Dark/Light Mode

KPI dan PT Garam Bangun Pabrik di Balikpapan, Tekan Impor Rp 2,5 Triliun

Kamis, 29 Januari 2026 11:51 WIB
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose di Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Foto,: Kilang Pertamina Internasional)
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose di Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Foto,: Kilang Pertamina Internasional)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) resmi menjalin sinergi dengan PT Garam untuk membangun pabrik pemrosesan garam industri di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Langkah strategis ini diproyeksikan mampu menekan angka impor garam nasional hingga 150 juta dollar AS atau setara Rp 2,5 triliun.

Kerja sama tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Proyek ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari kilang RDMP Balikpapan sebagai bahan baku utama.

Baca juga : Dorong KPR, Pembiayaan Griya BSI Tembus Rp 69,98 Triliun

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menyebut kolaborasi ini sebagai tonggak sejarah dalam menciptakan kemandirian ganda bagi Indonesia.

“Kami sangat bangga dan mendukung kerja sama ini. Ibarat mobil, kolaborasi antara KPI dan PT Garam adalah double gardan kemandirian. Tak hanya kemandirian energi yang menjadi domain Pertamina, tapi juga akan menciptakan pangan,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).

Target Produksi 1 Juta Ton per Tahun

Pabrik garam di Balikpapan ini direncanakan memiliki kapasitas produksi hingga 1.000 KTA atau sekitar 1 juta ton per tahun.

Kehadiran pabrik ini diharapkan memberikan efek pengganda (multiplier effect), mulai dari pertumbuhan kawasan industri hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Baca juga : Wujud Bakti Ke Tanah Kelahiran, Bos HS Bangun Pabrik Di Lampung Timur

Abraham Mose, mengungkapkan bahwa kondisi air buangan dari kilang RDMP Balikpapan sangat potensial untuk diolah setelah dilakukan survei lapangan.

Langkah ini mendesak dilakukan mengingat kebutuhan garam nasional mencapai 5,7 juta ton per tahun, sementara produksi domestik saat ini masih terbatas.

“Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana memenuhi kebutuhan garam nasional sehingga Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegas Abraham Mose.

Dukungan Hilirisasi dan Target Ekonomi 8 Persen

Sinergi ini juga mendapat dukungan penuh dari Danantara. Managing Director 2 Danantara, Setyo Hantoro, menyatakan bahwa kerja sama ini sejalan dengan strategi hilirisasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

Baca juga : Pemegang Saham BBRI Terima Dividen Interim Rp20,6 Triliun Pada 15 Januari

“Dengan strategi ini, Danantara berharap sinergi antar-BUMN dapat memperkuat ketahanan pangan dan energi, sekaligus menjadikan Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat,” pungkas Setyo.

Proyek ini menjadi implementasi dari Peraturan Presiden (Perpres) No. 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.

Regulasi tersebut mewajibkan pemenuhan kebutuhan garam industri kimia dari produksi dalam negeri paling lambat pada 31 Desember 2027.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.