Dark/Light Mode

Didukung Kebijakan Pemerintah, Industri Keramik Nasional Melesat Di 2025

Sabtu, 3 Januari 2026 10:33 WIB
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto. (Foto: DIT/Rakyat Merdeka)
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto. (Foto: DIT/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri keramik nasional menunjukkan sinyal kebangkitan yang semakin kuat sepanjang 2025.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mencatat kinerja sektor ini cukup menggembirakan, ditandai dengan meningkatnya tingkat utilisasi produksi dari 66 persen pada 2024 menjadi 73 persen pada 2025.

Peningkatan utilisasi tersebut turut mendorong pertumbuhan volume produksi. Sepanjang 2025, produksi keramik nasional bertambah sekitar 62 juta meter persegi atau tumbuh 15 persen dibandingkan realisasi produksi pada 2024.

Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto menyampaikan, optimisme terhadap prospek industri keramik ke depan. Bahkan, Indonesia mencatatkan capaian membanggakan di tingkat global.

Baca juga : PIS-PAL Tandatangani MoU, Perkuat Armada dan Industri Maritim Nasional

“Indonesia menjadi satu-satunya negara produsen keramik, baik di Asia, Eropa, maupun Amerika, yang mampu mencatatkan pertumbuhan tingkat utilisasi produksi sekaligus peningkatan kapasitas produksi sepanjang 2025,” ujar Edy dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (3/1/2025).

Menurut Edy, capaian tersebut tidak terlepas dari peran aktif pemerintah melalui berbagai kebijakan proindustri, antara lain penerapan kebijakan antidumping, safeguard keramik, serta pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk keramik. Kebijakan tersebut dinilai efektif menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah tekanan global.

Ia juga menilai kepemimpinan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor manufaktur, khususnya industri keramik nasional.

“Beliau merupakan sosok visioner dan tepat memimpin Kementerian Perindustrian. Kebijakan yang diciptakan sangat strategis, tepat, dan proindustri, seperti perpanjangan HGBT, penerapan SNI wajib keramik, serta rencana kebijakan entry point untuk produk impor. Beliau juga terbuka dan mau mendengarkan langsung keluhan pelaku industri,” tegas Edy.

Baca juga : Kawasan Industri Bertambah Jadi 175 Lokasi, Investasi Melonjak 9,26 Persen

Memasuki 2026, ASAKI memproyeksikan tingkat utilisasi produksi industri keramik akan meningkat hingga 80 persen, dengan target volume produksi sekitar 537 juta meter persegi. Angka tersebut tumbuh sekitar 13 persen dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 474,5 juta meter persegi.

Optimisme tersebut tercermin dari tren positif pada kuartal IV-2025. Tingkat utilisasi produksi tercatat meningkat dari 75 persen pada Oktober, menjadi 76 persen pada November, dan mencapai 78 persen pada Desember 2025.

ASAKI juga menaruh harapan besar pada realisasi Program 3 Juta Unit Rumah pada 2026. “Jika program tersebut berjalan optimal, tingkat utilisasi produksi industri keramik nasional berpotensi melonjak dari target 80 persen menjadi 96 persen,” kata Edy.

Namun demikian, proyeksi pertumbuhan 2026 masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, salah satunya terkait pasokan gas. Saat ini, industri keramik di Jawa bagian barat hanya memperoleh sekitar 60 persen pasokan gas, sementara di Jawa bagian timur berkisar 50–55 persen dengan harga HGBT sebesar 7 dolar AS per MMBTU.

Baca juga : Kemenperin Targetkan Industri Pengolahan Tumbuh 5,51 Persen Di 2026

Kekurangan pasokan tersebut harus dipenuhi melalui skema surcharge dengan harga mencapai 15,4 dolar AS per MMBTU, yang berdampak pada peningkatan biaya produksi.

Selain itu, ASAKI juga menyoroti lonjakan impor keramik sepanjang 2025, terutama dari India yang meningkat 55 persen, Vietnam 32 persen, dan Malaysia melonjak hingga 210 persen. Untuk menghadapi tekanan tersebut, ASAKI akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India pada semester pertama 2026, sekaligus mengumpulkan data indikasi transhipment produk asal China melalui Malaysia.

Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah kelangkaan bahan baku tanah untuk produksi keramik, khususnya di Jawa Barat, menyusul pencabutan sejumlah izin pertambangan. ASAKI berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius agar kelancaran dan kecukupan bahan baku industri tetap terjaga.

“Dengan peluang besar dan tantangan yang kompleks, tahun 2026 akan menjadi momentum krusial bagi industri keramik nasional untuk melangkah menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” tutup Edy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.