Dark/Light Mode

Ekonomi Indonesia Tangguh Di Tengah Gejolak Global, Ini 6 Indikatornya

Kamis, 8 Januari 2026 16:24 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: YouTube)
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, perekonomian Indonesia tetap resilien atau tangguh di tengah gejolak global global. Hal itu terlihat dari enam indikator penting yang disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/12026). Berikut rinciannya:

1. Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Diprediksi 5,45 Persen

Purbaya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2025 mencapai 5,45 persen, sedikit meleset dari target 5,6 hingga 5,7 persen. 

Kinerja ekonomi Indonesia di sepanjang 2025 menunjukkan fluktuasi:

  • Kuartal I: 4,87 persen
  • Kuartal II: 5,12 persen
  • Kuartal III: 5,04 persen

"Naik jadi 5,45 persen kalau nggak ada perubahan. Di bawah janji saya, tapi lumayan. Yang jelas, momentum pembalikan arah ekonomi sudah terjadi," ujar Purbaya.

2. Inflasi Desember 2025 Terkendali di 2,92 Persen

Baca juga : Prabowo Ingatkan Risiko Impor Pangan di Tengah Konflik Global

Inflasi pada Desember 2025 relatif terkendali di angka 2,92 persen. Naik tipis dari 2,72 persen pada November 2025. Meski baik, angka ini masih sesuai target inflasi pemerintah 2,5 persen +/- 1.

3. Surplus Neraca Perdagangan 38,5 Dolar AS

Neraca perdagangan Januari hingga November 2025 mencatat surplus 38,5 miliar dolar AS, tumbuh 31,8 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2024. 

"Biar global gonjang-ganjing, ternyata ekonomi kita aman. Dampaknya tidak negatif, malah cenderung positif," jelas Purbaya.

4. PMI Manufacture di Zona Ekspansi 51,2

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufacture pada Desember 2025 tercatat 51,2 atau berada di zona ekspansi (>50). Sebelumnya, pada November 2025, sempat menyentuh angka 53,3. 

Baca juga : Ekonomi Indonesia Tahun 2026 Diprediksi Stabil, Ini 7 Alasannya

"Turun sedikit. Mungkin karena libur akhir tahun, aktivitas manufaktur agak sedikit melambat. Tapi saya yakin, akan naik lagi ke level yang lebih kuat," urai Purbaya.

5. Tren Yield SBN 10 Tahun Turun ke 5,9 Persen

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun memperlihatkan tren penurunan hingga ke angka 5,9 persen. Sempat naik ke 6,3, namun turun lagi ke 6,01 atau turun 101 basis poin dari 7,02 persen di posisi akhir tahun 2024.

"Jadi, surat utang kita lebih dipercaya market, sehingga yield-nya bisa turun. Artinya, ongkos kami untuk mengeluarkan surat utang lebih murah 1 persen dibanding akhir tahun 2024," terang Purbaya.

6. IHSG Menguat, Tembus 9.000 Pada Sesi Intraday

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Desember 2025, berada di angka 8.646,9. Naik 22,1 persen dibanding angka 8.646,9 pada Desember 2024. Di sesi perdagangan intraday pada Kamis (8/1/12026), IHSG bahkan tembus 9.000.

Baca juga : Ekonomi Indonesia 2025: Tangguh, Stabilitas Terjaga, Pertumbuhan Terus Menguat

"Jadi, dari sisi sentimen perekonomian, dari kalangan investor domestik maupun asing sudah kembali. Itu pasti, karena mereka melihat juga bahwa kita kerja serius. Dampaknya ke perekonomian sudah mulai kelihatan. Sehingga, di akhir kuartal tahun lalu, ekonomi sudah berbalik arah," beber Purbaya. 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.