Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Hilirisasi Bauksit Dipercepat untuk Perkuat Rantai Pasok Industri Nasional
Rabu, 7 Januari 2026 17:13 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah semakin mengintensifkan upaya pemanfaatan dan hilirisasi bauksit guna memperkuat rantai pasok industri nasional.
Bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium dinilai sebagai bahan baku strategis bagi berbagai sektor, mulai dari manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga energi terbarukan.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan cadangan bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan 2,7 miliar ton di antaranya berstatus siap ditambang.
Besarnya cadangan tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi berbasis sumber daya mineral. Namun, pemanfaatan cadangan bauksit nasional dinilai belum optimal.
Selama ini, produksi masih didominasi ekspor bijih mentah. Produksi bijih bauksit nasional tercatat mencapai 31,8 juta ton pada 2022, kemudian turun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 setelah larangan ekspor bahan mentah diberlakukan, dan kembali menurun menjadi 16,8 juta ton pada 2024.
Baca juga : DPR Dukung Insentif PPN DTP Perumahan, Minta Perkuat Industri Dalam Negeri
Penurunan produksi tersebut menegaskan urgensi percepatan pembangunan fasilitas pengolahan bauksit di dalam negeri.
Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis untuk menciptakan nilai tambah, sekaligus memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai program hilirisasi bauksit nasional memasuki fase krusial pada 2026.
Menurut dia, Indonesia perlu mempercepat transformasi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah.
“Indonesia mulai menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Pola lama pertambangan ekstraktif mulai ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan berbagai komoditas mineral di dalam negeri,” ujar Ferdy.
Baca juga : Resolusi Tahun Baru 2026, Demokrat Konsisten Perkuat Demokrasi
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mengoptimalkan peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam mengintegrasikan rantai hilirisasi bauksit, mulai dari pengolahan menjadi alumina hingga aluminium.
Integrasi ini dinilai penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri nasional tanpa ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Aluminium hasil pengolahan terintegrasi tersebut diharapkan menjadi fondasi penguatan rantai pasok industri, termasuk sektor manufaktur, transportasi, serta pengembangan energi terbarukan.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung Irwandi Arif. Ia menjelaskan, kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi global.
“Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” ujar Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia.
Baca juga : Didukung Kebijakan Pemerintah, Industri Keramik Nasional Melesat Di 2025
Kajian International Aluminium Institute juga menyebutkan bahwa kapasitas pemurnian alumina menjadi indikator penting dalam meningkatkan daya saing industri suatu negara.
Dengan terealisasinya pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik maupun global.
Ke depan, penguatan proyek hilirisasi bauksit diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan cadangan nasional, memperkuat struktur industri dalam negeri, serta menjadikan aluminium sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi dan industrialisasi Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya