Dark/Light Mode

Gejolak Dunia Kerek Biaya Logistik, TMMIN Pastikan Ekspor Ke Venezuela Aman

Jumat, 9 Januari 2026 22:18 WIB
Foto: DIT/Rakyat Merdeka
Foto: DIT/Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mewaspadai potensi dampak ketegangan geopolitik global terhadap kenaikan biaya logistik dan gangguan rantai pasok, meskipun aktivitas ekspor kendaraan ke Venezuela hingga saat ini masih berjalan normal.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan dinamika geopolitik dunia dapat berimplikasi langsung terhadap industri otomotif global, khususnya dari sisi logistik dan distribusi komponen lintas negara.

“Yang harus kita waspadai itu cost logistik. Biasanya kalau ada gejolak dunia, biaya logistik akan naik. Contohnya saat krisis di Timur Tengah, jalur pengiriman harus memutar hingga Tanjung Harapan, dan itu bisa membuat biaya logistik naik sampai dua kali lipat,” kata Bob saat ditemui di Bandung, Kamis (8/1/2026).

Baca juga : Kemlu RI Pastikan WNI Di Venezuela Aman Pasca Serangan AS

Ia menjelaskan industri otomotif saat ini sangat bergantung pada rantai pasok global, terutama untuk material strategis seperti baterai dan komponen kendaraan elektrifikasi. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya logistik sekaligus harga produk otomotif.

Bob menambahkan, kendaraan yang diekspor dari Indonesia ke Venezuela berada pada segmen menengah ke bawah (middle-low segment), yang masih memiliki permintaan pasar relatif stabil.

Sementara itu, Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto memastikan bahwa hingga kini ekspor kendaraan ke Venezuela belum terdampak langsung oleh isu geopolitik global. Ia menegaskan komunikasi antara TMMIN dengan mitra usaha serta otoritas di Venezuela masih berjalan dengan baik.

Baca juga : Martin Manurung Kirimkan Bantuan Logistik ke Tapanuli Tengah dan Sibolga

“Sejauh ini kami sudah berkomunikasi dengan pihak Venezuela. Everything is okay. Pemerintahnya juga tidak menerapkan sistem baru, jadi ekspor masih berjalan normal,” ujar Nandi.

Menurut Nandi, tantangan yang perlu diantisipasi ke depan lebih berkaitan dengan kebijakan tarif dan perdagangan antarnegara. Ia menyebut persoalan tarif bukan hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga negara lain yang belum memiliki perjanjian dagang dengan negara tujuan ekspor.

“Isu ke depan itu soal tarif. Tapi ini bukan hanya kita. Negara lain seperti China juga menghadapi hal yang sama jika tidak punya trade agreement,” katanya.

Baca juga : Pertamina Kerahkan Helikopter Untuk Antar Logistik Ke Aceh Tamiang

Untuk itu, TMMIN bersama pemerintah Indonesia terus mendorong penguatan perjanjian perdagangan, khususnya dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin. Nandi menyebut Indonesia telah memiliki perjanjian dagang dengan Peru, meskipun masih terdapat sejumlah kendala teknis yang sedang dibahas lebih lanjut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.