Dark/Light Mode

Ridha Beberkan Strategi INA Jadikan Jateng Pusat Hilirisasi Baterai Dunia

Rabu, 10 Desember 2025 10:04 WIB
Foto: INA.
Foto: INA.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembangunan fasilitas katoda LFP di Kendal kini menjadi proyek hilirisasi paling agresif yang tengah digeber Indonesia.

CEO INA, Ridha Wirakusumah, menyebut proyek katoda LFP di Kendal sebagai langkah strategis yang akan menentukan posisi Indonesia dalam peta industri kendaraan listrik dunia.

Ia mengatakan bahwa investasi katoda LFP di Kendal ini merupakan bagian dari portofolio jumbo INA. Ridha menegaskan bahwa kehadiran katoda LFP di Kendal memicu kompetisi global karena menjadi salah satu pabrik LFP terbesar di luar China.

Proyek katoda LFP di Kendal itu berdiri melalui kemitraan Changzhou Liyuan New Energy Technology dengan Indonesia Investment Authority (INA).

Ridha menjelaskan bahwa Fase I sudah tuntas dengan kapasitas 30.000 ton per tahun dan bahkan mulai mengekspor. Ia mengatakan Fase II yang menargetkan produksi 90.000 ton hampir selesai dalam dua bulan ke depan.

Baca juga : Diberhentikan Sementara, Bupati Aceh Selatan Kena Batunya

Ia menambahkan, setelah dua fase tersebut, INA bahkan sudah membeli lahan untuk Fase III sebagai sinyal percepatan yang tidak main-main.

“Pabrik Kendal itu luar biasa, karena yang 30.000 ton sudah selesai dan sudah ekspor, lalu yang 120.000 ton lagi tinggal dua bulan rampung,” ujarnya di KEK Industropolis Batang, Selasa (9/12/2025). 

Ridha menjelaskan, ekspansi Fase II membutuhkan investasi sekitar USD 200 juta. Menurutnya, seluruh produksi katoda di pabrik ini sudah dikontrak oleh pembeli besar, mulai dari Ford, Tesla, LG Energy Solution, hingga Stellantis.

“Seluruh produksi ini seratus persen ekspor, dan semua pembeli besar sudah mengunci volume mereka,” tuturnya.

Ridha juga menekankan bahwa transfer teknologi akan berjalan penuh, karena para ahli dari China dan Korea akan membimbing tenaga kerja Indonesia hingga mandiri.

Baca juga : Blue Generation Donasikan Perangkat Belajar dari Bahan Daur Ulang

“Mulai dari teknologi, riset, sampai para insinyurnya nanti dari Indonesia semua, karena alih teknologi berjalan cepat,” katanya.

Ia menyebut Jawa Tengah menjadi magnet investasi karena faktor produksi yang kompetitif.

“Kelistrikan murah, material mentah tersedia, air baik, logistik di Kendal mendukung, dan pemerintah sangat suportif,” jelasnya.

Ridha menegaskan bahwa para investor melihat Indonesia sebagai basis produksi jangka panjang yang stabil.

“Tenaga kerja Indonesia, teknologi masuk, listrik baik, ongkos produksi juga baik,” tutur Ridha. 

Baca juga : Pakar ITB Beberkan Solusi Ketahanan Bencana di Sumatera, Ini Poin Pentingnya

Ke depan, INA menargetkan ekspansi industri baterai tidak berhenti hanya pada katoda. Menurutnya, INA tengah menyiapkan strategi untuk merambah komponen lain seperti anoda dan separator.

Ridha menyebut langkah itu penting agar Indonesia punya rantai pasok baterai EV yang lengkap dan kompetitif. Ia optimistis strategi hilirisasi agresif ini akan membawa Indonesia menjadi pusat produksi baru di Asia.

Bahkan, katanya, Indonesia punya peluang besar untuk menggeser dominasi China dalam industri baterai global.

"Ini bukan sekadar investasi, ini lompatan besar menuju kemandirian energi nasional,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.