Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Mobil hybrid dinilai memiliki peluang pertumbuhan signifikan di pasar otomotif nasional tanpa harus menggerus minat terhadap mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Temuan ini didasarkan pada hasil riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia terkait preferensi konsumen dan elastisitas harga kendaraan bermotor.
Peneliti LPEM UI Syahda Sabrina mengatakan penurunan harga mobil hybrid berpotensi mendorong peralihan konsumen dari mobil bermesin bensin (ICE) ke hybrid, tanpa menjadikan mobil listrik sebagai pesaing langsung.
“Dari simulasi survei, jika harga mobil hybrid turun sekitar 10 persen, konsumen yang paling banyak beralih adalah pengguna mobil bensin. Dampaknya terhadap mobil listrik relatif kecil,” kata Syahda dalam pemaparan hasil riset di Bandung, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan survei terhadap 1.511 calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan, sekitar 81 persen responden masih memilih mobil berbahan bakar bensin. Sementara itu, pangsa kendaraan elektrifikasi (xEV) mencapai 19 persen, dengan mobil hybrid dan plug-in hybrid memiliki minat lebih tinggi dibandingkan mobil listrik murni.
Baca juga : Mengenal John Herdman, Pelatih Baru Timnas Indonesia
Menurut Syahda, peralihan dari mobil bensin ke hybrid berkisar antara 8,1 hingga 13,6 persen apabila terjadi penurunan harga mobil hybrid sebesar 10 persen. Adapun peralihan dari mobil listrik ke hybrid relatif kecil secara jumlah, sehingga tidak berpotensi menghambat pertumbuhan pasar BEV.
Ia menjelaskan, karakteristik konsumen mobil listrik cenderung berbeda dengan pengguna mobil bensin. Konsumen BEV umumnya lebih mempertimbangkan teknologi baru dan efisiensi energi, sehingga tidak mudah berpindah hanya karena faktor harga pada segmen hybrid.
“Secara nominal, jumlah konsumen yang berpindah dari mobil listrik ke hybrid sangat kecil. Artinya, hybrid bisa tumbuh sebagai jembatan transisi tanpa menjadi kompetitor langsung mobil listrik,” ujarnya.
Hasil riset juga menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap mobil bekas semakin menurun seiring semakin baru teknologi kendaraan. Pada segmen mobil listrik, hanya sekitar 38 persen responden yang bersedia membeli BEV bekas, sementara mayoritas memilih membeli unit baru.
Baca juga : Indonesia Tak Impor Jagung
Kondisi tersebut membuka peluang bagi mobil hybrid sebagai teknologi transisi, terutama di tengah keterbatasan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di sejumlah wilayah, khususnya di luar Pulau Jawa.
Syahda menilai, kebijakan insentif harga dan lokalisasi produksi mobil hybrid berpotensi mempercepat peralihan konsumen dari kendaraan bensin ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan, tanpa mengganggu agenda jangka panjang pengembangan mobil listrik nasional.
“Hybrid dapat menjadi solusi antara untuk menurunkan emisi dan konsumsi BBM, sambil menunggu kesiapan ekosistem mobil listrik yang lebih matang,” kata Syahda.
Riset LPEM UI tersebut menegaskan bahwa strategi pengembangan kendaraan elektrifikasi perlu mempertimbangkan segmentasi pasar dan perilaku konsumen, agar pertumbuhan mobil hybrid dan mobil listrik dapat berjalan beriringan dalam mendorong transformasi industri otomotif nasional.
Baca juga : Telkomsel Dan ITB Resmikan AI Innovation Hub Pertama Di Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya