Dark/Light Mode

Harga Beras di Daerah Aman dan Terkendali

Minggu, 28 Desember 2025 21:38 WIB
Pedagang beras di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Pedagang beras di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berhasil mengendalikan dan menurunkan harga beras di berbagai daerah, termasuk Papua, melalui pengawasan ketat distribusi dan penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pengendalian dilakukan untuk menjaga harga beras di tingkat konsumen agar tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Langkah tersebut ditempuh melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Harga Beras sejak 20 Oktober 2025. Satgas ini menjadi instrumen utama Pemerintah dalam mengawasi rantai distribusi hingga penjualan beras di lapangan.

“Ini merupakan hasil kolaborasi apik yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah,” kata Gusti, seperti dikutip dalam keterangan resmi, Minggu (28/12/2025).

Satgas Pengendalian Harga Beras dibentuk berdasarkan Keputusan Kepala Bapanas Nomor 375 Tahun 2025. Dalam dua bulan berjalan, Satgas telah melaksanakan 45.715 kegiatan pemantauan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.

Baca juga : Jelang Tahun Baru, Arus Merak–Bakauheni Lancar Dan Terkendali

Selain itu, Satgas juga memberikan teguran tertulis kepada 987 pelaku usaha perberasan yang dinilai tidak mematuhi ketentuan harga. Pengawasan melibatkan Bapanas, Polri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Pemerintah Daerah, serta Perum Bulog.

“Dalam dua bulan terakhir, kami menerapkan pengawasan intensif ke seluruh lini pelaku usaha perberasan. Tujuannya agar harga beras di masyarakat lebih terkendali,” ujar Ketut.

Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak positif terhadap harga beras medium dan premium. Sejak Satgas dibentuk, harga beras di sebagian besar zona HET mengalami penurunan, termasuk di Zona 3 yang mencakup wilayah Papua.

“Zona 3 juga sudah mengalami penurunan harga, meski masih perlu upaya lanjutan agar mendekati HET karena tantangan geografis,” tambahnya.

Berdasarkan data Panel Harga Pangan, rata-rata harga beras premium nasional per 24 Desember 2025 menurun dibandingkan posisi 20 Oktober 2025. Di Zona 1, harga menjadi Rp 14.828 per kilogram, Zona 2 Rp 16.025 per kilogram, dan Zona 3 turun signifikan menjadi Rp 17.916 per kilogram.

Baca juga : SKK Migas Pacu TKDN, Dampak Ekonomi Daerah Kian Terasa

Penurunan juga terjadi pada beras medium. Rata-rata harga di Zona 1 turun menjadi Rp 13.067 per kilogram, Zona 2 Rp 13.735 per kilogram, dan Zona 3 menjadi Rp 15.566 per kilogram.

Untuk mengatasi kendala distribusi di wilayah dengan kondisi geografis sulit, Kabareskrim Polri Komjen Syahardiantono selaku Ketua Pengarah Satgas menyatakan, pihaknya membantu distribusi beras SPHP melalui optimalisasi gudang filial.

“Biaya angkut transportasi beras di Papua cukup tinggi, bahkan bisa dua kali lipat. Ini karena kondisi geografis dengan kontur pegunungan dan keterbatasan akses moda transportasi,” kata Syahardiantono.

Ia menjelaskan, Satgas telah mendukung distribusi beras SPHP ke 32 gudang filial di Papua Raya agar masyarakat dapat membeli beras sesuai HET Zona 3 sebesar Rp 13.500 per kilogram.

“Harapannya, masyarakat Papua Raya bisa menikmati beras SPHP sesuai harga yang telah ditetapkan, yakni Rp 13.500 per kilogram,” ujarnya.

Baca juga : BBM Berhasil Dipasok ke 4 SPBU Bener Meriah Aceh, Medan Sulit Teratasi

Dukungan Satgas berdampak pada peningkatan realisasi distribusi beras SPHP di Papua. Hingga 19 Oktober 2025, penyaluran beras SPHP Bulog regional Papua dan Papua Barat tercatat 11.162 ton. Setelah pendampingan Satgas, realisasi per 24 Desember 2025 meningkat 71,35 persen menjadi 19.126 ton.

Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, penurunan harga beras merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak dalam Satgas Pengendalian Harga Beras.

“Capaian ini harus terus kita jaga bersama. Tidak ada alasan harga beras tinggi dan melebihi HET. Stok beras kita besar. Bulog memiliki cadangan beras 3,5 juta ton, ini yang tertinggi. Masyarakat harus menikmati harga beras yang baik,” kata Amran.

Ia meminta pengawasan terhadap produsen, distributor, toko besar, dan ritel modern dilakukan secara konsisten agar stabilitas harga beras tetap terjaga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.