur menjadi solusi saling menguntungkan agar biaya LNG dan CNG tetap efisien dan industri tidak harus membangun terminal CNG atau LNG secara mandiri.

Baca juga : PB HMI Sarankan Pemerintah Tetapkan Banjir Sumatera Jadi Bencana Nasional

Ketua Umum ASPEBINDO Anggawira memaparkan hasil riset bersama Lemigas (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi) yang menunjukkan adanya potensi besar dalam pengembangan CNG dan LNG di Indonesia, namun dibarengi kebutuhan perbaikan struktural, terutama terkait pasokan dan kepastian investasi.

Dari sisi hulu, Deputi Keuangan dan Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kurnia Chairi menegaskan bahwa seluruh proyek gas harus memiliki keekonomian kuat, agar produksi berkelanjutan dan memberikan multiplier effect bagi industri domestik.

Pada sisi hilir, Ketua Umum APLCNGI Dian Kuncoro menjelaskan bahwa pelaku usaha terus mengembangkan fasilitas small-scale LNG plant serta memperluas jaringan outlet CNG.

Namun, kepastian pasokan dan penyeragaman harga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) masih menjadi kebutuhan utama untuk memperkuat investasi hilir, terutama untuk kebutuhan beyond pipeline.

Melengkapi pandangan tersebut, perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Noor Arifin Muhammad menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh peningkatan lifting migas sebagai upaya menjaga ketahanan energi nasional sesuai arahan Menteri ESDM.

Baca juga : Menperin: Penguatan SDM Vokasi Jadi Kunci Industrialisasi Nasional

Sementara itu, Direktur Utama PT Gagas Energi Indonesia Santiaji Gunawan menekankan pentingnya satu visi antar seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai kemandirian energi nasional.

Talkshow ini menyimpulkan bahwa percepatan pemanfaatan gas nasional membutuhkan tiga pilar utama, yakni keekonomian proyek hulu, kepastian pasokan dan alokasi, serta pemanfaatan infrastruktur bersama.

Sinergi dari seluruh pemangku kepentingan menjadi fondasi penting bagi transisi energi dan penguatan kemandirian energi Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.