Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bos OJK: Sektor Jasa Keuangan Tahan Banting Di Tengah Tekanan Global
Kamis, 11 Desember 2025 20:47 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga. Hal ini didukung oleh kondisi perekonomian global yang relatif stabil, meskipun sejumlah indikator menunjukkan moderasi di beberapa kawasan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, terutama di negara-negara maju. Sementara itu, kinerja perdagangan dunia cenderung mendatar.
Kondisi keuangan global juga dinilai lebih longgar seiring arah kebijakan moneter yang semakin akomodatif, meski sentimen pasar menuju 2026 tetap berhati-hati akibat meningkatnya risiko fiskal dan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang.
“Sepanjang 2025, sektor jasa keuangan secara umum menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai dinamika global dan domestik,” ujar Mahendra dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) 27 November 2025, yang disampaikan secara virtual dari Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Mahendra menjelaskan perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan beragam. Setelah penutupan pemerintahan selama 43 hari, pasar tenaga kerja AS mulai termoderasi meski klaim pengangguran masih berada di level rendah.
Baca juga : OJK Beri Keringanan Kredit Buat Korban Banjir Bandang Aceh Dan Sumatera
“The Fed kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, namun tetap memberikan sinyal hawkish di tengah tekanan inflasi,” katanya.
Di Eropa, indikator perekonomian dari sisi permintaan maupun penawaran cenderung stagnan. Risiko kawasan meningkat dipicu gejolak pasar keuangan Inggris akibat kekhawatiran keberlanjutan fiskal, serta di Prancis karena instabilitas politik dan penurunan peringkat utang.
Sementara di China, beberapa indikator utama permintaan berada di bawah ekspektasi pasar. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 melambat, dengan konsumsi rumah tangga yang masih tertahan. Penjualan ritel dan aktivitas properti juga menunjukkan perlambatan.
Di dalam negeri, perekonomian Indonesia tetap solid. Pada kuartal III 2025, ekonomi tumbuh 5,04 persen (yoy), sementara PMI manufaktur masih berada di zona ekspansi.
“Namun, perkembangan permintaan domestik perlu dicermati karena masih membutuhkan dukungan lebih lanjut, seiring moderasi inflasi inti, kepercayaan konsumen, serta tren penjualan ritel, semen, dan kendaraan,” tambah Mahendra.
Baca juga : TBIG Laboratory: Pusat Pelatihan dan Standarisasi Teknologi Telekomunikasi
Di pasar modal, IHSG sempat tertekan pada akhir kuartal I 2025 akibat sentimen negatif perdagangan global. Namun, indeks mampu pulih berkat kebijakan adaptif OJK dan BEI, seperti relaksasi buyback tanpa RUPS, penyesuaian batasan trading halt, dan penerapan asymmetric auto rejection.
“Setelah periode volatilitas tersebut, IHSG menunjukkan resiliensi tinggi dan mencatat sejumlah rekor tertinggi sepanjang 2025, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga,” ujarnya.
Pada akhir November 2025, IHSG ditutup di level 8.508,71, naik 4,22 persen secara bulanan (mtm) dan 20,18 persen sejak awal tahun (ytd). Pada 26 November 2025, IHSG kembali mencetak All-Time High di level 8.602,13, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 15.711 triliun.
Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit perbankan dan pembiayaan mengalami moderasi dibanding tahun sebelumnya, terutama pada segmen yang terdampak perlambatan sektor riil. Namun, profil risiko perbankan tetap terjaga dengan likuiditas memadai.
Pada Oktober 2025, kredit tumbuh 7,36 persen (yoy) menjadi Rp 8.220,21 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh tinggi 11,48 persen (yoy) menjadi Rp 9.756,6 triliun. Sementara itu, premi asuransi—khususnya asuransi jiwa—tumbuh lebih rendah dibanding tahun lalu.
Baca juga : Berantas Mafia Tanah Sampai Ke Akarnya
“Namun, ketahanan industri jasa keuangan tetap kuat, ditopang permodalan yang solid, kecukupan pencadangan, serta profil risiko yang terkendali,” jelas Mahendra.
Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi modal untuk memperluas ruang ekspansi sektor jasa keuangan, didukung kebijakan pendalaman pasar, perluasan akses pembiayaan, serta penguatan integritas dan tata kelola di seluruh SJK.
“OJK senantiasa mengarahkan sektor jasa keuangan untuk berkontribusi optimal terhadap program prioritas Pemerintah, dengan memastikan penerapan manajemen risiko dan tata kelola yang baik guna menjaga stabilitas sektor,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya